Yakuza, Vampir dan Kodok yang Jago Berkelahi

Katanya Takashi Miike mau kembali ke asal dengan mengeluarkan film-film slasher setelah beberapa tahun terakhir ini menghasilkan karya komedi seperti Undercover Agent Reiji atau Ace Attorney dan tahun lalu ada film horor berjudul Over Your Dead Body. Karena katanya tersebut, saya senang dan mempunyai harapan tinggi pada salah satu sutradara kesayangan dan genre slasher tercinta ini. Dimulai dengan film-nya yang berjudul Kamisama no Iu Tori (As the Gods Will) yang menghadirkan cerita mirip dengan battle royale tapi dengan monster berbentuk daruma-san dan kokeshi. Tidak akan pernah kulupakan ketika daruma-san mulai balik badan dan berkata “Darumaaaa-saaann…. gaaa…. korondaa~~!!” dan setiap anak yang bergerak kepalanya langsung pecah. Tapi memang kita tidak pernah boleh menaruh harapan tinggi pada sesuatu karena nantinya bisa saja kamu akan kecewa. Karena untuk filmnya yang terbaru ini saya menaruh harapan yang cukup tinggi, simply karena saya telah menunggu film ini dari tahun lalu, yang ternyata tidak seperti yang saya bayangkan untuk sebuah karya dari Miike-san.

Yakuza

Judul film-nya Yakuza Apocalypse, menghadirkan Hayato Ichihara dengan image yang garang, bukan pendek-pendek lucu bikin gemes, dan Kang Yayan Ruhian. Siapa juga yang tidak menaruh harapan tinggi, siapa pun pasti akan mengharapkan ada adegan pertarungan seru dengan banyak darah berceceran dimana-mana. Karena faktor ada Kang Yayan inilah filmnya jadi ditayangkan di bioskop Indonesia, walaupun saya sebenarnya takut dengan gunting sensor nantinya memotong satu adegan penting namun ternyata filmnya tidak sesadis Ichi The Killer.

Tadinya saya mau tulis sinopsis ceritanya disini tapi takut diprotes dianggap spoiler.

FIlm ini dimaksudkan sebagai film komedi dan slasher. Tapi sayangnya saya merasa film ini setengah matang dengan bumbu komedi yang tanggung dan gore yang tanggung. Pernyataan Miike-san tahun lalu mengenai kembalinya dia ke genre-genre lamanya dia terasa omong kosong belaka. Saya adalah penonton film Miike-san mulai dari jamannya Audition sampai sekarang, walaupun saya belum pernah menonton The Happiness of The Katakuris yang kabarnya menjadi salah satu mahakarya. Sebagai salah satu fans, saya tidak merasa terhibur dengan jalan cerita film ini. Beda ketika saya menonton Undercover Agent Reiji yang memang komedi atau pun Kamisama no Iu Tori yang penuh dengan gore. Sampai sekarang saya masih mengingat jalan ceritanya dan mencari-cari apa yang menarik hati saya dari film itu, kecuali Hayato Ichihara. Hingga akhir film, masih banyak pertanyaan yang ada di pikiran saya dan mengharapkan adanya sequel dari film ini sehingga pertanyaan itu dapat terjawab.

Dari sisi akting, satu-satunya yang bisa disorot adalah si bintang utama, Hayato Ichihara. Gara-gara menonton The Rainbow Song, saya membayangkan Ichi-san seperti yang saya sebutkan tadi, pendek-pendek lucu bikin gemes. Namun di film ini, Ichi-san adalah yakuza seutuhnya. Raut mukanya adalah raut muka seorang yakuza, kalimat-kalimat yang dilontarkan adalah kalimat seorang yakuza, dan gaya berpakaiannya adalah seorang yakuza. Ketika menonton, saya mencari-cari image Ichi-san yang lucu dan ceria, namun tidak sedetik pun image itu saya temukan. Mengenai Kang Yayan, cukup disayangkan–sepertinya oleh semua orang yang menonton film ini–image garangnya berubah menjadi seorang otaku walaupun otaku tersebut tetap jago berkelahi. Ketika karakter Kang Yayan muncul di layar kaca, saya mendengar beberapa orang tertawa dan tidak percaya dengan karakter ini. Mungkin itu ide dari si sutradara yang ingin mengubah image, namun saya yakin banyak yang mengharapkan adegan berkelahi Kang Yayan. Tapi di saat terakhir, Kang Yayan terlihat keren dengan yukata, paling tidak saya tidak perlu lagi melihat image otaku itu lah.

