Ulasan: Disney’s The Jungle Book

Saya sudah pernah cerita kan kalau saya tumbuh dan besar dengan Disney. Sampai sekarang saya masih menganut prinsip kalau tidak ada orang yang pernah terlalu tua untuk sebuah film Disney. Saya menonton seluruh film Disney –terutama yang klasik, hafal hampir seluruh soundtrack-nya, dan masih girang ketika memijakkan kaki di gerbang Disneyland.

  Mulai minggu ini film Jungle Book keluar di bioskop. Masih diproduksi oleh Disney dengan inti cerita yang kurang lebih sama dengan yang keluar pada tahun 1967, jelas pada saat itu saya belum lahir. Namun film daur ulang yang sekarang tidak dalam bentuk animasi, melainkan dimainkan oleh seorang anak bernama Neel Sethi dengan aktingnya yang luar biasa dalam memerankan Mowgli. The Jungle Book disutradarai oleh Jon Favreau (Iron Man, The Avengers) dan dibuat dengan sangat detail dengan hampir seluruhnya CGI. Bagaimana tidak, satu-satunya orang di film tersebut hanya Mowgli dan saya sudah pasti tertipu dengan CGI yang ditampilkan, yang menurut saya the best from Disney, yet.

Mowgli adalah anak manusia yang terlantar di dalam hutan, ditemukan oleh macan kumbang bernama Bagheera (suara dari Ben Kingsley) dan diasuh oleh sekawanan serigala. Namun Mowgli harus pergi dari hutan karena seekor macan bernama Shere Khan (suara dari Idris Elba) memburunya karena menurutnya nanti Mowgli sama seperti manusia lain yang menghancurkan keseimbangan kehidupan hutan. Akhirnya Mowgli pergi ke desa manusia diantar oleh Bagheera, namun di tengah jalan harus terpisah dari si macan kumbang itu. Mowgli masuk ke sisi hutan yang dalam dan bertemu dengan Kaa (suara dari Scarlett Johansson) si ular yang hampir memakannya namun ditolong oleh Baloo (suara dari Bill Murray), seekor beruang madu. Karena merasa telah menolong nyawa Mowgli, Baloo meminta Mowgli untuk mengumpulkan madu dan disitulah mulai pertemanan antara Mowgli dan Baloo.

That river and the surrounding jungle, my friend, are all CGI.

Di film ini Jon Favreau tidak mengubah apa yang sudah ada pada aslinya, kecuali pada tampilan yang menjadi super nyata. Favreau sendiri adalah seorang fans dari film ini, yang–sama seperti saya–tumbuh dari film ini yang menganggap bahwa sudah tidak ada lagi yang dapat ditingkatkan dari filmnya yang terdahulu. Namun usahanya tidak sia-sia, dengan menggandeng rumah animasi komputer yang juga membuat Avatar dan dengan menggunakan teknologi super termutakhir (to the point of minutes, I say), hasilnya menjadi CGI yang paling menakjubkan yang pernah saya lihat. Did I ever tell you that I always be fascinated by a tiger? Di film ini saya puas melihat detil yang ada pada Shere Khan seperti saya girang melihat macan di kandang di kebun binatang, segirang ketika bertemu dan foto bersama anak macan.

The Jungle Book merupakan sebuah definisi yang saya tunggu-tunggu dari sebuah remake film klasik Disney. Film ini hadir tanpa ada perubahan di sisi cerita, tidak seperti apa dilakukan dengan Maleficent. Film ini juga berhasil memberikan lebih dari yang sudah saya perkirakan sebelumnya. Secara keseluruhan film ini sempurna, sesempurna bulu di tubuh Baloo ketika dia dan Mowgli berenang di sungai. Oh, that fur looked so damn perfect. Kalau kamu adalah pecinta, tumbuh dan besar dengan film Disney, yang satu ini tidak akan mengecewakan.

10/10. 

Roller Coaster di Pinggir Tebing

Saya sudah pernah cerita, kan, kalau saya adalah penggemar roller coaster. Orang bilangnya adrenaline junkie, namun saya belum bisa dibilang adrenaline junkie karena belum pernah mencoba bungee jumping dan permainan penciut nyali lainnya kecuali roller coaster dan sejenisnya.

