Love Exposure. Film Pertama yang Tidak Bisa Saya Tonton dalam Satu Waktu

Love_Exposure_(2008-Japan)Ketika seorang teman memperkenalkan saya pada sebuah film yang membuat saya jatuh cinta pada sutradaranya, saya menemukan film ini di posisi teratas dari karya sutradara tersebut yang digadang-gadang sebagai mahakarya. Memang judul mahakarya terdengar agak berat ditambah dengan kemampuan minim saya dalam mencerna sebuah film, mahakarya ini membuat saya “ngeri” dan juga penasaran. Tidak percaya dengan kabar bahwa film ini berdurasi 4 jam, pada saat itu juga saya langsung mengunduh filmnya dan benar memang durasinya 4 jam. Love Exposure menjadi film pertama yang tidak bisa saya tonton dalam satu waktu saja.

Sebelum menonton film ini, saya membaca ulasannya dan menemukan banyak yang mengagungkan film ini. Dengan genre campur aduk, termasuk di dalamnya, drama, horror, dan ecchi film ini serasa ditarik menjadi sangat panjang. Sangat panjang karena saya menemukan judul film muncul di pas 60 menit film telah berlangsung. Ya, betul, 60 menit. Edan. Film ini tidaklah straightforward seperti Why Don’t You Play In Hell, film ini dimulai dengan latar belakang dan pembangunan karakter yang cukup detail sehingga saya hampir bisa merasakan dan mengerti perasaan Yu si pemeran utama.

Sejak awal film saya merasakan cinta bertebaran di film ini. Entah itu cinta kepada Tuhan, cinta pada keluarga, ataupun cinta pada lawan jenis. Dimulai dengan keluarga Yu yang taat agama, lalu Yu yang rela melakukan apa pun demi ayahnya, dan ketika Yu akhirnya menemukan gadis yang disukainya, yang dianggapnya mirip dengan Bunda Maria. Walaupun banyak cinta di dalam film ini, tapi tidak selamanya film ini menjadi drama. Beberapa adegan pantas disejajarkan dengan film horror Jepang dengan karakter antagonis yang sakit jiwa dan beberapa adegan yang menampilkan semprotan darah.

Saya bukanlah penggemar film drama, sejujurnya saya mengharapkan sesuatu yang lebih mengingat sebelumnya saya telah menonton Suicide Club dan Why Don’t You Play In Hell. Love Exposure terasa brilian dari sisi pembangunan karakter keluarga Yu, terutama dari sisi Bapaknya dan Yu sendiri yang berubah dari anak yang taat agama menjadi pemberontak, yang tetap taat agama. Pembangunan karakter tersebut membangun cerita cukup solid namun sayangnya tetap ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab, walaupun dengan waktu tayang 4 jam tersebut. Sepertinya sang sutradara sangat berfokus pada kehidupan Yu, sehingga ada beberapa lubang di cerita yang seharusnya dengan waktu 4 jam dapat diceritakan dengan baik.

Apakah saya menyarankan film ini? Kuatkan mentalmu, kawan. Film ini tak semudah kelihatannya. Bahkan saya saja terpaksa harus menonton film ini dalam beberapa bagian. Namun jika Anda mengetahui karya-karya Sion Sono dan belum pernah menonton film ini, tak ada salahnya untuk menonton. Pesan cinta yang dibawa film ini sangatlah universal, hingga seharusnya siapa pun bisa menonton film ini. Sedikit tambahan, jika ada yang cerita kalau film ini tentang Raja Hentai, percaya lah, memang film ini tentang Raja Hentai, namun sama sekali tidak ada adegan telanjang di film ini. Love Exposure memang sinting, namun masih kalah sinting dibandingkan Why Don’t You Play In Hell.

Review: Why Don’t You Play in Hell. Film Tentang Yakuza Oleh Yakuza.

Ketika minggu lalu saya kehabisan bahan tontonan dan akhirnya memutuskan untuk menonton ulang Game of Thrones season 4, seorang teman merekomendasikan sebuah film. Mengingat si teman ini adalah sepertinya seorang yang cukup pemilih kalau masalah film dan memiliki selera yang mirip dengan saya, insting saya mengatakan kalau film ini layak tonton. Film ini bukan tipe yang biasa seliweran di jaringan bioskop Indonesia, film seperti ini biasanya hanya saya dapatkan online, film ini berjudul Why Don’t You Play in Hell dan disutradarai oleh Sion Sono.