Memang sedih jika harus menulis ulasan yang tidak sesuai dengan hati dan bayangan kita tapi memang saya tidak terlalu terhibur dengan film ini. Bagi saya 6/10 cukup untuk film ini. Namun jangan lalu tidak menonton. Tontonlah film ini sebagai tribute bagi Kang Yayan yang sudah bermain dengan baik di film ini, dan salahkan si penulis cerita kenapa ceritanya harus nanggung. Sebagai pecinta film jepang, saya bersyukur film ini ditayangkan di bioskop Indonesia dan terus berharap film-film lainnya juga akan ditayangkan. Selanjutnya mungkin Attack on Titan bisa masuk jaringan bioskop film Indonesia mengingat versi anime-nya cukup menjadi hits di tahun lalu.

Kung Fury: 30 Menit yang Sangat Menghibur

kung-fury-poster-20150421-resizedBingung akhir pekan ini mau ngapain? Coba nonton Kung Fury, tersedia gratis dan online di Youtube. Cuma 30 menit saja, tidak akan sia-sia, dan tidak sampai menghabiskan umur seperti nonton Transformers. Kung Fury adalah film pendek karya sutradara Swedia yang tidak tahu apa-apa tentang kungfu dan berlatar belakang di tahun 80an. Film ini saya temukan ketika sedang blogwalking di blog-blog film langganan justru ketika sedang melihat review tentang Yakuza Apocalypse yang minggu lalu ditayangkan di Festival Film Cannes. Pertama kali cukup menarik perhatian saya karena hype-nya begitu hebat, sebuah film yang nongol untuk ditonton gratisan di youtube, dengan pemutaran perdana pada dua hari yang lalu di sesi Directors Fortnight di Cannes. Terdengar menjanjikan. Tidak pakai pikir panjang, saya langsung menonton filmnya.

********* SPOILER ALERT ***************

Apa yang saya temukan pada menit pertama adalah film yang cocoknya tayang di tahun 80an, dengan musik khas nintendo, dandanan dengan ikat kepala dan segala ke-lebay-an bahwa mobil polisi dapat terlempar setelah diungkit dengan skateboard dan dingdong yang berubah jadi robot–yang menurut saya masih lebih berkarakter daripada robot-robot di Transformers. Namun anehnya, saya dapat menerima semua ke-lebay-an ini dan justru menyukainya. Setelah itu, lalu dikenalkanlah kita pada jagoan sekaligus tokoh utama kita yang bernama Kung Fury.

Di film ini diceritakan bagaimana Kung Fury mendapatkan kemampuannya itu; tersambar petir dan digigit ular kobra. Apa hubungannya dengan kungfu, tidak ada, tapi entah kenapa lagi-lagi hal itu dapat diterima nalar saya. Karena satu dan lain hal, Kung Fury harus kembali ke masa lalu, dengan bantuan seorang hacker tercanggih pada masanya, untuk melawan Hitler yang disebut sebagai Kung Fuhrer. Lalu pada bagian ini saya tertawa sampai berguling-guling.

K.U.N.G F.U.H.R.E.R.

DAPET IDE DARI MANA NAMA KUNG FUHRER ITU?

BRILIAN. Kung-Fury

Tapi menurut saya masih lebih brilian lagi dengan ide meretas waktu dengan modal komputer tercanggih pada jamannya, tahun 80an. Disitu saya melihat PC, atau pada saat itu disebut mainframe, dengan postur yang masih gendut-gendut. Baguslah tidak disebut bahwa PC itu produksi IBM, karena pada saat proses meretas waktu, ternyata terjadi error yang membuat Kung Fury terlempar jauh ke jaman dinosaurus dimana dia bertemu dengan wanita barbarian. Jadi yang mana yang salah? PC atau penggunanya? Singkat cerita, Kung Fury berhasil kembali ke jaman Hitler dan akhirnya terjadi pertarungan seru antara Kung Fury dengan pengikut Hitler yang disajikan dalam bentuk dua dimensi. Saya ulangi, DUA DIMENSI. Inilah yang menurut saya hal paling brilian diantara semua hal 80an yang tersaji di film ini.

