Perjalanan Lintas Galaksi dan Waktu di Interstellar

Ulasan ini sebenarnya telat lebih dari seminggu, tapi tidak apa-apa yang penting tetap posting. Atas rekomendasi seorang teman, saya nonton Interstellar di imax, katanya sih biar makin berasa seperti di planetarium. Interstellar sendiri saya ketahui juga dari seorang teman–bukan orang yang sama–ketika sedang ngobrol ngalor ngidul dari masalah kerjaan sampai samurai. Pada saat itu saya langsung penasaran dengan film ini karena menurut saya Inception dan The Dark Knight adalah sebuah mahakarya yang brilian. Ketika melihat trailernya di youtube, saya hanya bisa menebak-nebak nanti filmnya seperti apa, agak gambling juga karena menurut teman lama, film yang trailernya tidak jelas biasanya bagus, jadi saya merasa film ini entah akan jadi bagus sekali atau jelek sekali tergantung ceritanya akan kacangan seperti 2012 atau tidak. Tapi disini kita membicarakan sebuah karya Christopher Nolan, yang ide berceritanya ada di papan atas, paling tidak begitu kata fans fanatiknya. Menurut saya secara sederhana film ini bercerita tentang sifat dasar manusia untuk bertahan hidup, disertai dengan efek kamera dan ide tentang ruang berdimensi banyak.

-98caac85-f5ed-419a-8a2e-672a10473ea3

Interstellar berlatar belakang ketika bumi sudah mulai kekurangan bahan pangan, ketika lahan sudah mulai rusak dan tidak bisa dipakai lagi untuk bercocok tanam. Seorang veteran pilot NASA bernama Cooper harus meninggalkan keluarganya untuk terbang mencari planet baru yang dapat dihidupi. Dalam misi-nya tersebut, Cooper ditemani oleh ilmuwan NASA lainnya Prof. Amelia Brand, Romilly, dan robot kotak bernama TARS. Sepertinya ada lagi ilmuwan yang ikut namun saya lupa namanya, yang saya ingat dia mati terseret ombak besar di planet pertama. Misi tersebut memakan waktu bertahun-tahun sampai pada akhirnya ketika Cooper kembali ke bumi, anak perempuannya sudah menjadi nenek-nenek.

Plot dasarnya seperti itu, tapi kenapa anak perempuannya sudah menjadi nenek-nenek ketika Cooper kembali ke bumi, jawabannya adalah teori relativitas waktu. This film is not for the faint of heart. Bukan maksu dnya film ini horor, tapi film ini cukup berat dengan tema kuantum fisika yang dibawakan. Dengan durasi hampir 3 jam dan membahas teori relativitas, sepertinya jika Anda biasa menonton film untuk hiburan, film ini bukan hiburan seperti yang Anda bayangkan. Tapi jika Anda seperti saya yang sangat menyukai angkasa raya termasuk material dan teori-teorinya, mungkin Anda merasa film ini terasa kurang lama untuk menjelaskan teori-teori tersebut dengan utuh. Jika demikian, saya juga bingung kenapa nilai fisika saya selalu dibawah rata-rata kelas ketika masih sekolah dulu.Interstellar-05

Yang membuat saya terkagum-kagum dengan film ini adalah penggarapan efek di luar angkasa-nya yang katanya dibuat presisi dengan rumus-rumus asli yang saya sendiri pasti muntah melihatnya. Dengan tingkat keseriusan seperti itu, tidak heran hasil dari penafsiran dari wormhole begitu nyata. Apa itu wormhole? Di film-nya sendiri sebenarnya sudah dijelaskan. Jika kamu mau menghubungkan titik A dengan titik B, selain dengan menarik garis antara keduanya, cara yang lebih cepat bisa dilakukan dengan melipat kertas dan menempelkan titik itu satu sama lain. Dengan begitu A dan B tidak terlihat berjarak lagi dan tempelan titik A dan titik B itu lah yang disebut dengan wormhole. Teori-nya ruang angkasa itu selalu memuai, jadi wajar saja jika memang betul ada wormhole di suatu sisi di sudut angkasa raya sana. Dengan penggarapan yang super detail seperti itu, kabarnya pembuatan film ini juga menghasilkan 2 paper science; untuk fisika dan untuk perfilman.

