Ulasan Attack on Titan Live Action

Baru saja sekitar 2 minggu lalu saya menamatkan 25 episode AoT dalam 24 jam hanya demi film live actionnya, yang harusnya nongol minggu ini, tapi mundur ke minggu depan. Saya memang begitu, waktu dulu ketika Kenshin ada live actionnya, saya kembali marathon anime-nya demi mengingat kembali jalan cerita. Tapi sepertinya kebiasaan saya itu terkadang membuat perkiraan pada film live actionnya melambung tinggi. AoT live action memang belum ada di bioskop indonesia, namun salinannya sudah beresar di dunia maya dengan kualitas yang saya akui dapat ditonton,  jadinya saya sudah menonton duluan, hari minggu kemarin, di rumah.

  
Membuat film yang ceritanya berdasarkan dari 13 episode anime memang tidak mudah. Seringkali ada beberapa adegan yang harus dipotong atau disesuaikan agar ceritanya tetap dapat dinikmati dan durasi filmnya tidak terlalu panjang. Ada beberapa film yang berhasil melakukan hal tersebut, namun sayangnya juga tidak sedikit yang gagal sehingga fans berat merasa kecewa. Baru minggu lalu ketika saya selesai menonton Parasyte part 1 saya membaca reviewnya di Kotaku, si pengulas yang termasuk fans berat merasa terkhianati dengan hilangnya beberapa yang dibutuhkan sebagai inti cerita. Minggu ini saya merasakan hal yang sama dengan si pengulas tersebut ketika selesai menonton versi live action AoT.

Attack on Titan bercerita di masa post-apocalypse dimana hidup raksasa, yang disebut dengan titan, yang mengganggu kehidupan manusia–dengan memakan manusia. Seorang anak bernama Eren harus kehilangan ibunya yang dimakan oleh titan tersebut di depan matanya dan bertekad akan menghapus titan dari muka bumi ini. Untuk itu, Eren bergabung dengan pasukan militer yang bertugas melindungi masyarakat dan menumpas titan dan bertekad akan menghabisi semua titan yang berjalan di bumi ini. Itu yang diceritakan dalam anime atau pun komiknya. Namun hal yang berbeda terjadi di live actionnya. Jika motivasi Eren di anime atau komiknya adalah karena ibunya terbunuh di depan matanya, di live actionnya, motivasi Eren adalah karena Mikasa dikira juga mati dimakan titan. Hal tersebut membuat perbedaan besar dengan inti ceritanya. Sampai setengah film saya masih menunggu ketika ibunya Eren meninggal dimakan titan. Bahkan sampai setengah film pula saya masih menganggap kalau Mikasa adalah saudara angkat Eren, walaupun memang mungkin saja tumbuh perasaan cinta. Namun perubahan cerita yang sangat besar itu membuat saya langsung ingin melempar laptop pada saat itu juga.

Setelah ilfil dengan jalan cerita yang diubah, akhirnya saya mencari apa yang dapat saya nikmati dari film ini. Adegan gore titan memakan manusia sempat membuat saya ngilu-ngilu karena suara tulang yang dikunyah. Saya termasuk yang kuat kalau melihat darah bercipratan dimana-mana, namun jika sudah mendengar suara kunyahan atau tubuh dipotong saya mules juga. Di edisi anime-nya, saya berani nonton sambil makan indomie, namun saya sempat mules ketika nonton versi live actionnya sehingga sempat mengurungkan untuk makan sambil menontonnya. Jika harus ditayangkan di bioskop indonesia, mungkin saja adegan itu akan kena kekejaman gunting sensor. Dari sisi animasi, seorang teman menyayangkan adegan penggunaan 3D maneuver gear yang tidak terlalu banyak. Penggunaan 3D maneuver gear memang terlihat lincah dan ringan di animenya, namun jika harus dibuat dengan ala spiderman yang lompat-lompat di antara gedung, hal tersebut rasanya cukup sulit juga, apalagi dengan titan yang juga buatan komputer.

