[Review] Captain America 2: The Winter Soldier

Sequel Captain America yang bertajuk The Winter Soldier telah merambah bioskop Indonesia sejak rabu kemarin. Tadinya saya mau nonton langsung di hari rabu, tapi ragu apakah memang cukup berharga utk kabur di tengah hari atau tidak, jadinya saya baru nonton Jumat ini karena cukup penasaran dengan desas-desus yang dari kemarin saya dengar.

download

Spoiler ahead, Guys. You have been warned.

The Winter Soldier menceritakan tentang Security Homeland Intervention Enforcement Logistic Division atau yang lebih dikenal dengan SHIELD. Seluruh anggota The Avengers adalah agen SHIELD, dengan Kapten Steve Rogers yang meminpin sebuah satuan bernama STRIKE, dengan access level 8. Sedikit informasi, access level di SHIELD berarti seberapa banyak data yang dapat kamu akses, Director Nick Fury mempunyai akses level 10 dan Phil Coulson sendiri punya akses level 8. Kembali ke cerita, di film ini diceritakan bahwa sebenarnya SHIELD tidak sebersih yang dikira selama ini. Masih ingat HYDRA? Salah satu unit riset yang berkhianat ini ternyata masih punya antek-antek yang bercokol di level-level penting SHIELD dan menunggu hingga saatnya dapat menguasai dunia.

Bagi yang juga menonton serial Agents of SHIELD, mungkin akan tahu sepowerful apa Nick Fury dan organisasi seperti apa SHIELD itu. Mungkin tahu juga apa yang dapat membuat Phil Coulson bangkit dari kematian setelah ditusuk dengan Loki’s Scepter, karena itu sepanjang nonton, saya yakin kalau Nick Fury tidak akan mati karena dia punya GH-325. Dan jika menyambung dari serial tersebut, sebuah teori muncul. Di film ini, yang dinamakan Winter Soldier adalah Bucky Barnes, yang dicuci otaknya lalu diberi lengan metal dengan kekuatan super. Ingat sesuatu? Ya, ini seperti apa yang dilakukan project Deathlok pada Mike Peterson. Oke, kembali pada niat awal untuk review.

images (2)

Jujur, dengan durasi hampir 2.5 jam, film ini terkadang agak lambat alurnya. Steve Rogers masih diperankan oleh Chris Evans dengan ditemani oleh Scarlett Johansson sebagai Natasha Romanoff. Lalu ada yang disebut dengan Falcon, yang saya bilang cukup keren, dengan sayapnya yang bisa bikin terbang. Sepertinya di film ini sang penulis dan sutradara ingin memasukkan banyak action klasik seperti baku hantam dengan tangan kosong atau tembak-tembakan. Saya hargai dan cukup senang dengan lebih banyaknya adegan baku hantam, namun setelah menonton The Raid, saya rasa cara pengambilan gambarnya yang masih harus diperbaiki karena masih susah untuk diikuti. Adegan yang paling saya suka adalah ketika Cap berantem dengan Batroc di kapal yang dibajak, karena menurut saya adegan baku hantam dengan tangan kosong adalah sesuatu yang cukup saya cari daripada harus nonton tembak-tembakan dengan misil, roket atau senapan canggih. Di film ini, kelihatan sekali Marvel mengurangi adegan dengan senjata canggih beyond technology, mungkin juga karena Steve Rogers termasuk orang jaman dulu yang masih harus bergulat dengan teknologi baru.

Saya menikmati nonton film ini dan jangan lupa untuk menonton sampai mid credit scene untuk sneak peek film Marvel selanjutnya. Saya tidak akan bilang ada apa, coba ditonton saja sendiri. Setelah ini, film Marvel yang akan keluar adalah Guardian of the Galaxy, Antman dan X-Men, semoga saja hal-hal tersebut menjadi bagian dari dunia Marvel yang lebih besar dan saling sambung menyambung menjadi satu. Untuk film ini saya kasih 8.8/10.

ps: Nanti juga akan saya lengkapi dengan gambar-gambar.