Pernah main nintendo? Pernah main nintendo dengan games yang mengharuskan si jagoan berkelahi satu-satu dengan banyak musuh? Kalau Anda ingat-ingat bagaimana tampilan gambar pada saat itu, pastinya si jagoan berkelahi dengan musuh yang datang dari depan dan belakangnya, dan sebagai latar belakang banyak musuh yang rusuh namun tidak ada satu pun yang mendekati si jagoan dari samping. Latar belakang dibuat dengan gerakan sama yang diulang-ulang seperti game Mario Bros yang menggunakan template sama untuk gambar semak dan awan. Sekarang sudah terbayang? Nah, adegan Kung Fury melawan seluruh pengikut Hitler terjadi persis seperti itu. KURANG TAHUN 80AN APA LAGI DARI FILM INI?

Lalu karena kewalahan, akhirnya datang bala bantuan, yang menurut saya mirip dengan persatuan pahlawan super untuk mengentaskan kejahatan di muka bumi ini. Jika di tahun 80an sudah ada film semacam Avengers, maka bala bantuan ini dapat dikatakan mirip dengan itu. Atau memang mengingatkan saya pada Avengers, lengkap dengan ketika Hitler terpalu ke dalam tanah, dengan palu-nya Thor, mendadak saya jadi ingat dengan Loki yang ditanam Hulk. Seperti semua film di masanya, jagoan selalu menang dan film berakhir menggantung yang terasa membutuhkan sekuel.

Memang filmnya norak, cheesy, lebay dan segala hal yang mungkin terjadi dari sebuah film yang tayang di tahun 80an, tapi memang itu tujuannya dan film ini dapat menyajikannya dengan sangat baik. Jika film ini tayang di masanya, mungkin bisa mendapatkan penerimaan yang hebat dari penonton di masanya dan mungkin sampai bisa disandingkan dengan film-film action legendaris semacam Rocky atau Rambo. Film ini sangat menghibur dari sisi action yang dihadirkan, walaupun beberapa harus dikategorikan sebagai disturbing dengan adegan kepala pecah atau badan yang terbelah dua. Mungkin film ini terasa salah jaman, tapi bagi saya, film ini justru sempurna karena ditayangkan bukan pada masanya, dimana sekarang RAM komputer dapat mencapai 16GB bahkan untuk komputer rumahan. Dengan kemampuan itu, harusnya kita juga dapat menciptakan portal untuk berpindah jaman, tutorial dapat dilihat di link ini. Dan itu lah yang dibayangkan orang pada tahun 80an mengenai tahun 2000an. Bagi saya ini sempurna.

Drama Korea itu Guilty Pleasure

Kenapa guilty pleasure? Karena dulu saya termasuk orang yang membenci segala macam kokoreaan, bahkan termasuk gengsi untuk menonton drama Korea. Sekarang saya merasa karma joget-joget di depan saya sambil bilang: “Makan tuh gengsi!!”

Ada beberapa hal yang membuat saya kurang menyukai drama Korea:
1. Jumlah episode yang terlalu banyak. Jika dibandingkan dengan drama jepang, drama korea mempunyai episode sampai dua kalinya. Minimal 20 episode dan maksimal bisa beratus-ratus seperti Ganteng-ganteng Serigala yang entah telah mencapai episode keberapa. Dengan episode sebanyak itu membuat saya yang gampang bosan menjadi malas untuk menonton.