Sebelum ini saya sempat menonton miniseri-nya yang hanya terdiri dari 3 episode. Miniseri ini merupakan suplemen dari film live action layar lebarnya dengan peran utama Hanji, Sasha dan Lil, untuk karakter yang terakhir ini merupakan karakter baru yang menurut saya sedikit mirip dengan Annie di animenya, namun juga bukan Annie, jadi saya anggap sebagai karakter baru. Episode 1 menceritakan tentang bagaimana 3D maneuver gear ditemukan, episode 2 menceritakan tentang kehidupan Sasha dan episode 3 menceritakan kisah cinta Lil dengan pacarnya yang juga anggota di grup militer yang sama. Bagi saya hanya episode 1 yang penting, sisanya tidak lebih dari cerita pelengkap yang menurut saya tidak apa-apa kalau tidak diceritakan, justru yang penting ketika ibunya Eren mati malah tidak ada.

Apakah nanti saya akan menonton bagian keduanya, tentu saja. Saya sudah kepalang tanggung menonton bagian pertama, maka yang bagian kedua juga sama wajibnya untuk ditonton. Kabarnya bagian kedua akan mencakup 12 episode sisa dari animenya yang berarti menceritakan tentang bagaimana kehidupan Eren sebagai anggota Survey Corps. Tidak akan ada Captain Levi maka lupakan lah harapan melihat versi manusianya.  Selain itu mungkin ada yang lebih bisa saya harapkan di bagian kedua dari film ini.

6/10.

Cerita Fandom: Attack on Titan

Ketika akhir pekan kemarin saya menamatkan 25 episode Attack on Titan dalam waktu kurang dari 24 jam, pada saat itu saya tahu kalau saya telah masuk ke dalam fandomnya. Mungkin benar kalau katanya orang “it takes no time to fall in love” karena pada saat itu juga saya langsung terobsesi dengan Attack on Titan.

attack_on_titan

Sebenarnya saya sudah tahu lama mengenai Attack on Titan namun belum pernah menonton animenya karena sejujurnya tema-nya tidak terlalu menarik untuk saya. Mungkin sedikit tercampur dengan bayangan dari Percy Jackson dan pengertian kalau Titan adalah kumpulan raksasa yang dulu mendiami bumi lalu di penjara oleh dewa agar bumi dapat damai. Ya, saya tahu kalau film ini termasuk yang terbaik pada tahun 2013 namun tetap saja saya belum tertarik untuk menonton. Ketika ada teman yang memberitahu kalau anime-nya akan dibuat versi live actionnya, saya sejujurnya tidak terlalu semangat untuk menonton, seperti saya tidak tertarik dengan versi live action Detective Conan. Menurut saya sangat sedikit film live action yang dapat memenuhi rasa penasaran seorang fans, walaupun saya luar biasa bias pada Rurouni Kenshin. Bersyukur saya termakan hype filmnya, sehingga muncul rasa penasaran seperti apa sih anime yang disebut-sebut sebagai yang paling bagus di tahun 2013 ini.

Akhirnya pada akhir pekan kemarin karena sudah bingung dengan habisnya tontonan dan Shokugeki no Souma yang hadir cuma seminggu sekali, akhirnya saya mencoba untuk menonton anime-nya, streaming, karena menunggu donlodan itu selalu menyakitkan.

Episode 1. Hmm… boleh juga.

Episode 2. Wah lumayan deh…

Episode 3: Seru loh..

Episode 4: ANJROT KENAPA PELEMNYA JADI BEGINI? BERAPA EPISODE SIH TOTALNYA? CUMA 25? AYO KITA TAMATKAN!!

Dan begitu selanjutnya hingga habis 25 episode pada jam 1 pagi, padahal paginya ada meeting di Sentul yang ternyata dipindah ke BSD.

Bagi saya nonton Attack on Titan seperti naik jet coaster. Di setiap episode ada saja kejutannya dan sering dengan kurang ajarnya bersambung di bagian yang sangat penting. Tidak heran kalau anime ini masuk dalam deretan yang terbaik sehingga dibuat begitu banyak OVA dan versi spesialnya, bahkan season 2 sedang dibuat dengan jadwal pemutaran sekitar akhir tahun 2016. Jalan cerita ternyata bukan yang saya juga tidak suka. Dengan adegan action yang bertebaran dimana-mana lengkap dengan darah yang berceceran, membuat saya betah nonton filmnya. Tidak ada drama yang bertele-tele, semuanya terasa straighforward sehingga cocok buat saya yang sangat rewel dengan jalan cerita.

