Drama Korea itu Guilty Pleasure

Kenapa guilty pleasure? Karena dulu saya termasuk orang yang membenci segala macam kokoreaan, bahkan termasuk gengsi untuk menonton drama Korea. Sekarang saya merasa karma joget-joget di depan saya sambil bilang: “Makan tuh gengsi!!”

Ada beberapa hal yang membuat saya kurang menyukai drama Korea:
1. Jumlah episode yang terlalu banyak. Jika dibandingkan dengan drama jepang, drama korea mempunyai episode sampai dua kalinya. Minimal 20 episode dan maksimal bisa beratus-ratus seperti Ganteng-ganteng Serigala yang entah telah mencapai episode keberapa. Dengan episode sebanyak itu membuat saya yang gampang bosan menjadi malas untuk menonton.

2. Jalan cerita yang sama. Satu hal yang saya perhatikan dari drama korea adalah kemiripan ceritanya yang selalu berkisar dengan cinta segiempat. Jadi biasanya itu, ada cewe dan cowo yang saling jatuh cinta, lalu entah kenapa cintanya selalu banyak halangannya. Di lain pihak ada wanita lain yang suka dengan si cowo dan biasanya berperilaku seperti rubah atau nenek sihir, lalu ada lelaki lain yang mencintai si cewe dan selalu dijadikan tempat pelarian. Terkadang cerita dibumbui oleh pemeran tambahan seperti keluarga yang super tajir atau super miskin.

3. Model rambut aktor lelaki. Entah apa yang terjadi dengan fashion di korea sana, tapi beberapa tahun terakhir ini seluruh laki-lakinya mempunyai gaya rambut yang mirip, yang disebut oleh seorang teman seperti mangkok. Ya mungkin saja preferensi lelaki saya tidak seperti lelaki korea yang terlihat seperti satu cetakan, preferensi lelaki saya seperti Ikuta Toma dan Eita. Tapi ada beberapa aktor, yang paling tidak gaya rambutnya tidak seperti mangkok, yang cukup saya apresiasi bahkan suka.

Walaupun sekarang saya nonton drama Korea, saya termasuk yang pemilih. Sampai sekarang judul drama korea yang sudah saya tonton mungkin dapat dihitung dengan jari. Pertama kali yang saya tonton adalah Full House, lalu ada Sassy Girl Chun Hyang, dan Boys Before Flower. Film-film tersebut tadi saya tonton sekitar di tahun 2005an. Lalu setahun yang lalu saya mendadak kembali penasaran dengan Gu Jun Pyo (Boys Before Flower) yang diperankan oleh Lee Min Ho, yang membuat saya mengunduh seluruh episode BBF yang berjumlah 26 itu, walaupun nontonnya juga lompat-lompat. Karena penasaran dengan film lain dari Lee Min Ho, akhirnya saya menonton Personal Taste. Jika ada yang memberi ide untuk menonton The Heirs yang konon kabarnya sangat terkenal itu, saya sudah pernah menonton satu episode, namun belum habis episode 1 saya sudah bosan. Bagi saya, The Heirs ceritanya mirip dengan BBF atau apa pun yang saya jabarkan pada alasan nomor 2 tadi. Lalu ketika mencari film Lee Min Ho yang lain, saya tidak dapat menemukan yang cocok dengan selera maka kembali lah saya ke jalan drama Jepang.

Saya termasuk susah mencari drama korea yang sesuai dengan selera. Baru sebulan yang lalu saya menemukan drama korea dengan ide cerita vampir. Kalau kata seorang teman, adegannya mirip dengan sinetron serigala karena banyak yang memakai hoodie. Yo wis, sakarepmu lah, Mas. Namun setelah saya tonton, jalan ceritanya tidak seperti apa yang saya jabarkan sebelumnya dan saya suka karena ada adegan-adegan operasi dan istilah-istilah kedokteran. Di drama ini juga ada adegan action-nya walaupun harus saya akui, saya selalu tertawa melihat adegan berkelahi yang agak berlebihan. Ya pernyataan mirip dengan sinetron serigala itu valid lah.