Pernah mendengar nama Sion Sono? Mungkin terdengar asing. Atau mungkin pernah mendengar film Suicide Club? Saya yakin kalau judul film yang baru saja saya sebutkan ini pasti tidak asing. Suicide Club pernah terkenal di tahun 2000an setelah industri perfilman jepang dibanjiri dengan film horror semacam Ringu dan Ju-On. Sang sutradara, Sion Sono, adalah sutradara yang cukup produktif dengan beberapa karya yang patut diperhatikan. Wait, Jepang lagi, Lan? Sebenarnya saya pernah menonton film Perancis, namun gayanya ternyata tidak sesuai dengan selera saya jadi sepertinya Movie Challenge tahun 2015 ini akan dipenuhi dengan film Jepang atau Korea.

Kembali ke topik, Why Don’t You Play In Hell adalah film keluaran tahun 2014 (wide release) menceritakan tentang yakuza yang dibintangi oleh yakuza dengan kru yakuza. Paling tidak begitu menurut trailernya. Namun seperti yang sudah-sudah, jika trailernya terlihat biasa saja atau malah tidak jelas, biasanya filmnya bagus. Maksud saya, buat apa trailer lama-lama sampai 5 menit yang membeberkan seluruh jalan cerita film, lebih baik saya nonton trailer saja daripada harus bayar mahal di bioskop. Dan seperti dugaan, filmnya berhasil membuat saya terbuai dengan jalan cerita yang sungguh di luar dugaan.

Dalam 5 menit pertama terasa sedikit kemiripan dengan karya-karya Tarantino, terutama Kill Bill, ketika pada suatu adegan, seorang anak masuk ke dalam ruangan di rumahnya dan lantainya dibanjiri dengan darah. Sejenak terlihat seperti lantai yang berwarna merah, namun saya sadar bahwa itu darah ketika kaki anak tersebut tidak terlihat. Cengiran saya makin lebar ketika ada seorang ibu-ibu dengan baju berlumuran darah dan memegang pisau dapur, berlari ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Lalu saya mulai melupakan Tarantino dan hanyut dalam film tersebut.

Adalah kelompok yakuza Muto dan Ikegami yang saling berkelahi, dimulai dengan Ikegami-gumi menyerang Muto-gumi yang diakhiri dengan pembantaian oleh istri dari pemimpin Muto-gumi, si ibu-ibu dengan pisau dapur tadi. Di sisi lain ada sekelompok pembuat film amatir bernama Fuck Bombers dengan ketua bernama Hirata yang mempunyai mimpi suatu saat dapat membuat film terhebat sedunia.

Nasib mempertemukan kelompok amatir ini dengan yakuza-yakuza tersebut 10 tahun kemudian, ketika Mitsuko, anak semata wayang ketua Muto-gumi, harus jadi artis demi mewujudkan mimpi ibunya yang dipenjara karena kasus pembantaian itu, yang akan keluar dalam waktu 10 hari lagi. Dengan waktu yang begitu sempit, Hirata memutuskan untuk membuat film tanpa skenario, yang langsung diambil di kediaman Ikegami, tepat ketika Ikegami-gumi menantikan kedatangan Muto-gumi. Selanjutnya yang terjadi adalah pengambilan gambar tentang pertarungan dua kelompok yakuza yang terlihat alami dan tanpa skenario.

Film ini tidak bertele-tele dalam bercerita. Satu jam terakhir bercerita tentang bagaimana film yakuza dibuat, yang hanya mengambil waktu semalaman sebelum akhirnya kediaman Ikegami digerebek oleh polisi. Sangat straightforward dan detail dimana pertarungan Ikegami-gumi dan Muto-gumi dibuat seperti tanpa ada frame yang tertinggal. Efek Inception terasa sekali ketika adegan pengambilan gambar pertarungan yang tadinya berpura-pura, menjadi ajang mandi darah. Hebatnya sang sutradara, Hirata, mengusulkan adegan pertarungan haruslah menggunakan katana demi efek yang terlihat lebih maskulin dibandingkan menggunakan senjata api. Maka yang akan terjadi, terjadi lah, ketika pedang sudah berada di tangan dan musuh ada di depan mata, semuanya bagaikan haus darah dan dirasuki oleh setan.