Lalu untuk meyakinkan diri, saya coba tonton segala jenis trailer live actionnya yang sudah banyak beredar. Dalam hati saya berharap kalau film ini paling tidak jadi sekeren Ruroken. Awalnya saya kira filmnya hanya dibuat 1 film live action saja, ternyata ketika mencari informasi di blog film langganan, saya baru tahu kalau live action-nya akan dibuat 2 versi, layaknya Ruroken terdahulu, dan mini seri dengan total 3 episode. Pada saat itu mata saya melotot.

MINI SERI? AOT BAKAL ADA MINI SERI-NYA? TAYANG DI TV? (yang artinya H+1 penayangan selalu muncul di web donlod langganan)

Ini terlalu berlebihan buat saya. Hal ini membuat saya senang bukan kepalang. Siapa yang menyangka bahwa AoT akan ada mini serinya, versi live action, selain dari versi layar lebarnya. Bahkan Ruroken yang legendaris itu tidak mempunyai serial dalam bentuk live action. Yang saya tahu ada film dan mini seri-nya baru hanya Death Note saja, itu pun yang versi serialnya ceritanya berbeda dengan aslinya. Berbahagia lah kalian fans AoT. Serial Attack on Titan kabarnya akan menceritakan bagaimana 3D Maneuver Gear ditemukan, dengan pemeran utama Hanji Zoe. Dari trailernya sepertinya akan ada Captain Levi, tapi karena tulisannya kanji semua dan kemampuan baca kanji saya masih sangat menyedihkan, jadinya saya hanya berharap itu adalah Captain Levi. Walaupun harusnya sih 3D Maneuver Gear diciptakan sebelum Levi bergabung dengan Survey Corps. Menurut trailer, serialnya tayang pada tanggal 15 Agusus nanti, mungkin bisa dijadikan pembukaan sebelum nonton versi layar lebarnya.

Attack on Titan kabarnya akan di putar pada tanggal 19 Agustus 26 Agustus ini di bioskop kesayangan kita semua. Film keduanya kemungkinan akan hadir di bulan Oktober karena jadwal rilisnya di Jepang tanggal 19 September. Semoga tidak banyak yang dipotong oleh badan sensor Indonesia karena di trailernya saya melihat banyak adegan makan orang. Tidak sabar.

(Akhirnya) Ju-On 4 The Finale

Ju-on-_The_Final-p1Saya begitu bersemangat ketika mengetahui Ju-On ada film baru-nya, versi Jepang, dengan Toshio yang berkeliaran di setiap sudut film. Film ini kabarnya merupakan installment terakhir sehingga diberi sub-judul The Finale. Trailernya sendiri pertama kali saya tonton lewat twitchfilm dan tidak menyangka kalau filmnya mendapat slot untuk ditayangkan di bioskop baru kesukaan yang lebih murah dari bioskop langganan. Menurut saya walaupun berjudul Ju-On 4 The finale, film yang terakhir ini terasa seperti reboot dari aslinya.

Ju-On masih diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang terlibat atau pun terkena dampak dari kutukan tersebut, tersebutlah kakak dari guru SD-nya Toshio bersama dengan pacarnya, seluruh anggota keluarga angkat Toshio sampai dengan teman-teman dari kakak angkatnya Toshio. Loh, Toshio bukannya sudah mati? Saya kira begitu, namun di film ini diceritakan kembali bagaimana Toshio dan Ibunya jadi menyimpan kutukan itu. Cukup bingung juga mau bilang ini reboot atau bukan.

Film dibuka dengan sudut pandang Mai, seorang kakak dari guru SD-nya Toshio yang hilang tak tentu rimba. Ketika dia terbangun di malam hari, menemukan adiknya atau arwahnya atau bayangannya sedang duduk bersimpuh di ruang tamu sambil memutar-mutarkan jarinya di meja membentuk gambar spiral. Ketika saya melihat gambar spiral itu saya teringay film jepang lainnya yang berjudul Uzumaki tentang anak yang terobsesi dengan spiral. Saya kira Ju-On ini ada hubungannya dengan Uzumaki. Lalu seperti yang lalu-lalu, kehidupan Mai seperti di terror dengan kehadiran Toshio dan mamanya yang bisa muncul di mana saja.