Kali ini yang saya coba judulnya Hair Raiser, dapat ditemukan di Ocean Park Hongkong. Walaupun terletak di Hongkong, Hair Raiser adalah buatan Bolliger and Mabillard, perusahaan yang biasa menyuplai roller coaster di seluruh penjuru bumi termasuk di antaranya Krake yang ada di Heide Park atau beberapa yang ada di Six Flags Park di Amerika dan mempunyai kantor pusat di Swiss. Hair Raiser tingginya 35 meter (ah cemen), dengan kecepatan sampai dengan 88kph dan mempunyai 4 inversion atau diterbalikkan selama 4x. Dengan melihat spesifikasi tersebut tentunya kalah jauh dibandingkan Fujiyama yang 79 meter ataupun Dodonpa yang kecepatannya hingga 179kph dalam 1.8 detik saja, jadinya saya cengar-cengir saja waktu naik itu.

Hair Raiser adalah floorless coaster yang artinya tanpa pijakan namun bukan inverted coaster yang rel-nya ada di atas, floorless coaster rel-nya ada di bawah tapi keretanya tidak ada pijakan. Panjangnya 850 meter dengan waktu tempuh sedikit kurang dari 2 menit. Tidak lama dan tidak tinggi pula, namun yang saya sukai adalah roller coaster ini dipasang di pinggir tebing dengan pemandangan yang langsung ke laut selatan Hongkong.

IMG_6815

Front seat, 2nd to left, the one who rise the hand, that’s me🙂

Begitu naik, kita akan diikat dengan pengaman yang dari atas, bukan yg seperti Eejanaika, dengan tambahan sabuk pengaman yang mengikat besi pengaman dan kursinya. Setelah itu lantai akan hilang dan kereta siap dijalankan. Begitu keluar dari stasiun, track akan sedikit berbelok ke kiri untuk mulai naik untuk first drop. Seperti roller coaster buatan B&M lainnya, Hair Raiser juga punya pre-drop baru dilanjut dengan first drop. First drop-nya juga tidak terlalu tinggi, dengan tangan yang sudah di atas, saya pasrah dengan first drop yang langsung dihajar dengan loop seperti yang ada di dufan, lalu dilanjutkan dengan dive loop lalu ada hill dengan airtime yang saya suka yang ada speedcam-nya tempat kita difoto. Di akhir perjalanan, disuguhkan dengan pemandangan yang indah, yang memang kebetulan saat itu Hong Kong lagi cerah-cerahnya, jarang-jarang kan Hong Kong bisa cerah.

Hair Raiser cukup menyenangkan. Saya sampai naik 5x karena ingin merasakan setiap lekuk dari rel-nya, yang kedua kali terakhir berhasil mengajak si adik perempuan sampai naik 2x, karena katanya “Iya ini mah ga ada apa-apanya dibandingin Dodonpa.” Namun dibandingkan dengan Hair Raiser, ada roller coaster yang membuat saya ternganga-nganga lagi, di Ocean Park ini, namanya Wild West Mine Train.

Wild West Mine Train tidak tinggi, tidak ada pula inversion yang heboh. Yang membuat saya ternganga ada pemandangannya yang, sejujurnya saya belum pernah menemukan roller coaster dengan pemandangan seindah itu. Dulu Colossos hanya melihat sekitar Soltau yang gersang, Eejanaika atau pun Fujiyama pun cuma bisa melihat gunung fuji dari jauh, tapi Mine Train adalah satu-satunya roller coasternya yang membuat saya fokus pada pemandangannya, bukan ride-nya sendiri. Bukan artinya saya tidak suka dengan ride-nya, yang memang juga menyenangkan, pemandangan yang indah itu membuat ride-nya jadi sangat berkesan.

Menurut roller coaster database, Mine Train dibuat oleh Zamperla, sebuah pabrikan dari Italia. Tidak terlalu terkenal, tapi saya berterima kasih dengan desainnya yang sangat kreatif untuk membuat roller coaster di jurang dengan memanfaatkan kontur bukit dan tanah Hong Kong yang sepertinya lebih banyak karangnya. Panjangnya 700 meter, dengan durasi sedikit lebih dari 2 menit. Bentuk keretanya dibuat seperti kereta tambang dengan abrest saja. Tidak apa, waktu naik Colossos pun juga cuma ada abrest. Kereta pertama hanya ada 2 seat saja, karena depannya ada kepala lokomotif yang menutupi, sedikit disayangkan karena menghalangi pemandangan.