Saya seperti merasa adanya satire dalam film ini, walaupun sampai sekarang saya tidak dapat menjelaskan referensinya pada apa. Tapi yang saya rasakan, ketika seorang telah terobsesi dengan sesuatu, maka tipis perbedaannya dengan gila, sehingga semua hal dihalalkan untuk mencapai tujuan tersebut. Film ini menurut saya brilian dari sisi cerita juga ditambah dengan teknik editing yang sangat saya suka, dengan adegan klimaks yang berada pas di hampir akhir film. Jelas sekali film ini bukan untuk yang berjantung lemah, namun lupakan tentang limpahan darah itu, menurut saya film ini sangat layak tonton. Sutradara Sion Sono membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama karena daftar film selanjutnya sudah dipastikan adalah Love Exposure, yang disebut-sebut sebagai mahakarya Sion Sono dengan durasi 4 jam. Sepertinya saya harus menyiapkan mental untuk kencan selanjutnya.

Movie Challenge 2015

Kalau teman saya punya yang namanya Reading Challenge, karena saya masih males-malesan untuk membaca jadinya saya mencari apakah ada Movie Challenge. Ternyata ada dan seperti dibawah ini.

tumblr_ngwum5faB51s26amio1_1280

 

Yang paling susah dari film ini sepertinya bakalan web series. Sejujurnya saya belum pernah menonton web series, model filmnya yang seperti apa juga saya tidak tahu. Untuk tantangan ini tidak terbatas pada bahasa inggris atau indonesia saja, tapi juga bahasa jepang dan korea. Karena saya adalah penonton drama jepang dan korea, untuk tantangan film dengan bahasa lain akan dengan bahasa Perancis, Rusia, Jerman atau lainnya. Sepertinya saya harus membuat tantangan menonton tersendiri untuk film Indonesia. Siapa tahu saya bisa tahan menonton sinetron Ganteng-ganteng Serigala.

Challenge dimulai acak saja ya, dengan film yang kebetulan saya tonton, ya berarti itu masuk di challenge. Sebelumnya saya sih sudah membuat target paling tidak sekitar 50 film untuk tahun ini dengan berbagai kategori. Film yang sudah ditonton, bisa termasuk dalam Challenge ini ya. Biar saya tidak usah mencari judul baru lagi.

Bagi yang mau ikutan, silahkan. Nanti mungkin bisa saling share judul film.

Selamat menonton :)

(Masih) Film-Film Takashi Miike

Tadi pagi seorang teman sharing adegan bunuh-bunuhan di gereja yang katanya kena gunting sensor. Tidak sampai lama ketika akhirnya rasa penasaran saya terpuaskan. Sudah lama juga tidak melihat adegan bunuh-bunuhan sedetail itu, akhir-akhir ini rasanya film yang beredar tidak terlalu kreatif dalam menyajikan adegan berkelahi atau bunuh-bunuhan. Tapi disini saya bukan untuk membahas tentang adegan bunuh-bunuhan di gereja itu. Saya ingin membahas tentang film yang barusan saya tonton, Audition. Oiya, bagi yang mau melihat adegannya, bisa ke link ini.

Pernah nonton Ichi The Killer? Sudah? Bagus. Bagi yang sudah mungkin masih ingat adegan Kakihara memotong lidahnya sendiri. Bagi yang belum menonton dan termasuk yang kuat hati dalam menonton adegan sadis, mungkin film Ichi The Killer bisa ditonton sebagai referensi. Bagi saya  sendiri, Ichi The Killer termasuk yang cukup sadis namun saya ternyata masih lebih ngilu ketika menonton Audition.