Dari sisi cerita, saya merasa Ju-On yang ini seperti reboot dari yang awal karena menceritakan tentang bagaimana Toshio dan ibunya meninggal, lengkap dengan kucing hitamnya itu. Namun kalau di film awal, kucingnya Toshio dimasukkan ke mulut ibunya, kalau yang di film ini kucing yang lucu itu dimasukkan ke dalam microwave. Namun anehnya Toshio yang seperti tuyul itu tetap ada, namun ada Toshio lain yang dirasuki oleh si Toshio tuyul. Namun tidak yakin juga film ini sebuah reboot karena ada suatu adegan di mana rumah penyebab kutukan itu telah diruntuhkan. Tapi kutukan tetap ada karena Toshio yang dirasuki itu pindah ke rumah yang lain. tumblr_inline_nr1ir20qOP1tua96h_500

Keseruan dari Ju-On adalah kemunculan dari Toshio dan Kayako yang bisa di mana saja seperti dari balik selimut, di balik rambut, di toilet atau pun di balik kertas koran yang tergeletak di tengah jalan. Karena saya sudah dapat menebak di mana saja Toshio muncul, jadinya saya deg-degan menunggu kehadiran tuyul kecil ini. Hasilnya saya dan teman malah tertawa di dalam bioskop ketika kebanyakan orang berteriak ketakutan. Hantu Kayako juga hadir di tempat-tempat yang saya sebutkan tadi itu dengan pertanda rambut kusut menjalar. Kayako masih berupa hantu pegel dengan bunyi gemeletuk tulang ketika dia sedang menyeret tubuhnya ke arah korban yang herannya tidak dapat berbuat apa-apa walaupun Kayako mendekati dengan sangat lambat.

Namun secara keseluruhan film ini tidak berhasil membuat saya ketakutan. Tidak seperti film horor jepang yang ditayangkan di salah satu channel tv berbayar yang temanya beda-beda yang membuat saya takut naik kereta terakhir. Ju-On hadir dengan komponen horor yang cukup membuat sebagian orang ketakutan dengan adegan dan musik yang sangat mendukung. Cerita ditutup dengan menggantung sehingga saya masih bertanya-tanya apakah kutukan itu telah hilang atau tidak, karena saya termakan dengan sub-judul The Final itu. Entah apa maksudnya dengan final dari judul itu, mungkin ini film terakhir dari franchise Ju-On yang terkenal itu. Karma pasti akan selalu ada dan menurut saya kutukan yang menjadi karma akan tetap ada di kehidupan orang-orang yang bersinggungan dengannya, namun cukup sudah penceritaannya sehingga mungkin franchisenya diakhiri pada film ini. Mungkin jepang butuh ide baru untuk cerita horor agar kembali merajai tema perfilman dunia.

7.5/10.

Ant-Man, Superhero Marvel Baru yang Nanti Ada di Civil War

Dari minggu lalu mau tulis ulasannya Ant-Man tapi gagal terus. Sudah basi? Biar lah, karena saya sempat kesal karena belum berhasil nonton Terminator dan ternyata filmnya sudah tidak ditayangkan di bioskop langganan. Terpaksa lah saya harus menunggu hasil rip-nya beredar.

background

Sejujurnya saya tidak punya ekspektasi tinggi pada Ant-Man setelah saya menonton sekuelnya Avengers kemarin. Bagi saya film Marvel ceritanya jadi begitu-begitu saja, yang menarik hanya bagaimana film ini nantinya akan menjadi sebuah perkenalan akan film besar selanjutnya. Seperti Ant-Man yang merupakan perkenalan tokoh untuk nanti sekuel selanjutnya Avengers yang diberi sub-judul, Civil War dimana secara singkatnya, akan terjadi perseteruan antara Iron Man dan Captain America.