Satu lagi yang membuat saya sampai menganga adalah definisi dan penggambaran dari ruang berdimensi lebih. Kita hidup di dunia 3 dimensi, dengan panjang-lebar-tinggi, dengan dimensi yang ke-4 yaitu waktu. Film ini memberikan penggambaran ruang 4 dimensi sebagai ruang 3 dimensi. Eh, gimana? Yang saya bayangkan, 1 dimensi adalah jika kamu menarik garis antara 2 titik. Lalu 2 dimensi adalah ketika 2 garis paralel dihubungkan dengan garis. Lalu 3 dimensi adalah ketika 2 bidang datar paralel saling dihubungkan. Lalu ketika 2 ruang paralel dihubungkan, maka jadilah 4 dimensi. Bingung? Awalnya saya juga bingung, tapi ruang 4 dimensi yang disajikan di film ini begitu masuk akal, sehingga jika kita menganggap dimensi ke-4 adalah waktu, maka ruang-ruang 3 dimensi yang banyak itu adalah dunia seperti biasa, yang disusun paralel dengan waktu sebagai penghubungnya. Mungkin pernah dengar teori tentang dunia paralel. Yaitu kemungkinan terciptanya satu dunia lain, dengan keadaan berbeda, jika saja kita memilih pilihan B ketimbang pilihan A. Jika dengan mengikuti teori tersebut, saya percaya kalau memang angkasa raya itu memang pasti selalu memuai menjadi lebih luas.Interstellar-space

Baik, lupakan tentang teori kuantum fisika, mari kita kembali ke film. Buat saya, bintang utama di film ini bukanlah Cooper yang diperankan oleh Matthew McConaughey, melainkan TARS. Robot besi kotak dengan tingkat humor 85% dan kejujuran 90% ini sungguh menarik perhatian saya. TARS adalah co-pilot pesawat Ranger yang walaupun kotak dia dapat berjalan dan lari dengan mudah. Bentuknya seperti mainan uler-uleran jaman SD yang bisa dilipat-lipat. TARS mengingatkan saya pada Baymax. Jika Baymax adalah personal healthcare assistance, maka TARS adalah journey assistance. TARS adalah super computer yang dapat menghitung rumus tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam blackhole dan diterjemahkan dalam bentuk kode morse. Kalau saya, pengetahuan kode morse hanya sebatas SOS saja (…—…). TARS tidak sendiri, TARS juga punya teman bernama CASE yang tinggal di space station dan KIPP yang ikut pergi bersama Dr. Mann ke planet di dekat blackhole itu. TARS, CASE dan KIPP adalah robot berbentuk sama dan saling mengenal satu sama lain layaknya kawan lama.Interstellar-Walking-Monolith-Robot

Saya mengagumi Christopher Nolan sejak The Dark Knight, namun saya juga tidak menyukai film dengan jalan cerita yang terasa lompat-lompat. Di film ini, ada beberapa lubang yang sebenarnya membuat tanda tanya dan terkesan tidak masuk akal. Contohnya ketika Cooper tiba-tiba pergi meninggalkan keluarganya untuk bertahun-tahun tanpa ada kemungkinan untuk kembali, rasanya hal tersebut diputuskan seperti kita memilih mau makan eskrim rasa straciatella atau rasa hazelnut, yang buat saya langsung tanpa pikir panjang memilih rasa straciatella. Ketika bertemu dengan teman-teman di NASA waktu dulu, dan ditampilkan dengan kemungkinan untuk menemukan planet baru, tiba-tiba keesokan harinya Cooper langsung pergi untuk menjadi pilot. Rasanya jika ada sedikit konflik batin akan menjadi lebih baik lagi, disitu jalan cerita seakan dipercepat dengan kecepatan cahaya untuk langsung lompat ke hyperspace dan dialog tentang kuantum fisika mengenai gravitasi dan sebagainya dapat ditampilkan dengan baik.