2. Jalan cerita yang sama. Satu hal yang saya perhatikan dari drama korea adalah kemiripan ceritanya yang selalu berkisar dengan cinta segiempat. Jadi biasanya itu, ada cewe dan cowo yang saling jatuh cinta, lalu entah kenapa cintanya selalu banyak halangannya. Di lain pihak ada wanita lain yang suka dengan si cowo dan biasanya berperilaku seperti rubah atau nenek sihir, lalu ada lelaki lain yang mencintai si cewe dan selalu dijadikan tempat pelarian. Terkadang cerita dibumbui oleh pemeran tambahan seperti keluarga yang super tajir atau super miskin.

3. Model rambut aktor lelaki. Entah apa yang terjadi dengan fashion di korea sana, tapi beberapa tahun terakhir ini seluruh laki-lakinya mempunyai gaya rambut yang mirip, yang disebut oleh seorang teman seperti mangkok. Ya mungkin saja preferensi lelaki saya tidak seperti lelaki korea yang terlihat seperti satu cetakan, preferensi lelaki saya seperti Ikuta Toma dan Eita. Tapi ada beberapa aktor, yang paling tidak gaya rambutnya tidak seperti mangkok, yang cukup saya apresiasi bahkan suka.

Walaupun sekarang saya nonton drama Korea, saya termasuk yang pemilih. Sampai sekarang judul drama korea yang sudah saya tonton mungkin dapat dihitung dengan jari. Pertama kali yang saya tonton adalah Full House, lalu ada Sassy Girl Chun Hyang, dan Boys Before Flower. Film-film tersebut tadi saya tonton sekitar di tahun 2005an. Lalu setahun yang lalu saya mendadak kembali penasaran dengan Gu Jun Pyo (Boys Before Flower) yang diperankan oleh Lee Min Ho, yang membuat saya mengunduh seluruh episode BBF yang berjumlah 26 itu, walaupun nontonnya juga lompat-lompat. Karena penasaran dengan film lain dari Lee Min Ho, akhirnya saya menonton Personal Taste. Jika ada yang memberi ide untuk menonton The Heirs yang konon kabarnya sangat terkenal itu, saya sudah pernah menonton satu episode, namun belum habis episode 1 saya sudah bosan. Bagi saya, The Heirs ceritanya mirip dengan BBF atau apa pun yang saya jabarkan pada alasan nomor 2 tadi. Lalu ketika mencari film Lee Min Ho yang lain, saya tidak dapat menemukan yang cocok dengan selera maka kembali lah saya ke jalan drama Jepang.

Saya termasuk susah mencari drama korea yang sesuai dengan selera. Baru sebulan yang lalu saya menemukan drama korea dengan ide cerita vampir. Kalau kata seorang teman, adegannya mirip dengan sinetron serigala karena banyak yang memakai hoodie. Yo wis, sakarepmu lah, Mas. Namun setelah saya tonton, jalan ceritanya tidak seperti apa yang saya jabarkan sebelumnya dan saya suka karena ada adegan-adegan operasi dan istilah-istilah kedokteran. Di drama ini juga ada adegan action-nya walaupun harus saya akui, saya selalu tertawa melihat adegan berkelahi yang agak berlebihan. Ya pernyataan mirip dengan sinetron serigala itu valid lah.

Sekarang saya kembali nonton drama korea, judulnya Angel Eyes yang masa tayangnya telah selesai dan Orange Marmalade, baru saja tayang, dengan cerita vampir lagi, walaupun yang jadi vampir sekarang yang wanita dan yang ini masih sekolah. Selingan ketika menunggu film-film mulai kembali ditayangkan di bioskop atau menunggu subtitle untuk film Jepang yang sebelumnya telah saya tonton tanpa subtitle. Masih menunggu hadirnya Jurassic World dan berharap Yakuza Apocalypse bisa tayang di Indonesia. Untuk Yakuza Apocalypse, yang main Kang Yayan loh, jadi marilah kita berdoa semoga filmnya ditayangkan di bioskop kesayangan kita. Amin.

Film Brilian dengan biaya minimal dan pemain serta kru amatiran

21587Title: Koi no Uzu (The Vortex of Love) / Be My Baby

Director: Hitoshi One

Cast: Kenta Niikura, Naoko Wakai, Chihiro Shibata, Yuumi Goto, Kenta Enya, Hiroki Ueda, Daisuke Sawamura, Aya Kunitake, Sadaharu Matsushita.