Ant-Man adalah hero yang mempunyai ukuran tubuh sebesar semut, dapat berteman dan mengomandoi sekompi semut dan mempunyai kekuatan yang sangat besar. Sedikit penjelasan ilmiah diterangkan dalam film ini dimana ketika manusia dikecilkan, maka harusnya ada manipulasi unsur kimia, mirip dengan teori teleportasi. Juga ketika dikecilkan, tenaga manusia tidak serta merta berkurang sehingga dengan tubuh sekecil itu jadi mempunyai tenaga berlipat-lipat. Atau kurang lebih seperti itu penjelasannya, saya juga kurang faham. Namun, hal tersebut membuat film menjadi dapat diterima logika, cukup menyenangkan.

Mengenai jalan cerita, apa lah yang dapat diharapkan dari sebuat film superhero. Pasti ada penjahatnya dan pasti jagoannya menang, entah di tengah cerita jagoannya kalah duluan atau tidak. Agar tidak terlalu monoton, di dalam cerita ditambahkan unsur komedi. Berhasil? Menurut saya iya, walaupun adik saya dapat menebak apa yang terjadi selanjutnya tapi unsur komedi ini berhasil membuat film tidak terasa monoton. Yang saya sukai dari film ini adalah keterlibatan Falcon di tengah cerita sehingga mengkonfirmasi adanya keterlibatan Ant-Man nanti di Civil War. Walaupun sebagai cameo, adegan dengan Falcon cukup mencuri perhatian. Ketika Ant-Man disuruh mengambil alat buatan Howard Stark di sebuah gudang Stark yang konon kabarnya sudah tidak terpakai ternyata gudang itu sudah dijadikan markas baru Avengers setelah hancurnya tower Avengers dan dijaga oleh Falcon.

Sisa komponen film lainnya terasa sama saja dengan film-film keluaran Marvel sebelumnya. Efek animasi yang memang sudah bagus, yang juga–seperti biasa–didukung oleh tim animasi yang kecil-kecil untuk membuat satu bagian dari film yang namanya tidak habis dipajang dalam kredit film yang makin panjang saja. Mengenai ending setelah kredit, bukan Marvel namanya kalau tidak ada yang hadir setelah kredit. Awalnya saya sangsi untuk menunggu sampai kredit paling akhir karena di film Marvel yang terakhir, Age of Ultron, tidak ada ending setelah kredit yang panjang itu. Namun orang sabar belum pasti kesal, ternyata ada ending rahasia kedua yang buat saya sejuta kali lebih penting dari keseluruhan film. Saya tidak akan membocorkan di sini, namun yang pasti ending ini sangat berhubungan dengan Civil War.

Mengenai nilai, 7/10 mungkin cukup kali ya. Sepertinya saya sudah mulai bosan dengan hype superhero yang ada di mana-mana ini. Mungkin memang lagi jamannya reboot film seperti Terminator, Mad Max atau Mission Impossible. Film ini bisa direkomendasikan untuk penggemar komik Marvel sebelum nanti datangnya DC Comics dengan Suicide Squad dengan versi Joker yang psikopat. Untuk movie geek seperti saya, bisa sebagai alternatif setelah sebulanan lebih penuh dengan film jepang.

Anime & Manga: Gekkan Shoujo Nozaki-kun

Postingan hari ini mengenai Gekkan Shoujo Nozaki-kun. Manga atau anime? Dua-duanya. Ngomong-ngomong, lama kelamaan blog ini isinya film jepang semuanya. Ah tapi tenang saja, saya wajib harus nonton Terminator Genisys, eh Genysis, atau bagaimana sih tulisannya itu? Dan saya pastikan ulasannya dibuat.its-an-eclectic-cast-alright

Sementara itu, kita kembali ke Nozaki-kun. Animenya pertama kali dikenalkan oleh seorang teman dengan sangat menggebu-gebu kalau saya wajib sekali nonton animenya. Penasaran dan untungnya ada situs striming online anime kesayangan, jadilah saya tes anime ini untuk satu episode dulu. Apa yang saya temukan adalah sebuah anime komedi romantis yang komposisi komedinya jauh lebih banyak dari romantisnya.