Jika kawan yang menyarankan agar menonton di Imax tersebut memberi nilai 9, yang sebagian besar karena kefanatikannya pada Christopher Nolan, untuk film ini saya beri nilai 8. Nilai tersebut untuk ide brilian tentang luar angkasa dan apa yang terjadi di dalamnya dan untuk penafsiran dan penggambaran pada ruang berdimensi tinggi yang saya hanya bisa membayangkan dari rumus klasifikasi bernama Support Vector Machine. Jikalau saja Nolan sedikit tidak mempercepat cerita di awal saya akan lebih menyukai film ini. Tapi terlepas dari itu, durasi hampir 3 jam sama sekali tidak membuat saya bosan. Film ini adalah film yang berat, jika Anda tidak terbiasa menonton film seperti ini dan hanya mau ikut-ikutan trend saja, lebih baik tunggu sampai versi BluRay-nya keluar. Jika tidak, mungkin Anda akan sibuk dengan smartphone Anda seperti orang yang saya timpuk pakai napkin ketika layar smartphone-nya terus menyala sepanjang film.

 

Advertisements

Film Animasi Terbaru Disney Memperkenalkan Robot Petarung Membal dan Unyu

8vTanjubTYDengan tingkat obsesi yang agak sedikit berlebihan dengan Disney, mungkin saya dapat dibilang sebagai geek. Masih ingat ketika saya marah-marah dengan Maleficent?  Nah berbeda dengan sebelumnya, di film animasi Disney terbaru berjudul Big Hero 6 ini, saya bahagia luar biasa. Buat saya, film ini adalah mashup dari Avengers-Guardians of the Galaxy-The Incredibles yang menghadirkan inflatable-fluffy-super huggable-marshmallow robot terasa sempurna di semua komponen.

Big Hero 6 menceritakan seorang jenius bernama Hiro Hamada yang kehilangan kakaknya,   Tadashi, karena kecelakaan. Hiro tidak sengaja mengaktifkan Baymax, robot perawat buatan kakaknya, ketika dia masih berduka atas meninggalnya Tadashi. Dengan kelakuan Baymax, Hiro tidak sengaja juga mengetahui siapa yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Akhirnya Hiro bertekad untuk menangkap pelaku tersebut dengan sedikit modifikasi pada program Baymax dan dibantu oleh sahabat-sahabat Tadashi. Pertama kali saya melihar teaser trailer Big Hero 6 di blitz membuat saya mengira kalau Baymax adalah sebuah robot ironman versi gendut, nyatanya, Baymax adalah robot personal healthcare yang bertugas untuk membantu orang-orang. Baymax dibuat dengan muka yang lucu agar tidak terasa menakutkan dengan kulit terbuat dari vinyl dan kerangka dari carbon fiber yang ringan.big_hero_6_baymax_hiro_h_2014

Sebenarnya alur cerita Big Hero 6 mudah saja untuk ditebak oleh orang dewasa, contohnya pada saat Hiro mengetahui siapa sebenarnya pelaku kecelakaan yang menyebabkan kematian kakaknya, lalu di akhir cerita ketika ada salah satu tokoh yang berkorban. Ya mudah lah untuk ditebak dengan jalan cerita ala Disney. Namun hal tersebut tidak membuat saya untuk tidak menyukai film tersebut karena Disney selalu bercerita dengan gaya seperti itu. Intermezzo sedikit, Big Hero 6 adalah komik keluaran Marvel. Tidak, saya tidak bohong, saya juga tidak pernah mendengar komik ini sebelumnya.