Sekarang saya kembali nonton drama korea, judulnya Angel Eyes yang masa tayangnya telah selesai dan Orange Marmalade, baru saja tayang, dengan cerita vampir lagi, walaupun yang jadi vampir sekarang yang wanita dan yang ini masih sekolah. Selingan ketika menunggu film-film mulai kembali ditayangkan di bioskop atau menunggu subtitle untuk film Jepang yang sebelumnya telah saya tonton tanpa subtitle. Masih menunggu hadirnya Jurassic World dan berharap Yakuza Apocalypse bisa tayang di Indonesia. Untuk Yakuza Apocalypse, yang main Kang Yayan loh, jadi marilah kita berdoa semoga filmnya ditayangkan di bioskop kesayangan kita. Amin.

Film Brilian dengan biaya minimal dan pemain serta kru amatiran

21587Title: Koi no Uzu (The Vortex of Love) / Be My Baby

Director: Hitoshi One

Cast: Kenta Niikura, Naoko Wakai, Chihiro Shibata, Yuumi Goto, Kenta Enya, Hiroki Ueda, Daisuke Sawamura, Aya Kunitake, Sadaharu Matsushita.

Duration: 138 minutes

Film akhir pekan kali ini dimulai dengan Koi No Uzu (terjemahan harafiah: The Vortex of Love) atau Be My Baby. Film ini salah satu yang saya temukan ketika blogwalking pada minggu lalu dan setengah mati mencari unduhannya. Beruntung lah ada yang berbaik hati mengunggah film ini walaupun bukan torrent dan membuat saya insecure apakah donlodan saya kali ini berhasil atau tidak. Belum ada subtitle dalam bahasa inggris atau indonesia untuk film ini, jadi saya nekat untuk menonton dengan kemampuan bahasa jepang yang masih pas-pasan.

Bagi saya menonton film baru hasil dari blogwalking seperti kopi darat. Kita tidak tahu apa yang akan kita temukan dan apakah film tersebut layak tonton atau tidak. Khusus untuk film jepang, janganlah percaya pada trailer, karena apa yang ditampilkan dalam trailer belum tentu mewakili dari film tersebut. Untuk film ini saya sepenuhnya berdasar pada kepercayaan kalau film ini telah memasuki pemutaran ketiga setelah film ini hadir pada Terracotta Far East Film Festival. Pasti lah ada sesuatu dalam film ini yang membuat penonton internasional tertarik.

Dari sisi cerita, saya tidak dapat menceritakan secara jelas, karena saya menonton tanpa subtitle. Jalan cerita film ini saya ketahui dari hasil membaca beberapa resensi yang ada lalu, karena penasaran, langsung nekat menonton. Saya mah gitu orangnya.

Film ini dibuat oleh sekumpulan amatiran dari sebuah rumah workshop untuk pelatihan manusia-manusia baru di dunia perfilman jepang dengan supervisi dari sutradara veteran. Film ini dibuat dalam waktu 4 hari saja dengan biaya kurang dari US$ 10,000 dan dapat menghasilkan sesuatu yang saya sebut sebagai karya yang brilian.

Tema film ini mengambil ide dari sisi gelap kehidupan anak muda Jepang yang tidak jelas dengan kerja paruh waktu, berkiblat pada mode terbaru dan gaya hidup bebas. Percakapan dengan bahasa slang terdengar seperti petasan di setiap adegan. Walaupun dibintangi oleh sekelompok aktor dan aktris amatir, justru saya memuja akting dari para aktor dan aktris ini. Pada awalnya saya masih biasa saja hingga pada suatu adegan saya terpesona dengan akting-nya Naoko Wakai yang berperan sebagai Tomoko-chan. Peran tersebut didalami dengan baik sehingga terlihat karakter Tomoko-chan yang ceria di depan teman-temannya namun begitu submissive ketika berhadapan dengan pacarnya, Koji-kun, yang begitu mendominasi.