Begitu keluar dari stasiun, kereta langsung naik untuk first drop. Ketika naik untuk yang kedua kalinya, di rel sebelum first drop, ada burung elang yang songongnya nongkrong hingga kurang dari semeter kereta mau menabrak, burung itu baru terbang. Saya dan adik-adik sedikit panik, takut kalau burung tersebut akan terlindas kereta. First drop-nya lumayan, ada airtime ketika naik untuk muter-muter di dome lalu ada hill lagi yang membuat airtime untuk kedua kalinya sembari miring ke kiri. Jadinya kalau kamu duduk di sebelah kiri, mungkin akan sedikit takut akan jatuh ke jurang di bawahnya. Namun fear not, my fellow roller coaster junkie, setelah hill itu akan ada drop lagi yang langsung mengembalikan posisi duduk ke semua lagi. Di akhir perjalanan, sebelum brake, akan ada speedcam jadi jangan lupa bergaya.

Sebenarnya ada 2 lagi roller coaster di Ocean Park, namanya Dragon dan Arctic Blast. Kalau katanya Dragon adalah yang terbesar di Hong Kong, saya secara pribadi tidak suka. Entah yang membuat siapa, namun pengamannya tidak firm di badan saya, atau mungkin saya yang terlalu kecil dan perjalanannya yang membuat pusing. Sedikit ingat dengan Halilintar yang sama membuat pusing, namun yang ini membuat kepala saya terpental ke kanan dan kiri sehingga waktu turun saya memutuskan itu adalah roller coaster paling buruk yang pernah saya naiki. Kalau yang Arctic Blast, dapat disamakan dengan roller coaster berbentuk kepik yang ada di Dufan. Tidak tinggi dan setiap perjalanan ada 2 putaran. Lumayan sebagai iseng-iseng atau memang kamu sangat pemula.

Menurut opini saya, warga Hong Kong dan sekitarnya sepertinya tidak terlalu suka hal yang menantang. Buktinya ketika theme park sudah mau tutup, sama sekali tidak ada antrian di Hair Raiser yang membuat saya ingin tetap duduk di kereta kalau saja saya bisa berbahasa kanton. Jika ada kesempatan ke Ocean Park, saya sarankan untuk naik Mine Train dan Hair Raiser. Untuk saya, perjalanan mencari roller coaster selanjutnya mungkin ke tanah eropa karena sudah lama saya mengincar Silver Star. Atau ada yang mau ke Jepang lagi? Saya dengan senang hati ingin naik Steel Dragon 2000 yang konon katanya terpanjang di dunia.

 

Pembuka Tahun 2016

Aaahh.. Mari memulai halaman baru blog di tahun yang baru ini. Tahun lalu niat untuk menonton film banyak ditenggelamkan dengan drama jepang dan korea, namun sepertinya memang tahun lalu tidak banyak film yang menarik hati untuk di tonton.

Untuk film tahun ini dibuka dengan Bakuman. Yeay!! Akhirnya film ini ditonton juga. Film ini sudah bikin saya panas dingin sejak ke Jepang kemarin dan akhirnya bisa ditonton, di pesawat, ketika kemarin ke Hongkong. Ternyata film-film yang tersedia di in-flight entertainment Cathay Pacific sudah cukup ter-update, buktinya selain Bakuman sudah ada 2 film Attack on Titan. Walaupun masih versi TS, tapi lumayan lah bisa lihat Sometani Shota. Review-nya nanti saja di postingan selanjutnya.

Banyak film yang mau saya tonton tahun ini termasuk Sherlock yang posternya dipajang besar-besar di stasiun MTR di Hongkong, dan Deadpool yang sudah saya tunggu dari tahun 2014. Untuk film Jepang, saya belum melihat jajaran film yang akan keluar, tapi saya masih menunggu film terbaru Sion Sono yang baru itu. Lagipula sepertinya saya masih akan terus menonton drama Korea, selama drama Jepang belum ada yang baru, mengingat pace saya kalau nonton drama bisa 16-20 hanya dalam 2 malam saja.

Iya, saya baru pulang dari Hongkong. Akhirnya pergi ke sana lagi dan akhirnya pergi ke Ocean Park untuk mencoba roller coaster yang dipasang di pinggir tebing itu. Ocean Park besar sekali, dengan harga tiket yang hanya 340HKD (tadinya 385, tapi saya dapet diskon krn beli di Tourist Center di Admiralty station), di dalamnya sudah termasuk akuarium, lihat panda dan pinguin, naik cable car yang lewat di antara bukit dan menikmati seluruh atraksi yang ada di sana. Semodel dufan, tapi 2x lebih luas daripada dufan. Tidak rugi lah pokoknya.