Update 6 April 2014

Saya kembali menonton Agents of SHIELD episode 16 untuk mendapatkan bayangan yang jelas tentang waktu kejadian The Winter Soldier. Setelah dirunut, justru episode 16 adalah kejadian sebelum, selama dan mungkin sesudah. Sebagai contoh, ketika Vic Hand, Sitwell, Garrett datang ke pesawatnya Coulson, Sitwell diberitahukan oleh Hand untuk kembali ke Triskelion mengenai masalah tentang Lemurian Star. Sebelum berpisah, Sitwell berkata pada Coulson: I got a boat to catch. Lalu dimana dia ditemukan pertama kali di The Winter Soldier? Tertawan di dalam kapal yang dibajak sampai ada salah satu agen yang bertanya: “What is Agent Sitwell doing on that boat?”

Lalu ketika Director Fury sudah kembali ke Triskelion, Agent Melinda May menginfokan pada Phil Coulson kalau Directory Fury is back dan dia menunggu Phil Coulson di Triskelion. Dengan melihat adegan-adegan tersebut, saya jadi merasa kalau The Winter Soldier malah menjadi episode pelengkap untuk Agent of SHIELD. Karena setelah menonton film tersebut saya masih tidak terlalu yakin kalau HYDRA belum sepenuhnya hilang dari SHIELD. Jadi saya tetap menunggu dengan episode 17 karena sepertinya akan seru.

[Review] The Raid 2: Berandal

Finally, sequelnya The Raid keluar. Sejujurnya saya hampir nekat nonton advanced screening-nya di salah satu bioskop di Ibukota yang juga menampilkan tanya jawab dengan sang sutradara, namun apa daya, acaranya baru dimulai jam 10 malam. Anyway, karena film ini cukup memiliki kesan yang cukup bagus untuk film pertama, tentu saja saya cukup berharap film keduanya juga akan sebaik film pertama. Tidak selamanya sebuah sequel itu jelek, bahkan menurut saya Catching Fire lebih bagus daripada Hunger Games. Tetapi kembali ke preferensi masing-masing orang, review tentang The Raid 2 ini juga dilihat dari subyektifitas saya.

images

—- WARNING, SPOILERS AHEAD. YOU HAVE BEEN WARNED —–

The Raid 2: Berandal konon dikisahkan beberapa jam setelah film sebelumnya berakhir. Dimana jagoan kita, Rama (Iko Uwais), menyerahkan si polisi korup itu ke atasannya dan berakhir dengan tawaran untuk bergabung untuk bekerja undercover untuk menangkap kriminal kelas kakap yang lebih besar lagi.

Singkat cerita, Rama bersedia untuk bekerja undercover yang mengharuskan dia ditangkap dan masuk penjara. Setting penjara sangat kental dengan rasa Prison Break atau any State Penitentiary yang biasa saya lihat di film serial asing. Di penjara dia mendapatkan perhatian karena dianggap cukup kuat dan berteman dengan anak si bos koruptor ini. Kejadian sehari-hari yang penuh dengan berantem dan tembak-tembakan membuat saya cukup bahagia. Walaupun memang alur agak lambat di 45 menit pertama, yang mungkin ingin menjelaskan tentang karakter-karakter yang terlibat di film ini.

Seperti layaknya film indonesia lainnya, saya bersikap cukup kritis walaupun tetap ada beberapa bagian yang dapat ditoleransi. Ya mengingat juga sang sutradara yang merangkap sebagai writer bukan bertanah air di Indonesia, tetapi karena production house-nya dan beberapa aktornya adalah yang biasa main di production house Indonesia tersebut. Anyway lanjut ke cerita, ternyata si bos itu punya saingan, dari jepang. Model the Godfather gitu lah atau keluarganya Romeo & Juliet yang saling menguasai satu bagian di kota. Lalu ada pula yang berusaha untuk mengambil alih seluruh kekuasaan dari mereka semua. Cerita klasik tapi tetep manjur.

Sekarang mulailah saya berkomentar tentang film tersebut. Ada beberapa scene yang menurut saya cukup terngiang-ngiang sampai sekarang. Termasuk salah satunya adalah kehadiran salju (yes, the real snow) ketika perkelahian antara Prakoso (Yayan Ruhian — He got himself a brand new role) dengan anak buah si jepang itu. Jujur saya cukup kaget dengan kehadiran cuaca yang aneh tersebut. Komentar saya pertama kali: “What the? Salju? Belah mananya Jakarta ini?” yang berlanjut dengan pemikiran “Ah, mungkin hanya kiasan atau khayalan semata. Atau bukan di Jakarta kali nih.” Lalu ketika kembali meyakinkan diri kalau itu bukan di Jakarta, seketika keyakinan itu hancur ketika melihat gerobak Lomie Ayam. Jujur, sampai sekarang gw masih misuh-misuh dengan keberadaan salju dan gerobak lomie ayam, tapi temen gw bilang itu adalah scene yang sangat epic.