Duration: 138 minutes

Film akhir pekan kali ini dimulai dengan Koi No Uzu (terjemahan harafiah: The Vortex of Love) atau Be My Baby. Film ini salah satu yang saya temukan ketika blogwalking pada minggu lalu dan setengah mati mencari unduhannya. Beruntung lah ada yang berbaik hati mengunggah film ini walaupun bukan torrent dan membuat saya insecure apakah donlodan saya kali ini berhasil atau tidak. Belum ada subtitle dalam bahasa inggris atau indonesia untuk film ini, jadi saya nekat untuk menonton dengan kemampuan bahasa jepang yang masih pas-pasan.

Bagi saya menonton film baru hasil dari blogwalking seperti kopi darat. Kita tidak tahu apa yang akan kita temukan dan apakah film tersebut layak tonton atau tidak. Khusus untuk film jepang, janganlah percaya pada trailer, karena apa yang ditampilkan dalam trailer belum tentu mewakili dari film tersebut. Untuk film ini saya sepenuhnya berdasar pada kepercayaan kalau film ini telah memasuki pemutaran ketiga setelah film ini hadir pada Terracotta Far East Film Festival. Pasti lah ada sesuatu dalam film ini yang membuat penonton internasional tertarik.

Dari sisi cerita, saya tidak dapat menceritakan secara jelas, karena saya menonton tanpa subtitle. Jalan cerita film ini saya ketahui dari hasil membaca beberapa resensi yang ada lalu, karena penasaran, langsung nekat menonton. Saya mah gitu orangnya.

Film ini dibuat oleh sekumpulan amatiran dari sebuah rumah workshop untuk pelatihan manusia-manusia baru di dunia perfilman jepang dengan supervisi dari sutradara veteran. Film ini dibuat dalam waktu 4 hari saja dengan biaya kurang dari US$ 10,000 dan dapat menghasilkan sesuatu yang saya sebut sebagai karya yang brilian.

Tema film ini mengambil ide dari sisi gelap kehidupan anak muda Jepang yang tidak jelas dengan kerja paruh waktu, berkiblat pada mode terbaru dan gaya hidup bebas. Percakapan dengan bahasa slang terdengar seperti petasan di setiap adegan. Walaupun dibintangi oleh sekelompok aktor dan aktris amatir, justru saya memuja akting dari para aktor dan aktris ini. Pada awalnya saya masih biasa saja hingga pada suatu adegan saya terpesona dengan akting-nya Naoko Wakai yang berperan sebagai Tomoko-chan. Peran tersebut didalami dengan baik sehingga terlihat karakter Tomoko-chan yang ceria di depan teman-temannya namun begitu submissive ketika berhadapan dengan pacarnya, Koji-kun, yang begitu mendominasi.

Film ini mengambil latar belakang di 4 apartemen kecil di pinggiran Tokyo dan adegan berpindah-pindah antar apartemen tersebut dan menggambarkan semua sifat dari para pemuda-pemudi tersebut, yang dalam cerita berumur 20an tahun. Dengan setting sesederhana itu, film ini mampu menyajikan sebuah jalan cerita (walaupun saya tidak mengerti amat) dengan lika-liku di dalamnya. Tentang siapa yang suka dengan siapa, siapa yang gosipin siapa hingga siapa selingkuh dengan siapa. Walaupun berdurasi 2 jam, film ini tidak membuat bosan. Ada beberapa adegan sex yang implicit, namun mungkin dapat membuat beberapa penonton merasa tidak nyaman. Tenang saja, tidak seperti Game of Thrones yang cukup explicit. Selebihnya, jika ingin melihat akting yang luar biasa, film ini saya rekomendasikan untuk ditonton.

8/10.