Nozaki-kun bercerita tentang seorang anak SMA perempuan (Chiyo Sakura) yang menyatakan perasaannya kepada seorang anak laki-laki (Umetaro Nozaki) yang ternyata disalah artikan oleh Nozaki dan malah memberi Sakura tanda tangannya. Setelah Sakura ke rumah Nozaki untuk membantu mewarnai panel komik, barulah Sakura sadar kalau Nozaki sebenarnya adalah penulis komik yang terkenal dengan karya-karyanya yang sangat “anak perempuan”. Selanjutnya film diisi dengan hari-hari Nozaki mencari ide untuk jalan cerita komiknya dengan memperhatikan kelakuan teman-temannya dan juga teman Sakura yang sungguh ajaib.

Kashima-HorisenpaiBerbeda dengan komedi romantis yang saya tonton sebelumnya seperti Kaichou wa Maid-sama!, Nozaki-kun sangatlah lucu. Seperti teman saya yang lebih menyukai melihat hubungan Wakamatsu dan Seo-senpai di film ini, saya juga lebih suka melihat hubungan Kashima-kun dan Hori-chan-senpai yang diluar pemahaman saya namun menjadi lucu. Lucu dalam term Jepang yang biasa disebut kawaii.

Komiknya sendiri sudah terbit di Indonesia dengan terjemahan yang juga sama luar biasanya. Terkadang saya suka membaca komik-komik terjemahan karena penasaran dengan terjemahan Indonesia. Pernah saya temukan di komik Doraemon, Bapak Nobita masuk rumah dengan mengucapkan assalamualaikum, namun ternyata ceritanya sedang merayakan natal. Bukannya mau SARA, namun terkadang terjemahan Indonesia suka lucu. Di komik aslinya si Bapak Nobi bilang: tadaima yang arti harfiahnya: saya datang, namun di komik diterjemahkan jadi menyebutkan salam dengan kesan bahwa salam tersebut adalah suatu yang umum di Indonesia. Sama saja dengan Nozaki-kun, terjemahan lucu seperti ini saya temukan di adegan ketika Wakamatsu kencan di bioskop dengan Seo-senpai. Adegan saya sertakan di bawah ini.

IMG_3532

Sekrup.

DAMN.

SEKRUPNYA COPLOK.

Terjemahan yang luar biasa. Bahkan saya sendiri tidak tahu harus menebak apa untuk versi jepangnya.

Komik Nozaki-kun baru terbit 3 edisi dan dapat ditemukan di jaringan toko buku G. Untuk animenya sendiri hanya ada 12 episode dan 6 episode spesial dengan durasi yang lebih pendek. Jika anime-anime sekelas One Piece, Bleach, Naruto terlalu panjang, mungkin bisa coba nonton ini. Oh iya, lagu openingnya adalah yang beberapa waktu lalu sempat saya post, yang judulnya Ima Ja Nakya Dame Mitai. Baru sadar juga ya, kalau diperhatikan, Nozaki-kun ini ceritanya agak membuat lelaki jadi inferior. Tapi, ah, coba nonton saja lah, pokoknya super recommended.

Yakuza, Vampir dan Kodok yang Jago Berkelahi

Katanya Takashi Miike mau kembali ke asal dengan mengeluarkan film-film slasher setelah beberapa tahun terakhir ini menghasilkan karya komedi seperti Undercover Agent Reiji atau Ace Attorney dan tahun lalu ada film horor berjudul Over Your Dead Body. Karena katanya tersebut, saya senang dan mempunyai harapan tinggi pada salah satu sutradara kesayangan dan genre slasher tercinta ini. Dimulai dengan film-nya yang berjudul Kamisama no Iu Tori (As the Gods Will) yang menghadirkan cerita mirip dengan battle royale tapi dengan monster berbentuk daruma-san dan kokeshi. Tidak akan pernah kulupakan ketika daruma-san mulai balik badan dan berkata “Darumaaaa-saaann…. gaaa…. korondaa~~!!” dan setiap anak yang bergerak kepalanya langsung pecah. Tapi memang kita tidak pernah boleh menaruh harapan tinggi pada sesuatu karena nantinya bisa saja kamu akan kecewa. Karena untuk filmnya yang terbaru ini saya menaruh harapan yang cukup tinggi, simply karena saya telah menunggu film ini dari tahun lalu, yang ternyata tidak seperti yang saya bayangkan untuk sebuah karya dari Miike-san.