Mengenai resolusi tahun 2016, saya mah tidak mau muluk-muluk deh. Setelah tahun lalu berhasil ke Jepang, lalu bisa nonton film Jepang tanpa modal subtitle, tahun ini saya ingin punya pacar orang Jepang *lalu ditimpuk*. Itu mah muluk-muluk yah. Yah apa pun itu, semoga tahun ini nasib percintaan menjadi lebih baik dan saya berhasil naik Colossos lagi atau yang lebih tinggi lagi, Silver Star.

Spectre’s Writing’s on The Wall

Soundtracknya James Bond yang terbaru, Writing’s On The Wall, terdengar megah sekaligus gelap di awal. Jika dibandingkan dengan soundtrack-soundtrack yang sebelumnya, saya merasa film yang kali ini akan lebih gelap dari sebelumnya. Kabarnya film yang ini menyajikan bagaimana Bond menjadi Bond. Jujur saya awalnya tidak terlalu suka dengan film Bond, tapi semenjak Skyfall, entah mengapa film ini menjadi sangat menarik.

Karena Writing’s on The Wall, semalaman saya mendengarkan hampir semua soundtrack film Bond. Tetapi menurut saya, You Know My Name yang dinyanyikan oleh Chris Cornell untuk film Casino Royale masih yang terbaik, diikuti dengan Golden Eye oleh Tina Turner.

How do I live, How do I breathe
When you’re not here I’m suffocating..

Piano dengan iringan orkestra terdengar indah, seperti di piano concerto. Suara lirih dan falsetto Sam Smith terdengar cocok dan terasa seperti diiris-iris. Bagi sebagian orang mungkin lagu ini tidak cocok dengan film Bond, namun bagi saya, lagu ini menunjukkan sisi manusia dari Bond. sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan banyaknya falsetto di akhir lagu, saya lebih ingin mendengar suara Sam Smith dengan power, namun mungkin saja falsetto ini terdengar cocok. Saya belum melihat filmnya karena belum tayang di Jakarta, namun saya sangat menunggu saat film dibuka dengan lagu ini.

Life is an Eejanaika

Beberapa minggu sebelum terbang ke Jepang, si kawan yang akan pergi bersama mendadak whatsapp.

Pat: Bul, gue mau Fujikyu, mau ikutan gak? Itu kayak dufan tapi isinya jetcoaster semua.

Saya: Hah? *tanpa pikir panjang langsung gugling* BAH INI KEREN BANGET JETCOASTERNYA. HAYOKLAH.

*capslock tanda tak santai*

  
Yang saya lihat dan bilang keren pada waktu itu adalah Eejanaika, sebuah wing coaster dengan konsep 4 dimensi yang artinya kursinya dapat berputar-putar. Menurut data di websitenya, Eejanaika memiliki tinggi 76 meter, dengan panjang track lebih dari 1 kilometer dan kecepatan maksimum hingga 126 km/jam. Eejanaika merupakan salah satu dari 2 wing coaster 4 dimensi yang ada di dunia, namun Eejanaika lebih panjang, lebih cepat, lebih tinggi dan memegang rekor dunia dalam banyaknya putaran di dalam jetcoaster, yaitu 14 putaran. Saya belum pernah naik wing coaster, apa lagi yang 4 dimensi, sedangkan wing coaster 4 dimensi cuma ada 2 di dunia dan satunya lagi ada di belahan bumi yang lain, jadi apa pun yang terjadi saya harus berhasil naik Eejanaika.

Di hari H, setelah berlari-lari keliling stasiun Shinjuku untuk mencari loket tiket bus, akhirnya saya, kedua adik tercinta dan si kawan akhirnya berhasil juga sampai di Fuji-Q Highland, sebuah theme park yang cukup terkenal dengan jetcoasternya yang hobi memecahkan rekor dunia dan rumah hantunya yang membutuhkan waktu sampai 1 jam untuk dapat diselesaikan. Target saya pada hari itu adalah pertama, Eejanaika; kedua, Dodonpa; ketiga, antara Takabisha atau Fujiyama, yang mana yang sempat. Kenapa begitu? Karena setelah membaca-baca review tentang Fuji-Q ternyata theme park ini cukup terkenal dengan antrian jetcoasternya yang lama luar biasa, jadinya saya prioritaskan Eejanaika menjadi yang pertama.