Sutradaranya bilang, dia menyukai adegan darah yang mengalir di salju. Saya pun demikian, karena kesannya seperti samurai-samurai yang mati terhormat di peperangan, tapi tolong gerobak lomie ayam disingkirkan terlebih dahulu.

Lalu ada pula scene dimana ada sesosok orang yang berperawakan mirip dengan Bapak Presiden duduk menengahi kedua belah pihak yang berselisih tersebut. Lengkap dengan baju beskapnya yang khas itu, gaya bicara “Saya prihatin” dengan gestur tangan naik turun, atau pun rambutnya yang seperti bapaknya Nobita. Saya ngakak tak terkira dan bertepuk tangan ketika scene tersebut. Sungguhlah suatu metafora yang sangat indah, dimana seorang pemimpin di negara yang sudah terlanjur bobrok ini, mengetahui dan membiarkan korupsi merajalela di ibukotanya, atas seizinnya. Sungguh sangat mencerminkan atas apa yang mungkin sebenarnya terjadi.

The-Raid-2-Berandal-Hammer-Girl-Julie-Estelle-and-Baseball-Bat-Man-Very-Tri-Yulisman

Penambahan karakter Hammer Girl dan Baseball Bat Boy juga membuat adegan berantem lebih bervariasi. Asik loh bisa ngerobek leher orang pake martil, udah bukan jamannya lagi pake golok. Dan pertarungan terakhir di dalam dapur dengan seseorang pembunuh tak bernama (Cecep Arif Rahman) itu yang paling epic. Kalau menurut saya jauh lebih epic daripada pertarungan Rama dengan Mad Dog. Mungkin karena settingnya yang di dapur, yang notabene banyak sekali perangkat yang dapat digunakan sebagai alat bantu berkelahi, juga karena di sini pertarungan tampak seperti menari. Sungguh membuat menahan nafas dan ketika pertarungan sedang break, kita bisa sedikit mencuri mengambil nafas dan kembali menahan nafas ketika berbotol-botol wine pecah.

Komen terakhir, Sarabande merupakan lagu yang pas untuk masalah gorok menggorok leher orang, entah itu aransemen versi Haendel atau pun Bach. Untuk film ini, saya beri 7.5/10. Mungkin, jika salju itu hadir tanpa gerobak lomie ayam mungkin akan lebih baik lagi. Namun saya sejak saat ini selalu percaya jikalau ada salju turun di suatu daerah di Jakarta, mungkin saja karena di daerah itu ada yang berjualan lomie ayam.

[Review] Divergent

Image

Posternya aja udh kyk Twilight.

Actually, I should’ve posted this review since 3 days ago.

Saya sebenarnya paling tidak suka kalau ada film yang diadaptasi dari sebuah cerita dan ternyata aktris dan aktornya tidak dapat memerankan dengan seperti yang dibuku, atau lebih parah, aktor dan aktrisnya ternyata berbeda dari apa yang dibayangkan. Hal ini terjadi pada Divergent. Saya sudah baca novelnya, seluruh seriesnya, sampai tamat. Saya sudah merendahkan ekspektasi saya terhadap filmnya. Namun tetap saja saya kecewa.

Film Divergent diangkat dari sebuah novel berjudul serupa bertema distopia yang bercerita tentang adanya kelompok-kelompok (atau di cerita ini mereka menyebutnya Faction — Faksi) dalam kehidupan bermasyarakat di suatu negara / kota yang dipercaya dengan adanya kelompok-kelompok tersebut, kehidupan bermasyarakat akan sempurna. Adalah Abnegation, Erudite, Candor, Dauntless dan Amity nama kelompok-kelompok tersebut. Seseorang berhak untuk memilih faksi mereka ketika sudah berumur 18 tahun, setelah sebelumnya diadakan tes untuk melihat kecenderungan orang tersebut ada di faksi yang mana. Biasanya, seseorang akan memilih berada di faksi dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Tapi tidak bagi Tris (Beatrice) dan kakaknya, Caleb. Mereka terlahir sebagai Abnegation dan ketika Upacara Pemilihan, Caleb memilih Erudite dan Tris memilih Dauntless sebagai faksi mereka. Dan cerita berlanjut dengan kehidupan Tris di Dauntless.