Film ini mengambil latar belakang di 4 apartemen kecil di pinggiran Tokyo dan adegan berpindah-pindah antar apartemen tersebut dan menggambarkan semua sifat dari para pemuda-pemudi tersebut, yang dalam cerita berumur 20an tahun. Dengan setting sesederhana itu, film ini mampu menyajikan sebuah jalan cerita (walaupun saya tidak mengerti amat) dengan lika-liku di dalamnya. Tentang siapa yang suka dengan siapa, siapa yang gosipin siapa hingga siapa selingkuh dengan siapa. Walaupun berdurasi 2 jam, film ini tidak membuat bosan. Ada beberapa adegan sex yang implicit, namun mungkin dapat membuat beberapa penonton merasa tidak nyaman. Tenang saja, tidak seperti Game of Thrones yang cukup explicit. Selebihnya, jika ingin melihat akting yang luar biasa, film ini saya rekomendasikan untuk ditonton.

8/10.

Tentang R100, Furious 7 dan Age of Ultron

Sebuah postingan singkat saja agar blog ini terasa masih hidup. Maklum sebulan terakhir ini saya sibuk dengan pekerjaan, sempat dirawat di rumah sakit selama seminggu, harus bedrest dua minggu, dan merasa kurang inspirasi untuk sebuah tulisan. Sejujurnya saya juga lupa film apa yang telah saya tonton selama sebulan atau dua bulan terakhir ini, kecuali yang terakhir kali saya tonton: sequel The Avengers yang bertajuk Age of Ultron.

Kalau menilik kembali catatan menonton saya, kebanyakan yang saya tonton adalah variety show korea, drama jepang, drama korea dan serial amerika. Namun film-film itu tidak masuk dalam daftar tonton saya karena janji yang telah tersebut bahwa daftar tonton hanya berlaku untuk film-film selain daripada drama, sinetron dan serial.

Mungkin sedikit komentar tentang film yang sebulan terakhir ini saya tonton: R100, Furious 7 dan Age of Ultron.

91uGK4jOzDL._SL1500_Dimulai dari R100 yang merupakan film jepang yang setelah menontonnya saya bingung setengah mati atas apa yang baru saja saya tonton. Entah itu tujuan dari filmnya atau memang saya yang terlalu awam untuk film dengan kapasitas secanggih itu. Menurut review yang saya baca, bahkan sutradaranya sendiri pun berbicara kalau film ini hanya dimengerti oleh orang yang telah berumur 100 tahun. Namun pertanyaannya, apakah ada orang sebanyak itu yang berumur 100 tahun yang masih dapat menonton filmnya? Sedikit trivia, sutradara R100 memang sudah berumur 100 tahun. Filmnya mempunyai tema sado-masokis. Jadi jikalau kamu sudah menonton 50 shades of grey dan berharap ada adegan kinky di film tersebut, mungkin bisa mencoba menonton R100. Bagi saya, R100 dapat mendefinisikan sado-masokis dengan segala keanehan Jepang di dalamnya.

Selanjutnya adalah Furious 7. Sequel ke-6 dan “katanya” film terakhir dari Fast Furious franchise ini konon kabarnya menampilkan adik dari Paul Walker sebagai pengganti dari abangnya yang telah meninggal karena kecelakaan ketika film tersebut masih dalam masa produksi. Tapi sejujurnya saya tidak dapat menemukan di adegan yang mana dari film tersebut yang menampilkan adiknya Paul Walker tersebut, namun yang saya sadari dari film edisi ketujuh ini adalah film ini makin terasa seperti The Expendables dan sepertinya sudah saatnya untuk diakhiri saja. Banyak adegan yang terasa tidak masuk akal. Sejak ada di film sebelumnya, aktor Dwayne Johnson atau The Rock menjadi salah satu pemeran yang disukai di film ini. Terbukti setelah terbanting, jatuh dari lantai 20an, tertimpa reruntuhan jembatan, orang ini hanya cedera sedikit dan gips-nya dapat dilepas dalam waktu kurang dari 2 minggu. You cannot kill The Rock.