Ketika sampai, saya tidak sabar untuk langsung antri Eejanaika. Adik-adik ternyata tidak cukup adrenalin untuk menghadapi tinggi dan gilanya Eejanaika, jadinya mereka memilih untuk antri atraksi yang lain, sementara saya dan si kawan langsung antri yang ternyata sudah cukup panjang. Cukup lama kami mengantri, mungkin sekitar 1.5 jam, tapi hal tersebut dapat terhibur dengan memperhatikan kelakuan-kelakuan anak muda Jepang yang ternyata memang seperti di komik atau pun dorama. Ya, saya tahu hampir semua anak muda di Jepang pergi ke theme park untuk dating site, jadinya kalau kamu berpacaran adalah suatu hal yang wajar untuk pergi ke theme park bersama, entah itu bersama teman-teman atau bersama pasangan lain lagi. Saya dan si kawan mengomentari bagaimana pasangan di depan kami yang lelakinya menawari untuk membawa tas.

Pat: Bul, kalo disini kan yang cowonya nawarin bawa tas yak, lah kalo gue mah harus minta kali, itu juga belom tentu mau dibawain.

Saya: Bahahahaha.. Kalo gue kayaknya bakalan disemprot, Pat. “Lagian salah sendiri bawa barang banyak-banyak, jadi berat kan”

Pat: Iya, iya, iya. Kayaknya bakal digituin deh. *Lalu kami ngakak bersama*

Selain itu kami menemukan pula sebuah papan tulis, yang mungkin ditujukan sebagai media pesan dan kesan siapa pun yang mengantri Eejanaika, tapi entah kenapa kami melihatnya sebagai papan tulis alay dengan coret-coretan yang kemungkinan bisa kami temukan di tiang listrik. Tadinya niatnya kami ingin menulis Bismillah dengan huruf arab lengkap seperti pada waktu dulu jaman SD, namun sayangnya antrian kami melewati papan tulis tersebut jadi gagal lah rencana tersebut.

  
Sampai di atas, akhirnya terungkap juga mengapa antrian Eejanaika begitu lama. Ternyata walaupun keretanya ada dua, pengecekan terhadap keselamatan dilakukan dengan sangat menyeluruh sehingga saya yakin 100% tidak akan terjadi apa-apa dengan saya. Kursinya juga cukup tinggi, sehingga saya harus memanjat untuk bisa naik. Ada sabuk yang menahan perut saya, lalu ada alat pengaman di antara tangan yang super besar, yang harus dibantu oleh operator penjaga untuk dapat menguncinya. Pengamannya tidak yang dari atas yang selama ini saya temukan, pengamannya seperti rompi besi yang mengunci bagian atas tubuh dan paha sehingga tidak dapat bergerak. Lalu masih ada sabuk yang mengunci rompi besi itu. Setelah semua terpasang, si operator kembali mengecek pengaman apakah sudah terpasang dengan baik dan jika sudah oke, kereta baru boleh diberangkatkan bersamaan dengan lagunya yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telinga dan para tim operator yang melambaikan tangan seraya berkata “selamat jalan”, lalu pada saat itu jantung saya berdegup sangat kencang.

Apa yang terjadi setelah itu adalah yang terbaik yang pernah saya rasakan dalam pengalaman mencoba segala macam jetcoaster. Tersebutlah seperti Colossos dan Desert Race di Jerman, Aerosmith atau Indiana Jones di Disneyland Paris, Space Mountain di Disneyland Hongkong, ataupun yang kecil-kecil seperti yang di dufan, semuanya terlewatkan, bahkan Colossos yang saya anggap paling keren yang pernah saya naiki juga lewat. Ketika baru jalan, kursi sudah diputar sehingga kita menghadap ke langit dan kereta berjalan mundur. Di perjalanan naik, saya melihat pemandangan di daerah sekitar dengan cuaca yang luar biasa cerah, namun tetap sejuk karena letak Fuji-Q yang di dataran tinggi dekat gunung Fuji. Saya panik ketika pemandangan berubah menjadi kecil dan jarak yang begitu jauh dengan tanah, begitu saya mendengar suara orang mulai berteriak di belakang saya, tangan langsung dengan erat memegang rompi besi dan mendadak posisi saya seperti terjun bebas, menatap tanah, ini lah first drop yang katanya 90 derajat itu. Perasaan ketika meluncur ke bawah tidak dapat dijabarkan, mendadak suara saya hilang dan sebelum saya menyadari akan menyentuh tanah, kursi sudah diputar kembali sehingga saya terlempar entah kemana dengan jalur yang tidak dapat di prediksi. Selanjutnya saya akhirnya pasrah dengan gerakan-gerakan dan hanya bisa berteriak. Ada spot dimana kita difoto seperti yang ada di jetcoaster lainnya, tapi setelah turun dan melihat hasilnya, foto kami seperti ikan yang kehabisan nafas yang keluar dari kolam. Sungguh buruknya sehingga kami putuskan untuk tidak membeli foto yang nantinya akan menjadi aib itu.