Konflik hadir ketika ternyata terkuak bahwa selama ini Kelompok Erudite (mereka bekerja sebagai peneliti atau kelompok yang senang belajar), tidak menyukai dengan aturan bahwa Abnegation yang menjalankan pemerintahan. Oh, kembali ke penjelasan tentang Divergent, hal itu adalah ketika tes dilakukan, seseorang mendapatkan hasil yang lebih dari dua yang artinya orang tersebut memiliki sifat dan kecenderungan untuk di 3 dan lebih kelompok. Dan pemeran utama kita disini, Tris, adalah seorang divergent yang dibilang memiliki kelainan dan harus menyembunyikan kelainannya itu sehingga tidak diburu oleh yang tidak menginginkan kehadiran divergent di dunia ini. Tebak siapa… Erudite. Dalam cerita, divergent haruslah dibasmi karena dianggap akan merusak tatanan masyarakat yang telah dibentuk dan dipercaya untuk kesempurnaan hidup. Lalu Erudite merencanakan kudeta dan perang sehingga muncul lah perang.

Apa yang saya tidak suka dari film ini adalah casting untuk Tris (Shailene Woodley) yang ternyata cukup tinggi, pokoknya berbadan cukup terlatih. Sedangkan diceritakan di dalam buku kalau Tris adalah seorang yang kecil, pendek dan tidak cukup terlatih. Sebaliknya, yang seharusnya tinggi adalah teman baiknya, Christina. Four (Theo James), mentor di Dauntless, yang diceritakan berumur 22 tahun, terlihat seperti berumur 25 tahun lebih. Dari sisi film, dengan durasi 2.5jam memang sudah cukup panjang, namun, harusnya dapat memberikan cerita dengan lebih baik. Sangat disayangkan ada beberapa part yang dihilangkan, digantikan dengan cerita yang lain tapi dengan maksud yang sama, tapi menurut saya hal tersebut malah membuat film menjadi kurang menarik.

Bagi saya, jujur, film tersebut terasa membosankan. Mungkin karena saya sudah membaca bukunya terlebih dahulu. Ada sisi bagusnya, ketika adegan perang-perangan antar sesama anak baru di taman ria yang sudah terbengkalai, tapi tetap tidak seseru apa yang ada di dalam buku. Mungkin akting dari Shailene kurang mendalami karakter Tris, atau mungkin detail yang dilewatkan, atau mungkin saya sudah memiliki imajinasi sebelumnya sehingga apa yang saya lihat ketika tidak sesuai dengan imajinasi akan langsung dianggap tidak sesuai.

Apa pun itu, filmnya terasa monoton seperti kurang membangun rasa berada di dalam dunia distopia yang sebenarnya. Hal tersebut kurang tersampaikan kepada penonton. Tidak seperti Hunger Games atau pun seperti… film apa tuh yang ada Tilda Swinton dan Chris Evans? yang di dalam kereta? Ah saya lupa. Sepertinya terlalu banyak diceritakan sisi romantis-nya, padahal sebenarnya Four lebih sering mengejek Tris karena dia lebih suka berkata dan berlaku jujur.

Anyway, sudah banyak yang saya lupa ketika menonton film ini, karena saya menganggap film ini adalah film biasa untuk remaja. Membosankan. Akhir kata, 3/10 utk film ini.

New Chapter

Setelah lama blog ini vakum, saya berusaha untuk menghidupkannya kembali. Kali ini saya kembali akan menulis tentang review film-film terbaru, buku-buku yang sudah berhasil saya baca sampai selesai maupun persoalan yang sedang hangat di media. Semuanya akan dibahas dari sudut pandang saya sendiri, berarti akan sangat besar subyektifitas di dalamnya.