fun-new-promo-art-for-avengers-age-of-ultronYang terakhir, yang saya tonton ketika dokter sudah memperbolehkan saya beranjak dari tempat tidur adalah sekuel The Avengers berjudul Age of Ultron. Sejujurnya film ini tidak terlalu memukau saya, karena lebih terasa seperti Transformers. Tidak banyak yang cukup mencuri perhatian saya karena seperti biasa film ini dipenuhi dengan CGI dan sayangnya banyak adegan yang berlebihan. Hanya Hulkbuster yang saya ingat, dengan definisi singkat: Baymax Yang Memakai Kostum Ironman. Mungkin karena di film ini tidak ada Loki. Mungkin karena di film pertama memang Loki yang menjadi bintang utama. Memang seharusnya Loki harus diberikan film sendiri. Dengan fans di seluruh penjuru dunia, saya pikir jikalau Loki dibuatkan film sendiri, pendapatan film itu mungkin akan melebihi The Avengers atau film dari saudaranya.

Selanjutnya yang menyita perhatian saya adalah sekuel keempat dari Mad Max yang diberi judul Fury Road dan sebuah remake berjudul Jurassic World. Dua-duanya adalah film yang dulu pernah saya tonton dan Jurassic Park adalah salah satu film kesukaan saya, yang saya puja habis-habisan. Mad Max akan hadir pada tanggal 14 Mei ini, mungkin saya akan langsung menonton, sedangkan Jurassic World masih akan hadir pada Juni nanti. Mungkin ulasan Mad Max akan hadir pada minggu depan, kalau saya tidak sibuk mencoba brick oven baru di halaman belakang.

Love Exposure. Film Pertama yang Tidak Bisa Saya Tonton dalam Satu Waktu

Love_Exposure_(2008-Japan)Ketika seorang teman memperkenalkan saya pada sebuah film yang membuat saya jatuh cinta pada sutradaranya, saya menemukan film ini di posisi teratas dari karya sutradara tersebut yang digadang-gadang sebagai mahakarya. Memang judul mahakarya terdengar agak berat ditambah dengan kemampuan minim saya dalam mencerna sebuah film, mahakarya ini membuat saya “ngeri” dan juga penasaran. Tidak percaya dengan kabar bahwa film ini berdurasi 4 jam, pada saat itu juga saya langsung mengunduh filmnya dan benar memang durasinya 4 jam. Love Exposure menjadi film pertama yang tidak bisa saya tonton dalam satu waktu saja.

Sebelum menonton film ini, saya membaca ulasannya dan menemukan banyak yang mengagungkan film ini. Dengan genre campur aduk, termasuk di dalamnya, drama, horror, dan ecchi film ini serasa ditarik menjadi sangat panjang. Sangat panjang karena saya menemukan judul film muncul di pas 60 menit film telah berlangsung. Ya, betul, 60 menit. Edan. Film ini tidaklah straightforward seperti Why Don’t You Play In Hell, film ini dimulai dengan latar belakang dan pembangunan karakter yang cukup detail sehingga saya hampir bisa merasakan dan mengerti perasaan Yu si pemeran utama.

Sejak awal film saya merasakan cinta bertebaran di film ini. Entah itu cinta kepada Tuhan, cinta pada keluarga, ataupun cinta pada lawan jenis. Dimulai dengan keluarga Yu yang taat agama, lalu Yu yang rela melakukan apa pun demi ayahnya, dan ketika Yu akhirnya menemukan gadis yang disukainya, yang dianggapnya mirip dengan Bunda Maria. Walaupun banyak cinta di dalam film ini, tapi tidak selamanya film ini menjadi drama. Beberapa adegan pantas disejajarkan dengan film horror Jepang dengan karakter antagonis yang sakit jiwa dan beberapa adegan yang menampilkan semprotan darah.