6319901_gal

Audition (Judul aslinya: Odishon) adalah film yang masuk dalam daftar film yang dapat mengacaubalaukan otak anda (baca: mindfuck). Kalaulah saya belum termasuk jago untuk mencerna film se-absurd Visitor Q, maka untuk film ini lebih mudah untuk dicerna namun berhasil membuat otak saya cukup berantakan. Adegan yang dibuat bagaikan sedang di dalam mimpi namun cukup nyata untuk terjadi di kehidupan sebenarnya, membuat penonton bertanya-tanya apakah hal tersebut mimpi atau bukan.

Audition bercerita tentang seorang duda yang ditinggal mati istrinya dan hidup berdua saja dengan anak laki-lakinya. Duda tersebut berniat untuk menikah kembali dan ketika perusahaannya mengadakan audisi untuk aktris di film yang akan diproduksinya, duda tersebut tertarik dengan seorang wanita. Memang bisa ditebak pasti ada yang tidak beres dengan si wanita tersebut, namun hal itu tidak akan terlihat sampai pada 30 menit terakhir filmnya.

Sebagai sedikit spoiler, ada adegan sadis yang membuat saya ngilu luar biasa. Tidak seperti Ichi The Killer yang semua adegan tersebut terjadi dengan cepat. Adegan ini berlangsung dengan lambat sehingga seperti kita ikut merasakan bagaimana, contohnya, ketika pergelangan kaki kita dipotong dengan seutas kawat. Lengkap dengan bunyi kawat tersebut ketika bergesekan dengan tulang. Rasanya setelah menonton film ini saya harus menonton film Disney untuk mengembalikan keseimbangan otak. Lalu saya kembali mengunduh film Takashi Miike lainnya yang masuk ke dalam daftar Mindfuck Movie, yaitu Gozu. Film ini belum saya tonton. Rencananya nanti saja setelah pikiran saya kembali bersih.

Sebagai intermezzo, saya ingat pada tahun 2015 ini film Yakuza Apocalypse akan dirilis, tepatnya pada tanggal 20 Juni, untuk pemutaran khusus di Jepang. Untuk pemutaran luasnya mari kita bersabar dahulu, untuk sementara saya berhasil menemukan teaser trailernya. Namun namanya juga teaser, tidak banyak yang dapat dilihat, yang saya ingat hanyalah orang dengan kostum kodok yang mengayunkan tongkat baseball.

Bloody Week Movie Saga

Mendadak saya kangen menulis blog ini, namun ada rasa malas. Ah, memang saya saja yang galau macam anak ABG. Jadi ceritanya minggu lalu saya sedang dalam mood untuk membunuh. Terdengar seram, tapi itu biasanya terjadi sebulan sekali dimana keadaan hormon tubuh yang sedang kacau balau. Akhirnya untuk sedikit meredakan dan menyelamatkan kucing tetangga dari pembunuhan sadis, maka saya memilih untuk menonton film yang yang penuh dengan darah. Setelah bersemedi dan browsing, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pertama pada Ichi The Killer, lalu berlanjut dengan mengunduh film yang masuk dalam daftar 50 Most Disturbing movies, termasuk di antaranya Audition, Visitor Q, dan Kill Bill, specifically Volume 1.

Jika berbicara tentang Kill Bill tentunya yang diingat adalah Quentin Tarantino dan bagaimana film itu akan sulit lolos dari gunting sensor. Kill Bill, terutama volume 1, dipenuhi dengan adegan memotong tubuh orang lengkap dengan semburan darah di mana-mana. Adegan yang perlu diperhatikan adalah ketika The Bride memburu O-ren Ishii. Di adegan ini pertarungan The Bride dengan pengawal O-ren Ishii menghasilkan adegan yang penuh dengan semburan darah dan potongan tubuh orang.

Namun, jika ingin melihat adegan yang super membuat muntah, marilah kita tengok karya Takashi Miike yang berjudul Ichi The Killer. Disebut-sebut sebagai salah satu film yang kontroversial dan dilarang peredarannya karena adegan yang disajikan sangatlah sadis. Kalau mutilasi tubuh orang dengan semburan darah seperti air mancur masih dapat membuat tubuh bergeming, coba dilihat adegan memotong lidah sendiri yang di zoom sampai area mulut saja. Hanya di adegan ini saya sampai menutup mata karena ngilu membayangkan lidah dipotong. Film ini juga saya selesaikan dalam waktu yang lebih lama dari durasi asli filmnya karena beberapa kali terpaksa harus di-pause.