Post selanjutnya akan dimulai dengan Review film yang baru diputar di bioskop kesayangan Anda, Divergent. Dengan ditemani oleh Schubert Piano Sonata No. 16 on A, saya berharap bisa dapat konsisten menulis lagi.

Mari Kita Menolong Sesama

Rasanya udah lama banget saya ga posting yah. Berderet-deret film telah saya tonton, dan belum ada satu review yang saya perbarui di blog karatan ini. Ah saya lebih tertarik menulis tentang film Indonesia dengan rating bintang (bukan kancut) daripada film luar.

Eniwei, mau membantu orang? Dapet pahala loh, gede lagi. Gini, coba bisa tolong klik di bawah ini

http://fit.sgu.ac.id/

Intinya si temen saya ini sedang menyelesaikan skripsinya yang sudah tertunda 2 semester. Kasian kan kalo doi harus ngulang semester lagi. Nah, di link itu, coba deh tulis-tulis komen di forumnya. Trus coba cari tau siapa sebenernya temen saya ini. Siapa tau juga si temen saya itu dapet jodoh dari yang kebetulan drop komen di link tsb. FYI, temen saya itu udah menjomblo cukup lama loh. Saya khawatir aja kalo kelamaan dia bakal berubah orientasi.

Oh iya, loginnya bisa pakai username di bawah ini:

username: guest
password: password

Buat yang penasaran, nih saya kasih fotonya

Nah, ganteng kan. Terpelajar lagi. Ah, saya kyk lg promosi temen yah. Bentar lg paling saya ditimpuk sendal ama orangnya.

Terima kasih bagi yang sudah membantu. Semoga diberikan pahala yang setimpal oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Amin. Continue reading

Reality Show Politik

Dalam satu bulan terakhir ini yang paling santer dibahas media adalah mengenai kasus Bank Century dan keterkaitannya dengan bapak presiden tercinta, bapak wakil presiden dan ibu menteri keuangan. Setelah adanya berita itu, mulai berkembang wacana dimana akan ada pemakzulan (jujur, gua ga ngerti ini artinya apaan) yang setelah saya googling memiliki nama lain impeachment — Nah, kalau ini gua tau artinya.

Anyway, sebelum mencuatnya wacana tersebut di tengah publik, akhirnya banyak rakyat Indonesia yang merasa salah pilih pemimpin waktu pemilu kemarin. Mereka-mereka yang merasa dibohongi dan dibodohi itu akhirnya berunjuk rasa besar-besaran tepat pada genap 100 hari masa pemerintahan. Ada 3 hal yang saya perhatikan dan bikin penasaran; pertama, mereka berunjuk rasa karena merasa dibodohi oleh si calom pemimpin. In my very humble opinion, apakah dulu sebelum pemilu mereka sudah mencari tahu dengan lengkap siapa sebenarnya yang akan mereka pilih? Sepertinya slogan LANJUTGAN dari si calon presiden cukup kena di masyarakat dengan catatan pada masa pemerintahan sebelumnya si calon presiden ini notabene bisa memikat hati rakyat dengan program-programnya yang cukup mendapat pujian. Am I saying kalau yang mau memilih itu bodoh? Oh tentu tidak, itu masalah mereka yang tidak puas. Kalau saya sih tidak memilih pada waktu itu, yang memilih justru keponakan saya yang masih berusia 5 tahun (saya membawa dia ke dalam bilik suara dan menyuruh dia mencoblos calon mana saja yang dia suka).

Kedua: Apakah pada masa pemerintahan yang pertamanya si presiden terpilih ini memang berniat untuk jadi presiden lagi, sehingga dia rela mengambil hati rakyat dengan program-programnya yang cukup menarik dan gambaran kalau dirinya adalah sosok yang ditindas, padahal dia mempunyai rencana besar karena masa pemerintahan cuma boleh 2 kali. Jadinya wajar aja kan kalau dia memaksimalkan usaha untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Talk about dana kampanye yang sampe bermilyar-milyar, kalau dipikir-pikir wajar juga dia mau balik modal. Yah, tapi ga sampe 6,7 milyar juga kali (eh bener milyar ya? Apa triliun?).

dan ketiga: Ada yang menjadi penggerak unjuk rasa kemarin ini. Mungkin barisan sakit hati? Ya mungkin saja, mengingat muncul organisasi masyarakat baru yang juga berwarna biru dengan niat tujuan merangkul orang-orang yang sudah disakiti hatinya oleh si bapak presiden.