Saya bukanlah penggemar film drama, sejujurnya saya mengharapkan sesuatu yang lebih mengingat sebelumnya saya telah menonton Suicide Club dan Why Don’t You Play In Hell. Love Exposure terasa brilian dari sisi pembangunan karakter keluarga Yu, terutama dari sisi Bapaknya dan Yu sendiri yang berubah dari anak yang taat agama menjadi pemberontak, yang tetap taat agama. Pembangunan karakter tersebut membangun cerita cukup solid namun sayangnya tetap ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab, walaupun dengan waktu tayang 4 jam tersebut. Sepertinya sang sutradara sangat berfokus pada kehidupan Yu, sehingga ada beberapa lubang di cerita yang seharusnya dengan waktu 4 jam dapat diceritakan dengan baik.

Apakah saya menyarankan film ini? Kuatkan mentalmu, kawan. Film ini tak semudah kelihatannya. Bahkan saya saja terpaksa harus menonton film ini dalam beberapa bagian. Namun jika Anda mengetahui karya-karya Sion Sono dan belum pernah menonton film ini, tak ada salahnya untuk menonton. Pesan cinta yang dibawa film ini sangatlah universal, hingga seharusnya siapa pun bisa menonton film ini. Sedikit tambahan, jika ada yang cerita kalau film ini tentang Raja Hentai, percaya lah, memang film ini tentang Raja Hentai, namun sama sekali tidak ada adegan telanjang di film ini. Love Exposure memang sinting, namun masih kalah sinting dibandingkan Why Don’t You Play In Hell.

Review: Why Don’t You Play in Hell. Film Tentang Yakuza Oleh Yakuza.

Ketika minggu lalu saya kehabisan bahan tontonan dan akhirnya memutuskan untuk menonton ulang Game of Thrones season 4, seorang teman merekomendasikan sebuah film. Mengingat si teman ini adalah sepertinya seorang yang cukup pemilih kalau masalah film dan memiliki selera yang mirip dengan saya, insting saya mengatakan kalau film ini layak tonton. Film ini bukan tipe yang biasa seliweran di jaringan bioskop Indonesia, film seperti ini biasanya hanya saya dapatkan online, film ini berjudul Why Don’t You Play in Hell dan disutradarai oleh Sion Sono.

Pernah mendengar nama Sion Sono? Mungkin terdengar asing. Atau mungkin pernah mendengar film Suicide Club? Saya yakin kalau judul film yang baru saja saya sebutkan ini pasti tidak asing. Suicide Club pernah terkenal di tahun 2000an setelah industri perfilman jepang dibanjiri dengan film horror semacam Ringu dan Ju-On. Sang sutradara, Sion Sono, adalah sutradara yang cukup produktif dengan beberapa karya yang patut diperhatikan. Wait, Jepang lagi, Lan? Sebenarnya saya pernah menonton film Perancis, namun gayanya ternyata tidak sesuai dengan selera saya jadi sepertinya Movie Challenge tahun 2015 ini akan dipenuhi dengan film Jepang atau Korea.

Kembali ke topik, Why Don’t You Play In Hell adalah film keluaran tahun 2014 (wide release) menceritakan tentang yakuza yang dibintangi oleh yakuza dengan kru yakuza. Paling tidak begitu menurut trailernya. Namun seperti yang sudah-sudah, jika trailernya terlihat biasa saja atau malah tidak jelas, biasanya filmnya bagus. Maksud saya, buat apa trailer lama-lama sampai 5 menit yang membeberkan seluruh jalan cerita film, lebih baik saya nonton trailer saja daripada harus bayar mahal di bioskop. Dan seperti dugaan, filmnya berhasil membuat saya terbuai dengan jalan cerita yang sungguh di luar dugaan.

Dalam 5 menit pertama terasa sedikit kemiripan dengan karya-karya Tarantino, terutama Kill Bill, ketika pada suatu adegan, seorang anak masuk ke dalam ruangan di rumahnya dan lantainya dibanjiri dengan darah. Sejenak terlihat seperti lantai yang berwarna merah, namun saya sadar bahwa itu darah ketika kaki anak tersebut tidak terlihat. Cengiran saya makin lebar ketika ada seorang ibu-ibu dengan baju berlumuran darah dan memegang pisau dapur, berlari ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Lalu saya mulai melupakan Tarantino dan hanyut dalam film tersebut.