Salahkan Ichi The Killer, karena sejak menonton film tersebut saya hampir menyembah pada film-film Takashi Miike. Setelah browsing kanan-kiri, akhirnya pilihan jatuh pada Visitor Q yang konon kabarnya aneh di luar nalar. Film jepang memang banyak yang alur ceritanya diluar nalar, namun menurut saya Visitor Q sungguh luar biasa. Visitor Q bercerita tentang keluarga disfungsional yang jikalau saya ceritakan di sini menjadi sangat tidak etis. Filmnya sendiri masuk dalam kategori disturbing bukan karena darah yang berceceran dimana-mana, namun dari sisi cerita keluarga disfungsional ini yang menerobos semua tabu di dalam kehidupan bermasyarakat.

Minggu berdarah kemarin ditutup dengan Kingsman The Secret Service yang diluar dugaan saya cukup berdarah. Awalnya saya mengira Kingsman hanyalah film mata-mata semodel James Bond bercampur 21 Jumpt Street dengan rasa Inggris, namun ternyata Kingsman lebih dari itu. Kudengar banyak adegan yang cukup bercucuran darah sehingga harus merasakan tajamnya gunting sensor, namun wajar jika itu syarat jika ingin ditayangkan di jaringan bioskop Indonesia.

Ada satu film lainnya yang belum saya tonton, judulnya Audition. Konon filmnya mendapat review bagus dimana-mana dan dijuluki film Takashi Miike yang sangat patut ditonton. Sejujurnya saya penasaran dengan film ini, mungkin akan segera ditonton setelah saya menyelesaikan Suicide Club.

Di tahun ini saya menunggu Over Your Dead Body dan Yakuza Apocalypse (dua-duanya karya Takashi Miike) yang kemungkinan besar harus saya tunggu dengan sangat bersabar. Untuk Over Your Dead Body, filmnya sudah diputar di Jepang sana, berarti saya harus menunggu salinannya beredar di dunia maya. Khusus untuk Yakuza Apocalypse saya berharap sekali film ini dapat ditayangkan di jaringan bioskop Indonesia karena menampilkan Kang Yayan Ruhian sebagai bintang utama. Berikut adalah trailer untuk Over Your Dead Body, untuk Yakuza Apocalypse, trailernya belum ada dimana-mana, nanti akan saya share jika sudah ada.

Film Tentang Seorang Jenius Dibalik Sejarah Komputer

The_Imitation_Game_3051179cAkhirnya saya berkesempatan menonton film yang telah saya tunggu sejak bulan Desember 2014, walaupun nonton di siang hari terkadang dipenuhi manusia-manusia yang tidak mengerti etika menonton di bioskop. Film yang membuat saya semakin terkesan dengan ilmu matematika dan statistika dan pengejawantahannya pada ilmu komputer. Film bertajuk The Imitation Game ini menceritakan bagaimana Alan Turing, seorang ahli matematika dan professor di Cambridge, dapat memecahkan kode enkripsi pasukan Jerman pada Perang Dunia II.

Enigma, begitu nama mesin enkripsi milik Jerman pada saat itu. Mesin tersebut memiliki 3 rotor dan sirkuit listrik yang dapat menghasilkan 159 juta juta juta (159 dengan 18 angka di belakangnya–begitu kata Hugh Alexander) kombinasi kunci enkripsi. Mesin tersebut berbentuk seperti mesin ketik jaman dulu namun dengan deretan huruf di bagian atasnya, yang akan menyala menghasilkan huruf yang telah terenkripsi begitu pesan diketik. Mungkin pada saat itu mesin ini adalah mesin pengenkripsi paling canggih, yang konon untuk memecahkan kuncinya butuh waktu 20 juta tahun.