Sejujurnya Eejanaika memiliki 2 hal yang paling saya tidak suka; pertama, posisi kaki yang menggantung; kedua, kursi yang di putar-putar. Namun hal tersebut menjadi sebuah kombinasi yang sangat hebat jika berjalan di jalur yang entah seperti apa bentuknya, sehingga kalau biasanya kamu tahu kereta jetcoaster akan mengarah kemana, maka di Eejanaika hal tersebut menjadi hal yang sulit dilakukan, kecuali kamu sudah berulang-kali naik dengan mencoba seluruh posisi kursi sehingga mencoba seluruh kemungkinan. Konon kabarnya jika kamu naik di posisi yang berbeda, maka pengalaman yang dirasakan juga berbeda. Saya ingin sekali naik dengan mencoba di posisi yang berbeda namun antrian yang luar biasa panjang dan atraksi lain juga menunggu untuk dinaiki. Sayangnya, di Fuji-Q atau tepatnya di Jepang tidak menganut prinsip Single Rider, jadinya jika ada grup yang ganjil, maka akan ada bangku kosong dan itu cukup membuat saya kesal. Namun, jika penasaran dan ingin melihat seperti apa pengalamannya, video nya dapat banyak ditemukan di youtube dan kalau kamu adalah seorang penggemar atraksi yang memacu adrenalin, seperti saya, Eejanaika sangat wajib dicoba, tentunya jika ada waktu untuk pergi ke Jepang.

Ulasan Attack on Titan Live Action

Baru saja sekitar 2 minggu lalu saya menamatkan 25 episode AoT dalam 24 jam hanya demi film live actionnya, yang harusnya nongol minggu ini, tapi mundur ke minggu depan. Saya memang begitu, waktu dulu ketika Kenshin ada live actionnya, saya kembali marathon anime-nya demi mengingat kembali jalan cerita. Tapi sepertinya kebiasaan saya itu terkadang membuat perkiraan pada film live actionnya melambung tinggi. AoT live action memang belum ada di bioskop indonesia, namun salinannya sudah beresar di dunia maya dengan kualitas yang saya akui dapat ditonton,  jadinya saya sudah menonton duluan, hari minggu kemarin, di rumah.

  
Membuat film yang ceritanya berdasarkan dari 13 episode anime memang tidak mudah. Seringkali ada beberapa adegan yang harus dipotong atau disesuaikan agar ceritanya tetap dapat dinikmati dan durasi filmnya tidak terlalu panjang. Ada beberapa film yang berhasil melakukan hal tersebut, namun sayangnya juga tidak sedikit yang gagal sehingga fans berat merasa kecewa. Baru minggu lalu ketika saya selesai menonton Parasyte part 1 saya membaca reviewnya di Kotaku, si pengulas yang termasuk fans berat merasa terkhianati dengan hilangnya beberapa yang dibutuhkan sebagai inti cerita. Minggu ini saya merasakan hal yang sama dengan si pengulas tersebut ketika selesai menonton versi live action AoT.