Tentang R100, Furious 7 dan Age of Ultron

Sebuah postingan singkat saja agar blog ini terasa masih hidup. Maklum sebulan terakhir ini saya sibuk dengan pekerjaan, sempat dirawat di rumah sakit selama seminggu, harus bedrest dua minggu, dan merasa kurang inspirasi untuk sebuah tulisan. Sejujurnya saya juga lupa film apa yang telah saya tonton selama sebulan atau dua bulan terakhir ini, kecuali yang terakhir kali saya tonton: sequel The Avengers yang bertajuk Age of Ultron.

Kalau menilik kembali catatan menonton saya, kebanyakan yang saya tonton adalah variety show korea, drama jepang, drama korea dan serial amerika. Namun film-film itu tidak masuk dalam daftar tonton saya karena janji yang telah tersebut bahwa daftar tonton hanya berlaku untuk film-film selain daripada drama, sinetron dan serial.

Mungkin sedikit komentar tentang film yang sebulan terakhir ini saya tonton: R100, Furious 7 dan Age of Ultron.

91uGK4jOzDL._SL1500_Dimulai dari R100 yang merupakan film jepang yang setelah menontonnya saya bingung setengah mati atas apa yang baru saja saya tonton. Entah itu tujuan dari filmnya atau memang saya yang terlalu awam untuk film dengan kapasitas secanggih itu. Menurut review yang saya baca, bahkan sutradaranya sendiri pun berbicara kalau film ini hanya dimengerti oleh orang yang telah berumur 100 tahun. Namun pertanyaannya, apakah ada orang sebanyak itu yang berumur 100 tahun yang masih dapat menonton filmnya? Sedikit trivia, sutradara R100 memang sudah berumur 100 tahun. Filmnya mempunyai tema sado-masokis. Jadi jikalau kamu sudah menonton 50 shades of grey dan berharap ada adegan kinky di film tersebut, mungkin bisa mencoba menonton R100. Bagi saya, R100 dapat mendefinisikan sado-masokis dengan segala keanehan Jepang di dalamnya.

Selanjutnya adalah Furious 7. Sequel ke-6 dan “katanya” film terakhir dari Fast Furious franchise ini konon kabarnya menampilkan adik dari Paul Walker sebagai pengganti dari abangnya yang telah meninggal karena kecelakaan ketika film tersebut masih dalam masa produksi. Tapi sejujurnya saya tidak dapat menemukan di adegan yang mana dari film tersebut yang menampilkan adiknya Paul Walker tersebut, namun yang saya sadari dari film edisi ketujuh ini adalah film ini makin terasa seperti The Expendables dan sepertinya sudah saatnya untuk diakhiri saja. Banyak adegan yang terasa tidak masuk akal. Sejak ada di film sebelumnya, aktor Dwayne Johnson atau The Rock menjadi salah satu pemeran yang disukai di film ini. Terbukti setelah terbanting, jatuh dari lantai 20an, tertimpa reruntuhan jembatan, orang ini hanya cedera sedikit dan gips-nya dapat dilepas dalam waktu kurang dari 2 minggu. You cannot kill The Rock.

fun-new-promo-art-for-avengers-age-of-ultronYang terakhir, yang saya tonton ketika dokter sudah memperbolehkan saya beranjak dari tempat tidur adalah sekuel The Avengers berjudul Age of Ultron. Sejujurnya film ini tidak terlalu memukau saya, karena lebih terasa seperti Transformers. Tidak banyak yang cukup mencuri perhatian saya karena seperti biasa film ini dipenuhi dengan CGI dan sayangnya banyak adegan yang berlebihan. Hanya Hulkbuster yang saya ingat, dengan definisi singkat: Baymax Yang Memakai Kostum Ironman. Mungkin karena di film ini tidak ada Loki. Mungkin karena di film pertama memang Loki yang menjadi bintang utama. Memang seharusnya Loki harus diberikan film sendiri. Dengan fans di seluruh penjuru dunia, saya pikir jikalau Loki dibuatkan film sendiri, pendapatan film itu mungkin akan melebihi The Avengers atau film dari saudaranya.