Alan Turing pada saat itu bekerja dalam sebuah tim rahasia di Bletchley Park, Manchester, yang tugasnya hanya untuk memecahkan kode Jerman itu. Menyadap pesan Jerman tidak susah karena pada saat itu pesannya disebar melalui frekuensi radio yang dapat diambil siapa saja, namun pesan itu tidak akan berarti tanpa kunci untuk mendekripsinya. Tantangannya ada pada jumlah kombinasi kemungkinan kunci dan pasukan Jerman selalu mengganti kodenya pada jam 12 malam. Di film disebutkan bahwa pesan pertama keluar pada jam 6 pagi, yang artinya tim tersebut hanya mempunya 18 jam saja untuk memecahkan kode yang digunakan oleh pasukan Jerman. Sampai akhirnya Turing membuat mesin untuk memecahkan kode tersebut lebih cepat, yang pada waktu itu diberi nama Colossus namun di filmnya bernama “Christopher”. Namun tidak serta-merta mesin tersebut dapat memecahkan kode dengan cepat, hingga disadari bahwa pada setiap pesan yang dikirim terdapat kata-kata dengan frekuensi kemunculan yang tinggi. Dengan berbekal asumsi itu, “Christopher” dapat menemukan kode enkripsi  yang dipakai Jerman.

Memang Turing benigma-full-804erjasa dalam menemukan kode enkripsi dan karena itu konon katanya perang dunia dapat dipotong hingga lebih dari 2 tahun namun dia tidak lantas dihargai, karena orientasi seksualnya yang menyimpang, yang pada saat itu disebut dengan “gross indecency”. Pada tahun 50an homoseksual dianggap sebagai kriminal dan sampah masyarakat, bahwa siapa saja yang diketahui atau terindikasi homoseksual akan diadili dan dijatuhi hukuman penjara atau diberi suntikan untuk menahan hormon. Demi tidak berpisah dengan mesinnya, Turing memilih untuk diberi suntikan dan setelah setahun mengikuti terapi, Turing akhirnya mengakhiri hidupnya dengan memakan apel yang dicelup cairan sianida.

Sosok jenius Alan Turing diperankan dengan luar biasa oleh Benedict Cumberbatch. Lagi-lagi Mas Benny dapat membuat saya terlupa dengan perannya di film lainnya, hanya sedikit teringat dengan Sherlock yang anti-sosial, lalu saya kembali percaya bahwa memang Alan Turing adalah seperti yang diperankan oleh Mas Benny. Seorang aktor yang kawakan menurut saya adalah yang mampu memerankan karakter lengkap dengan raut muka, tanpa harus mengingatkan pada karakter lainnya yang telah diperankannya. Dan di dalam Alan Turing-nya Mas Benny, saya hanya melihat sosok Sherlock sekali saja (karena mungkin Turing adalah seorang yang anti-sosial, mirip seperti Sherlock) tanpa ada ingatan sedikit pun pada Smaug atau pun Khan.

Jika Anda mencari adegan perang di film ini, maaf mungkin film ini tidak cocok untuk Anda. Tidak ada satu pun adegan perang dunia II dalam film ini kecuali footage-footage perang yang diselipkan. Bagi kebanyakan orang mungkin film ini terlalu berat untuk ditonton, namun bagi saya film ini sungguh brilian. Hingga tahun lalu saya tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang telah berpikir, “apakah mesin dapat berpikir?” jauh sebelum mesin itu sendiri ditemukan. Alan Turing memberikan sebuah premis bahwa mesin dapat pula berpikir, jikalau kita sudah tidak dapat lagi membedakan mana jawaban yang dihasilkan dari mesin dan mana yang dihasilkan oleh manusia. Seketika saya teringat dengan segala penemuan dan teknologi yang kebetulan bersinggungan langsung dengan saya seperti telepon genggam atau pun komputer di pusat penelitian di kantor pusat perusahaan dimana saya bekerja sekarang ini yang juga mampu berpikir.

Film ini brilian di segala sisi dengan apresiasi terbesar saya berikan pada Benedict Cumberbatch. Bagi saya nilainya tidak kurang dari 9/10 dan membuat saya bingung harus memilih The Grand Budapest Hotel atau The Imitation Game untuk Best Picture tahun ini. Pada akhirnya film ini menyampaikan bahwa setiap orang dapat berjasa besar dan menjadi pahlawan tanpa harus memikirkan jenis kelamin, orientasi seksual, ras maupun hal-hal sepele lainnya. Sebuah pesan yang sederhana dalam film yang begitu brilian.