Attack on Titan bercerita di masa post-apocalypse dimana hidup raksasa, yang disebut dengan titan, yang mengganggu kehidupan manusia–dengan memakan manusia. Seorang anak bernama Eren harus kehilangan ibunya yang dimakan oleh titan tersebut di depan matanya dan bertekad akan menghapus titan dari muka bumi ini. Untuk itu, Eren bergabung dengan pasukan militer yang bertugas melindungi masyarakat dan menumpas titan dan bertekad akan menghabisi semua titan yang berjalan di bumi ini. Itu yang diceritakan dalam anime atau pun komiknya. Namun hal yang berbeda terjadi di live actionnya. Jika motivasi Eren di anime atau komiknya adalah karena ibunya terbunuh di depan matanya, di live actionnya, motivasi Eren adalah karena Mikasa dikira juga mati dimakan titan. Hal tersebut membuat perbedaan besar dengan inti ceritanya. Sampai setengah film saya masih menunggu ketika ibunya Eren meninggal dimakan titan. Bahkan sampai setengah film pula saya masih menganggap kalau Mikasa adalah saudara angkat Eren, walaupun memang mungkin saja tumbuh perasaan cinta. Namun perubahan cerita yang sangat besar itu membuat saya langsung ingin melempar laptop pada saat itu juga.

Setelah ilfil dengan jalan cerita yang diubah, akhirnya saya mencari apa yang dapat saya nikmati dari film ini. Adegan gore titan memakan manusia sempat membuat saya ngilu-ngilu karena suara tulang yang dikunyah. Saya termasuk yang kuat kalau melihat darah bercipratan dimana-mana, namun jika sudah mendengar suara kunyahan atau tubuh dipotong saya mules juga. Di edisi anime-nya, saya berani nonton sambil makan indomie, namun saya sempat mules ketika nonton versi live actionnya sehingga sempat mengurungkan untuk makan sambil menontonnya. Jika harus ditayangkan di bioskop indonesia, mungkin saja adegan itu akan kena kekejaman gunting sensor. Dari sisi animasi, seorang teman menyayangkan adegan penggunaan 3D maneuver gear yang tidak terlalu banyak. Penggunaan 3D maneuver gear memang terlihat lincah dan ringan di animenya, namun jika harus dibuat dengan ala spiderman yang lompat-lompat di antara gedung, hal tersebut rasanya cukup sulit juga, apalagi dengan titan yang juga buatan komputer.

Sebelum ini saya sempat menonton miniseri-nya yang hanya terdiri dari 3 episode. Miniseri ini merupakan suplemen dari film live action layar lebarnya dengan peran utama Hanji, Sasha dan Lil, untuk karakter yang terakhir ini merupakan karakter baru yang menurut saya sedikit mirip dengan Annie di animenya, namun juga bukan Annie, jadi saya anggap sebagai karakter baru. Episode 1 menceritakan tentang bagaimana 3D maneuver gear ditemukan, episode 2 menceritakan tentang kehidupan Sasha dan episode 3 menceritakan kisah cinta Lil dengan pacarnya yang juga anggota di grup militer yang sama. Bagi saya hanya episode 1 yang penting, sisanya tidak lebih dari cerita pelengkap yang menurut saya tidak apa-apa kalau tidak diceritakan, justru yang penting ketika ibunya Eren mati malah tidak ada.

Apakah nanti saya akan menonton bagian keduanya, tentu saja. Saya sudah kepalang tanggung menonton bagian pertama, maka yang bagian kedua juga sama wajibnya untuk ditonton. Kabarnya bagian kedua akan mencakup 12 episode sisa dari animenya yang berarti menceritakan tentang bagaimana kehidupan Eren sebagai anggota Survey Corps. Tidak akan ada Captain Levi maka lupakan lah harapan melihat versi manusianya.  Selain itu mungkin ada yang lebih bisa saya harapkan di bagian kedua dari film ini.

6/10.

Cerita Fandom: Attack on Titan

Ketika akhir pekan kemarin saya menamatkan 25 episode Attack on Titan dalam waktu kurang dari 24 jam, pada saat itu saya tahu kalau saya telah masuk ke dalam fandomnya. Mungkin benar kalau katanya orang “it takes no time to fall in love” karena pada saat itu juga saya langsung terobsesi dengan Attack on Titan.

attack_on_titan

Sebenarnya saya sudah tahu lama mengenai Attack on Titan namun belum pernah menonton animenya karena sejujurnya tema-nya tidak terlalu menarik untuk saya. Mungkin sedikit tercampur dengan bayangan dari Percy Jackson dan pengertian kalau Titan adalah kumpulan raksasa yang dulu mendiami bumi lalu di penjara oleh dewa agar bumi dapat damai. Ya, saya tahu kalau film ini termasuk yang terbaik pada tahun 2013 namun tetap saja saya belum tertarik untuk menonton. Ketika ada teman yang memberitahu kalau anime-nya akan dibuat versi live actionnya, saya sejujurnya tidak terlalu semangat untuk menonton, seperti saya tidak tertarik dengan versi live action Detective Conan. Menurut saya sangat sedikit film live action yang dapat memenuhi rasa penasaran seorang fans, walaupun saya luar biasa bias pada Rurouni Kenshin. Bersyukur saya termakan hype filmnya, sehingga muncul rasa penasaran seperti apa sih anime yang disebut-sebut sebagai yang paling bagus di tahun 2013 ini.