Yakuza

Judul film-nya Yakuza Apocalypse, menghadirkan Hayato Ichihara dengan image yang garang, bukan pendek-pendek lucu bikin gemes, dan Kang Yayan Ruhian. Siapa juga yang tidak menaruh harapan tinggi, siapa pun pasti akan mengharapkan ada adegan pertarungan seru dengan banyak darah berceceran dimana-mana. Karena faktor ada Kang Yayan inilah filmnya jadi ditayangkan di bioskop Indonesia, walaupun saya sebenarnya takut dengan gunting sensor nantinya memotong satu adegan penting namun ternyata filmnya tidak sesadis Ichi The Killer.

Tadinya saya mau tulis sinopsis ceritanya disini tapi takut diprotes dianggap spoiler.

FIlm ini dimaksudkan sebagai film komedi dan slasher. Tapi sayangnya saya merasa film ini setengah matang dengan bumbu komedi yang tanggung dan gore yang tanggung. Pernyataan Miike-san tahun lalu mengenai kembalinya dia ke genre-genre lamanya dia terasa omong kosong belaka. Saya adalah penonton film Miike-san mulai dari jamannya Audition sampai sekarang, walaupun saya belum pernah menonton The Happiness of The Katakuris yang kabarnya menjadi salah satu mahakarya. Sebagai salah satu fans, saya tidak merasa terhibur dengan jalan cerita film ini. Beda ketika saya menonton Undercover Agent Reiji yang memang komedi atau pun Kamisama no Iu Tori yang penuh dengan gore. Sampai sekarang saya masih mengingat jalan ceritanya dan mencari-cari apa yang menarik hati saya dari film itu, kecuali Hayato Ichihara. Hingga akhir film, masih banyak pertanyaan yang ada di pikiran saya dan mengharapkan adanya sequel dari film ini sehingga pertanyaan itu dapat terjawab.

Dari sisi akting, satu-satunya yang bisa disorot adalah si bintang utama, Hayato Ichihara. Gara-gara menonton The Rainbow Song, saya membayangkan Ichi-san seperti yang saya sebutkan tadi, pendek-pendek lucu bikin gemes. Namun di film ini, Ichi-san adalah yakuza seutuhnya. Raut mukanya adalah raut muka seorang yakuza, kalimat-kalimat yang dilontarkan adalah kalimat seorang yakuza, dan gaya berpakaiannya adalah seorang yakuza. Ketika menonton, saya mencari-cari image Ichi-san yang lucu dan ceria, namun tidak sedetik pun image itu saya temukan. Mengenai Kang Yayan, cukup disayangkan–sepertinya oleh semua orang yang menonton film ini–image garangnya berubah menjadi seorang otaku walaupun otaku tersebut tetap jago berkelahi. Ketika karakter Kang Yayan muncul di layar kaca, saya mendengar beberapa orang tertawa dan tidak percaya dengan karakter ini. Mungkin itu ide dari si sutradara yang ingin mengubah image, namun saya yakin banyak yang mengharapkan adegan berkelahi Kang Yayan. Tapi di saat terakhir, Kang Yayan terlihat keren dengan yukata, paling tidak saya tidak perlu lagi melihat image otaku itu lah.

Memang sedih jika harus menulis ulasan yang tidak sesuai dengan hati dan bayangan kita tapi memang saya tidak terlalu terhibur dengan film ini. Bagi saya 6/10 cukup untuk film ini. Namun jangan lalu tidak menonton. Tontonlah film ini sebagai tribute bagi Kang Yayan yang sudah bermain dengan baik di film ini, dan salahkan si penulis cerita kenapa ceritanya harus nanggung. Sebagai pecinta film jepang, saya bersyukur film ini ditayangkan di bioskop Indonesia dan terus berharap film-film lainnya juga akan ditayangkan. Selanjutnya mungkin Attack on Titan bisa masuk jaringan bioskop film Indonesia mengingat versi anime-nya cukup menjadi hits di tahun lalu.