Adalah kelompok yakuza Muto dan Ikegami yang saling berkelahi, dimulai dengan Ikegami-gumi menyerang Muto-gumi yang diakhiri dengan pembantaian oleh istri dari pemimpin Muto-gumi, si ibu-ibu dengan pisau dapur tadi. Di sisi lain ada sekelompok pembuat film amatir bernama Fuck Bombers dengan ketua bernama Hirata yang mempunyai mimpi suatu saat dapat membuat film terhebat sedunia.

Nasib mempertemukan kelompok amatir ini dengan yakuza-yakuza tersebut 10 tahun kemudian, ketika Mitsuko, anak semata wayang ketua Muto-gumi, harus jadi artis demi mewujudkan mimpi ibunya yang dipenjara karena kasus pembantaian itu, yang akan keluar dalam waktu 10 hari lagi. Dengan waktu yang begitu sempit, Hirata memutuskan untuk membuat film tanpa skenario, yang langsung diambil di kediaman Ikegami, tepat ketika Ikegami-gumi menantikan kedatangan Muto-gumi. Selanjutnya yang terjadi adalah pengambilan gambar tentang pertarungan dua kelompok yakuza yang terlihat alami dan tanpa skenario.

Film ini tidak bertele-tele dalam bercerita. Satu jam terakhir bercerita tentang bagaimana film yakuza dibuat, yang hanya mengambil waktu semalaman sebelum akhirnya kediaman Ikegami digerebek oleh polisi. Sangat straightforward dan detail dimana pertarungan Ikegami-gumi dan Muto-gumi dibuat seperti tanpa ada frame yang tertinggal. Efek Inception terasa sekali ketika adegan pengambilan gambar pertarungan yang tadinya berpura-pura, menjadi ajang mandi darah. Hebatnya sang sutradara, Hirata, mengusulkan adegan pertarungan haruslah menggunakan katana demi efek yang terlihat lebih maskulin dibandingkan menggunakan senjata api. Maka yang akan terjadi, terjadi lah, ketika pedang sudah berada di tangan dan musuh ada di depan mata, semuanya bagaikan haus darah dan dirasuki oleh setan.

Saya seperti merasa adanya satire dalam film ini, walaupun sampai sekarang saya tidak dapat menjelaskan referensinya pada apa. Tapi yang saya rasakan, ketika seorang telah terobsesi dengan sesuatu, maka tipis perbedaannya dengan gila, sehingga semua hal dihalalkan untuk mencapai tujuan tersebut. Film ini menurut saya brilian dari sisi cerita juga ditambah dengan teknik editing yang sangat saya suka, dengan adegan klimaks yang berada pas di hampir akhir film. Jelas sekali film ini bukan untuk yang berjantung lemah, namun lupakan tentang limpahan darah itu, menurut saya film ini sangat layak tonton. Sutradara Sion Sono membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama karena daftar film selanjutnya sudah dipastikan adalah Love Exposure, yang disebut-sebut sebagai mahakarya Sion Sono dengan durasi 4 jam. Sepertinya saya harus menyiapkan mental untuk kencan selanjutnya.

Movie Challenge 2015

Kalau teman saya punya yang namanya Reading Challenge, karena saya masih males-malesan untuk membaca jadinya saya mencari apakah ada Movie Challenge. Ternyata ada dan seperti dibawah ini.

tumblr_ngwum5faB51s26amio1_1280

 

Yang paling susah dari film ini sepertinya bakalan web series. Sejujurnya saya belum pernah menonton web series, model filmnya yang seperti apa juga saya tidak tahu. Untuk tantangan ini tidak terbatas pada bahasa inggris atau indonesia saja, tapi juga bahasa jepang dan korea. Karena saya adalah penonton drama jepang dan korea, untuk tantangan film dengan bahasa lain akan dengan bahasa Perancis, Rusia, Jerman atau lainnya. Sepertinya saya harus membuat tantangan menonton tersendiri untuk film Indonesia. Siapa tahu saya bisa tahan menonton sinetron Ganteng-ganteng Serigala.