Akhirnya pada akhir pekan kemarin karena sudah bingung dengan habisnya tontonan dan Shokugeki no Souma yang hadir cuma seminggu sekali, akhirnya saya mencoba untuk menonton anime-nya, streaming, karena menunggu donlodan itu selalu menyakitkan.

Episode 1. Hmm… boleh juga.

Episode 2. Wah lumayan deh…

Episode 3: Seru loh..

Episode 4: ANJROT KENAPA PELEMNYA JADI BEGINI? BERAPA EPISODE SIH TOTALNYA? CUMA 25? AYO KITA TAMATKAN!!

Dan begitu selanjutnya hingga habis 25 episode pada jam 1 pagi, padahal paginya ada meeting di Sentul yang ternyata dipindah ke BSD.

Bagi saya nonton Attack on Titan seperti naik jet coaster. Di setiap episode ada saja kejutannya dan sering dengan kurang ajarnya bersambung di bagian yang sangat penting. Tidak heran kalau anime ini masuk dalam deretan yang terbaik sehingga dibuat begitu banyak OVA dan versi spesialnya, bahkan season 2 sedang dibuat dengan jadwal pemutaran sekitar akhir tahun 2016. Jalan cerita ternyata bukan yang saya juga tidak suka. Dengan adegan action yang bertebaran dimana-mana lengkap dengan darah yang berceceran, membuat saya betah nonton filmnya. Tidak ada drama yang bertele-tele, semuanya terasa straighforward sehingga cocok buat saya yang sangat rewel dengan jalan cerita.

Lalu untuk meyakinkan diri, saya coba tonton segala jenis trailer live actionnya yang sudah banyak beredar. Dalam hati saya berharap kalau film ini paling tidak jadi sekeren Ruroken. Awalnya saya kira filmnya hanya dibuat 1 film live action saja, ternyata ketika mencari informasi di blog film langganan, saya baru tahu kalau live action-nya akan dibuat 2 versi, layaknya Ruroken terdahulu, dan mini seri dengan total 3 episode. Pada saat itu mata saya melotot.

MINI SERI? AOT BAKAL ADA MINI SERI-NYA? TAYANG DI TV? (yang artinya H+1 penayangan selalu muncul di web donlod langganan)

Ini terlalu berlebihan buat saya. Hal ini membuat saya senang bukan kepalang. Siapa yang menyangka bahwa AoT akan ada mini serinya, versi live action, selain dari versi layar lebarnya. Bahkan Ruroken yang legendaris itu tidak mempunyai serial dalam bentuk live action. Yang saya tahu ada film dan mini seri-nya baru hanya Death Note saja, itu pun yang versi serialnya ceritanya berbeda dengan aslinya. Berbahagia lah kalian fans AoT. Serial Attack on Titan kabarnya akan menceritakan bagaimana 3D Maneuver Gear ditemukan, dengan pemeran utama Hanji Zoe. Dari trailernya sepertinya akan ada Captain Levi, tapi karena tulisannya kanji semua dan kemampuan baca kanji saya masih sangat menyedihkan, jadinya saya hanya berharap itu adalah Captain Levi. Walaupun harusnya sih 3D Maneuver Gear diciptakan sebelum Levi bergabung dengan Survey Corps. Menurut trailer, serialnya tayang pada tanggal 15 Agusus nanti, mungkin bisa dijadikan pembukaan sebelum nonton versi layar lebarnya.

Attack on Titan kabarnya akan di putar pada tanggal 19 Agustus 26 Agustus ini di bioskop kesayangan kita semua. Film keduanya kemungkinan akan hadir di bulan Oktober karena jadwal rilisnya di Jepang tanggal 19 September. Semoga tidak banyak yang dipotong oleh badan sensor Indonesia karena di trailernya saya melihat banyak adegan makan orang. Tidak sabar.