Masih ingat postingan saya sebelum ini yang tentang presiden bikin press conference tentang RENCANA BESAR PENEMBAKAN PRESIDEN dan disiarkan langsung di televisi yang notabene bikin saya ngakak? Nah, masih seputar kebiasaan ajaib si presiden ini selain senang cari perhatian dari rakyatnya dan kampanye produk mie instan, yaitu mengadu. Beda tipis sih mengadu dengan cari perhatian, tapi hal itu adalah sah dan wajar kalau dilakukan oleh anak kecil, mungkin 7 tahun. Tapi kalau untuk ukuran orang dewasa dan orang itu adalah presiden, I don’t think so. Pak’e, kenapa ga sekalian aja bikin account facebook dan twitter, trus ngeluh-ngeluh disitu. Dan mohon jangan membentuk pansus untuk membahas tentang peraturan baru yang ga penting. Kalau Luna Maya dan Prita bisa terkena efek dari undang-undang ITE, seharusnya bapak presiden juga bisa kena dong. Tapi ya sekali lagi dengan catatan, undang-undang itu berlaku untuk semua orang dan presiden adalah bukan seseorang yang kebal hukum. Eh presiden ga kebal hukum kan?

Anyway, si bapak presiden berkomentar tentang unjuk rasa yang berlangsung tanggal 28 Januari kemarin. Katanya caranya salah dengan berteriak-teriak menyebut kalau dirinya dan wakilnya adalah maling. Oke, Pak, kalau bawa kerbau di jalan mungkin agak kurang etis juga kali yah. Lagian yang saya concern dalam urusan pe-kerbau-an itu bukan analogi kerbau sebagai bapak, tapi lebih ke kasihan si kerbaunya diajak unjuk rasa seperti itu. Tapi kalau urusan teriak-teriak maling itu saya kira wajar-wajar saja kok. Gini ya Pak, bukannya saya mencela, tapi boleh dong seorang presiden di kritik. Katanya negara demokrasi, kok di kritik seperti itu langsung bikin rapat kerja untuk membahas tata cara unjuk rasa. Kalau begini terus sih bapak tidak ada bedanya dengan almarhum engkong jenderal yang memerintah negeri ini selama 3 dekade.

Konon katanya si bapak presiden ini takut dengan media massa ataupun segala macam yang berhubungan dengan orang banyak. Ya cukup kelihatan sih, sepertinya beliau ini trauma dengan kejadian pendahulunya yang digulingkan oleh mahasiswa. Tapi yang saya lebih heran lagi yah, kenapa tiap ada kejadian yang membahayakan dirinya, dia selalu mengadu ke publik? Jujur ya, kalau saya sih sama sekali tidak merasa simpati. Ingat postingan saya yang dulu? Saya malah ngakak abis-abisan waktu beliau ini menunjukkan foto dirinya yang dijadikan sasaran tembak. In my very very very humble opinion, beliau ini seorang jenderal TNI seharusnya tidak takut pada hal-hal seperti itu dan juga tidak menakuti rakyatnya dengan cerita seperti itu.

Curhat sih tidak masalah yah, tapi kalau curhatnya di media massa, lalu setelah itu dia bereaksi dengan membentuk pansus untuk masalahnya dia artinya mah lebay. Analoginya gini, misalnya itu sama aja kayak orang yang ikut acara reality show demi dicarikan mantan pacarnya yang katanya selingkuh dengan teman masa kecilnya. Kalau saran saya sih, lebih baik si bapak presiden ini juga ikutan acara reality show tersebut, soalnya mahal kalau harus bikin pansus lagi, udah gitu masalahnya belum tentu ada solusinya lagi. Anyway, selagi menunggu tim reality show mencari solusi dari masalahnya, bagaimana kalau si bapak Presiden mulai brainstorming untuk album ketiga? Btw, album keduanya baru keluar januari kemaren, ketika masalah kasus bank century lagi hangat-hangatnya dan belum selesai.

How’s that Mr. President?