Challenge dimulai acak saja ya, dengan film yang kebetulan saya tonton, ya berarti itu masuk di challenge. Sebelumnya saya sih sudah membuat target paling tidak sekitar 50 film untuk tahun ini dengan berbagai kategori. Film yang sudah ditonton, bisa termasuk dalam Challenge ini ya. Biar saya tidak usah mencari judul baru lagi.

Bagi yang mau ikutan, silahkan. Nanti mungkin bisa saling share judul film.

Selamat menonton :)

(Masih) Film-Film Takashi Miike

Tadi pagi seorang teman sharing adegan bunuh-bunuhan di gereja yang katanya kena gunting sensor. Tidak sampai lama ketika akhirnya rasa penasaran saya terpuaskan. Sudah lama juga tidak melihat adegan bunuh-bunuhan sedetail itu, akhir-akhir ini rasanya film yang beredar tidak terlalu kreatif dalam menyajikan adegan berkelahi atau bunuh-bunuhan. Tapi disini saya bukan untuk membahas tentang adegan bunuh-bunuhan di gereja itu. Saya ingin membahas tentang film yang barusan saya tonton, Audition. Oiya, bagi yang mau melihat adegannya, bisa ke link ini.

Pernah nonton Ichi The Killer? Sudah? Bagus. Bagi yang sudah mungkin masih ingat adegan Kakihara memotong lidahnya sendiri. Bagi yang belum menonton dan termasuk yang kuat hati dalam menonton adegan sadis, mungkin film Ichi The Killer bisa ditonton sebagai referensi. Bagi saya  sendiri, Ichi The Killer termasuk yang cukup sadis namun saya ternyata masih lebih ngilu ketika menonton Audition.

6319901_gal

Audition (Judul aslinya: Odishon) adalah film yang masuk dalam daftar film yang dapat mengacaubalaukan otak anda (baca: mindfuck). Kalaulah saya belum termasuk jago untuk mencerna film se-absurd Visitor Q, maka untuk film ini lebih mudah untuk dicerna namun berhasil membuat otak saya cukup berantakan. Adegan yang dibuat bagaikan sedang di dalam mimpi namun cukup nyata untuk terjadi di kehidupan sebenarnya, membuat penonton bertanya-tanya apakah hal tersebut mimpi atau bukan.

Audition bercerita tentang seorang duda yang ditinggal mati istrinya dan hidup berdua saja dengan anak laki-lakinya. Duda tersebut berniat untuk menikah kembali dan ketika perusahaannya mengadakan audisi untuk aktris di film yang akan diproduksinya, duda tersebut tertarik dengan seorang wanita. Memang bisa ditebak pasti ada yang tidak beres dengan si wanita tersebut, namun hal itu tidak akan terlihat sampai pada 30 menit terakhir filmnya.

Sebagai sedikit spoiler, ada adegan sadis yang membuat saya ngilu luar biasa. Tidak seperti Ichi The Killer yang semua adegan tersebut terjadi dengan cepat. Adegan ini berlangsung dengan lambat sehingga seperti kita ikut merasakan bagaimana, contohnya, ketika pergelangan kaki kita dipotong dengan seutas kawat. Lengkap dengan bunyi kawat tersebut ketika bergesekan dengan tulang. Rasanya setelah menonton film ini saya harus menonton film Disney untuk mengembalikan keseimbangan otak. Lalu saya kembali mengunduh film Takashi Miike lainnya yang masuk ke dalam daftar Mindfuck Movie, yaitu Gozu. Film ini belum saya tonton. Rencananya nanti saja setelah pikiran saya kembali bersih.

Sebagai intermezzo, saya ingat pada tahun 2015 ini film Yakuza Apocalypse akan dirilis, tepatnya pada tanggal 20 Juni, untuk pemutaran khusus di Jepang. Untuk pemutaran luasnya mari kita bersabar dahulu, untuk sementara saya berhasil menemukan teaser trailernya. Namun namanya juga teaser, tidak banyak yang dapat dilihat, yang saya ingat hanyalah orang dengan kostum kodok yang mengayunkan tongkat baseball.