Film Animasi Bagai Lukisan Cat Air

beautifully-animated-trailers-for-the-tale-of-princess-kaguyaPengumuman nominasi Oscar tahun ini cukup membuat saya bahagia ketika ada The Grand Budapest Hotel di cukup banyak nominasi. Saya akan sangat senang sekali jika film tersebut terpilih sebagai Best Picture. Tapi demi alasan yang lebih obyektif dan untuk catatan pribadi, saya mengunduh beberapa nominasi film lainnya termasuk Whiplash, Boyhood, Foxcatcher dan The Tale of the Princess Kaguya, film terbaru keluaran Studio Ghibli, yang masuk dalam kategori Animated Feature. Sudah tentu yang saya tonton pertama kali adalah Kaguya-hime no Monogatari dan post kali ini saya akan membahas tentang film tersebut.

Jika beberapa waktu yang lalu saya pernah membahas tentang The Book of Life yang animasinya dipenuhi dengan warna-warna cerah yang terlihat seperti wahana It’s a Small World di Disneyland, maka The Tale of the Princess Kaguya bagaikan lukisan cat air yang sederhana namun sangat indah. Dalam 15 menit pertama filmnya, saya terpaku pada gambar animasinya yang digambar dengan tangan, dengan garis-garis pensil arang yang sungguh jelas dan warna yang hadir dari cat air, dengan detail dan gerakan yang halus tidak terputus. Rasanya seperti melihat buku cerita anak-anak yang hidup. Jika harus memilih dari nominasi lainnya (Big Hero 6, How to Train Your Dragon 2, The Boxtrolls dan Song of The Sea), saya pasti memilih Kaguya-hime karena subyektifitas pada Studio Ghibli dan animasi yang luar biasa.

Tale of Princess Kaguya diambil dari cerita legenda Jepang yang sudah sangat terkenal, The Tale of Bamboo Cutter. Seorang kakek penebang bambu menemukan bayi di dalam batang bambu dan bayi tersebut dibesarkan layaknya anak sendiri dan suatu saat ketika sudah besar anak tersebut diambil kembali oleh Dewa di surga. Dalam film yang berdurasi 2 jam 17 menit ini, cerita ditambahkan dengan tema bahwa harta benda berlimpah tidaklah selalu membuat seorang bahagia, bahwa hidup sederhana dengan menyatu dengan alam dapat terasa lebih menyenangkan. Seperti filmnya sendiri, animasi yang canggih hampir terasa realistis tidak selalu membuat film menjadi indah.

Film ini disutradarai oleh Isao Takahata, salah satu pendiri Studio Ghibli. Selama ini Studio Ghibli dikenal dengan Hayao Miyazaki yang baru saja pensiun tahun lalu namun jika pernah menonton Grave of the Fireflies, pembuatnya adalah Ojisan jenius berusia 78 tahun ini. Film ini tadinya direncanakan dirilis pada musim panas tahun lalu, bersamaan dengan Kaze Tachinu, namun pada akhirnya harus ditahan sampai bulan November. Selain masuk nominasi Oscar, film ini juga ikut dalam Cannes dan Toronto festival.eab1f9239ed3d59f7b156ff2aea87325

Ketika tulisan ini saya buat, sejujurnya filmnya belum selesai saya tonton. Saya begitu semangat untuk menulis karena saya begitu senang dengan animasinya. Ghibli yang saya tahu kebanyakan adalah karya Miyazaki-san dengan detail penggambaran yang luar biasa, namun Takahata-san menyajikan sesuatu yang berbeda, dengan kualitas yang sama luar biasanya sehingga buat saya berhasil menyingkirkan setiap film animasi yang saya tonton tahun ini. Jika Big Hero 6 adalah karya dari kecanggihan teknologi, maka Kaguya-hime adalah karya dari seorang seniman. Nilainya sempurna dari seluruh sisi. Bagi anda yang penggemar film keluaran Ghibli seperti saya, maka wajiblah hukumnya untuk menonton film ini.