[Review] Rumah Dara

Bagi yg menantikan film indonesia dg genre violence nan gore layaknya texas chainsaw, mungkin film ini bisa dijadikan pilihan. Awalnya namanya MACABRE (gua gak tau gmn spellingnya, pokoknya tulisannya kyk gt) tapi entah bagaimana ceritanya bisa berubah jadi Rumah dara. Jangan tanya saya, mohon tanya sutradara atau penulis skenarionya. Saya nonton ini karena pas filmnya muncul di INAFFF 2009 kemaren saya tidak sempat nonton, jadilah saya nonton film ini di malam minggu sembari midnite (sebuah keputusan yang amat sangat salah).

Anyway, bagi yang pernah nonton Takut: Faces of Fear, mungkin ga asing dengan sosok Dara. Diceritakan di film kelima itu (judulnya Dara) kalau Dara adalah perempuan cantik, anggun nan jago masak. Dara mengelola restoran yang terkenal dengan masakannya yang super enak. Cukup sampe di sini, kalau dilanjut lg saya akan cerita tentang Takut, bukannya Rumah Dara.

Nah, Dara di film Takut itu sama dengan Dara di Rumah Dara (yaeyalah), namun di film ini ceritanya bukan masalah restoran, tapi tentang sekelompok anak yang awalnya berniat baik malah kejebak di rumah untuk dijadiin makan malem. Oh nasip nasip, yang namanya apes mah udah gak bisa ditolak kali yah.

Dari awal saya sudah tahu kalau film ini akan penuh dengan cipratan darah dimana-mana jadinya begitu adegan penuh dengan gergaji mesin dan pisau daging bertebaran, lemeslah ini badan sampai hampir muntah. Sedangkan pacar gua sukses melek ga jadi tidur gara-gara adegan bunuh-bunuhan udah dimulai. Oh, harap diingat, sekitar 20-30 menit pertama itu adegannya standar dan agak boring, super boring kalau menurut saya. Mungkin niatnya mau bangun cerita biar ga kepotong-potong kali yah. Jadi kalau yang mengharapkan adegan mutilasi harap bersabar terlebih dahulu.

Bagi saya, Shareefa Daanish terlalu muda sebagai ibu yang anaknya udah gede-gede, tapi mungkin disitu niatnya — bikin seseorang yg mysteriously terlihat ga ada bedanya dengan tampang dia di tahun 1889. Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan makan daging orang (seketika gua mikir tentang sumanto dan mau muntah — sia2 lah french fries sisa burger king gua). Awalnya saya mengira kalau mereka sekeluarga itu vampire (yeaaahh, nyumun rocks!!) tapi saya pikir lagi kalau vampire TIDAK MAKAN DAGING orang melainkan MINUM DARAH orang, dapat terlihat bedanya bukan, jadi saya mengambil kesimpulan kalau mereka itu bukan vampire. Lalu apakah mereka? Coba tonton filmnya dan mungkin saja Anda mendapatkan jawabannya.

Akting pemain-pemain lain tidak terlalu jelek, hanya saja perkiraan saya kalau orang yang paling lebay dan pecicilan pasti akan jadi yang paling apes dengan mati duluan itu salah. kalau nonton, mungkin Anda tahu orangnya siapa. Mengenai jalan cerita, ada 1 adegan yang menurut saya tidak perlu. Adegan tersebut ga penting dan malah jadi bikin jalan cerita aneh. Dimana salahnya? Salahnya adalah ketika terjadi penambahan karakter tidak penting. Mungkin penting bagi si pembuat film, tapi bagi saya tidak penting, jadi seketika saya turnoff dengan film tersebut. Maaf tapi bagi saya penambahan karakter seperti itu justru berbahaya karena ditakutkan akan menjadikan film tersebut tidak konsisten.

Bagi penggemar film slasher, mungkin mengira film ini rip-off dari Texas Chainsaw. Sutradaranya bilang kalau film ini memang sengaja mengambil ide (maybe turns out to be ripped off) dari film slasher paling terkenal itu tapi, ada tapinya nih, mengikut sertakan rasa Asia yang mencekam. Pada awalnya sih saya mengira akan ada setan-setan ala Thailand, tapi ternyata bukan rasa Asia seperti itu yang disajikan.

Overall, film ini bernilai 7/10. Silahkan ditonton kalau anda penasaran dengan slasher ala Asia dan jangan di tonton kalau anda seperti saya yang langsung pingsan kalau melihat darah berhamburan.