Selanjutnya yang menyita perhatian saya adalah sekuel keempat dari Mad Max yang diberi judul Fury Road dan sebuah remake berjudul Jurassic World. Dua-duanya adalah film yang dulu pernah saya tonton dan Jurassic Park adalah salah satu film kesukaan saya, yang saya puja habis-habisan. Mad Max akan hadir pada tanggal 14 Mei ini, mungkin saya akan langsung menonton, sedangkan Jurassic World masih akan hadir pada Juni nanti. Mungkin ulasan Mad Max akan hadir pada minggu depan, kalau saya tidak sibuk mencoba brick oven baru di halaman belakang.

Love Exposure. Film Pertama yang Tidak Bisa Saya Tonton dalam Satu Waktu

Love_Exposure_(2008-Japan)Ketika seorang teman memperkenalkan saya pada sebuah film yang membuat saya jatuh cinta pada sutradaranya, saya menemukan film ini di posisi teratas dari karya sutradara tersebut yang digadang-gadang sebagai mahakarya. Memang judul mahakarya terdengar agak berat ditambah dengan kemampuan minim saya dalam mencerna sebuah film, mahakarya ini membuat saya “ngeri” dan juga penasaran. Tidak percaya dengan kabar bahwa film ini berdurasi 4 jam, pada saat itu juga saya langsung mengunduh filmnya dan benar memang durasinya 4 jam. Love Exposure menjadi film pertama yang tidak bisa saya tonton dalam satu waktu saja.

Sebelum menonton film ini, saya membaca ulasannya dan menemukan banyak yang mengagungkan film ini. Dengan genre campur aduk, termasuk di dalamnya, drama, horror, dan ecchi film ini serasa ditarik menjadi sangat panjang. Sangat panjang karena saya menemukan judul film muncul di pas 60 menit film telah berlangsung. Ya, betul, 60 menit. Edan. Film ini tidaklah straightforward seperti Why Don’t You Play In Hell, film ini dimulai dengan latar belakang dan pembangunan karakter yang cukup detail sehingga saya hampir bisa merasakan dan mengerti perasaan Yu si pemeran utama.

Sejak awal film saya merasakan cinta bertebaran di film ini. Entah itu cinta kepada Tuhan, cinta pada keluarga, ataupun cinta pada lawan jenis. Dimulai dengan keluarga Yu yang taat agama, lalu Yu yang rela melakukan apa pun demi ayahnya, dan ketika Yu akhirnya menemukan gadis yang disukainya, yang dianggapnya mirip dengan Bunda Maria. Walaupun banyak cinta di dalam film ini, tapi tidak selamanya film ini menjadi drama. Beberapa adegan pantas disejajarkan dengan film horror Jepang dengan karakter antagonis yang sakit jiwa dan beberapa adegan yang menampilkan semprotan darah.

Saya bukanlah penggemar film drama, sejujurnya saya mengharapkan sesuatu yang lebih mengingat sebelumnya saya telah menonton Suicide Club dan Why Don’t You Play In Hell. Love Exposure terasa brilian dari sisi pembangunan karakter keluarga Yu, terutama dari sisi Bapaknya dan Yu sendiri yang berubah dari anak yang taat agama menjadi pemberontak, yang tetap taat agama. Pembangunan karakter tersebut membangun cerita cukup solid namun sayangnya tetap ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab, walaupun dengan waktu tayang 4 jam tersebut. Sepertinya sang sutradara sangat berfokus pada kehidupan Yu, sehingga ada beberapa lubang di cerita yang seharusnya dengan waktu 4 jam dapat diceritakan dengan baik.

Apakah saya menyarankan film ini? Kuatkan mentalmu, kawan. Film ini tak semudah kelihatannya. Bahkan saya saja terpaksa harus menonton film ini dalam beberapa bagian. Namun jika Anda mengetahui karya-karya Sion Sono dan belum pernah menonton film ini, tak ada salahnya untuk menonton. Pesan cinta yang dibawa film ini sangatlah universal, hingga seharusnya siapa pun bisa menonton film ini. Sedikit tambahan, jika ada yang cerita kalau film ini tentang Raja Hentai, percaya lah, memang film ini tentang Raja Hentai, namun sama sekali tidak ada adegan telanjang di film ini. Love Exposure memang sinting, namun masih kalah sinting dibandingkan Why Don’t You Play In Hell.