Selain The Avengers, beberapa komponen dari film ini mengingatkan saya pada The Incredibles. Apalagi ketika salah satu kawan Tadashi yang bernama GoGo berlari dengan no-friction-air-tight-suspension wheel yang dia ciptakan, seperti melihat Frozone berlari ketika dikejar Drone liar buatan Buddy. Atau ketika Honey Lemon diserang oleh microbots, dia berlindung di kubah shield yang dia buat sendiri dari campuran kimia, yang terlihat seperti Shield-nya Violet. Atau ketika shield itu sendiri diserang, terlihat seperti Drone yang sedang menghancurkan dirinya sendiri. Adegan berantem sepertinya banyak yang diambil dari The Incredibles. Mengenai Guardians of The Galaxy, sekumpulan anak muda entah dari mana berkumpul dengan perangkat super yang diciptakan sendiri, untuk membantu mengembalikan kedamaian kota, sangat terlihat seperti sekumpulan topeng monyet ala Guardians of The Galaxy.

tumblr_n90bytlbId1t0vum3o5_r1_250

Go home, Baymax. You’re drunk.

Sisi lucu dari film ini dibawakan langsung oleh Baymax sendiri yang tampil layaknya marshmallow yang siap untuk dipeluk. Dengan super detail, rumah animasi Disney juga memberikan suara ketika Baymax sedang berjalan, dengan kulit vinyl-nya yang saling bergesek sehingga bersuara seperti gesekan antara dua balon. Saya yakin sekali itu suara diambil dari dua balon yang saling bergesekan. Baymax berhasil mengubah bayangan tentang robot yang selama ini diwakilkan oleh Transformer, C3PO, R2D2 atau seluruh edisi Mark buatan Tony Stark yang penuh dengan besi dan terasa keras. Baymax terasa membal, walaupun begitu Baymax dapat tampil sangar dengan kostum Ironman buatan Hiro yang di print secara 3D. Baymax sangat mengingatkan saya pada Jarvis, lengkap dengan mode suara yang terkesan dapat selalu dimintain pendapat. Saya paling suka ketika Baymax kehabisan baterai, saya kira dia akan menjadi lambat atau hibernasi, tetapi lebih bagus lagi dari itu, Baymax dibuat layaknya orang mabuk. Ide yang sangat brilian, bagi saya tidak ada yang lebih menyenangkan dari robot marshmallow mabuk yang memeluk kucing gendut bernama Mochi.

Kabarnya film ini dibuat dengan teknologi pencahayaan terbaru yang dirender dengan 55,000 core komputer dengan 4 render farm yang tersebar di 4 lokasi yang terpisah secara geografis. Detail kota San Fransokyo yang merupakan mashup dari San Fransisco dan Tokyo dibuat sangat detail lengkap dengan Golden Gate (dengan tiang ala tradisional jepang), Tokyo Tower, Dingding Tram ikonik San Fransisco, jalan berbukit-bukit, jalur kereta listrik yang menembus gedung, dan pijaran lampu neon di sekitaran Ginza dan Shibuya. Begitu detail sehingga kabarnya dapat dengan mudahnya di zoom sampai dengan kucing yang sedang melintasi jalan raya. Walaupun tidak sampai secanggih Interstellar yang efeknya dapat membuat dua paper baru, tapi teknologi ini ternyata merupakan upgrade dari teknologi sebelumnya yang membuat rambut Rapunzel tampak indah. Jadi ingat dulu ketika saya kuliah suka membuat clay animation dan terpaksa harus menggandakan foto yang ada agar paling tidak video saya dapat menjadi 8fps, betapa kebayang usahanya kalau video tersebut mau dibuat dengan 25fps.big-hero-6

Big Hero 6 sangat menghibur dan anak-anak dapat mudah mencerna komedinya. Walaupun saya menonton film ini di atas jam 9, film ini sama sekali tidak membuat ngantuk. Jika suka dengan 3D mungkin dapat dicoba walaupun menurut saya 2D juga sudah cukup karena gambarnya tidak se-eye-popping Despicable Me. Saya sendiri lebih suka nonton 2D karena dengan kondisi mata sekarang sulit sekali kalau nonton dengan kacamata lain. Nilai sempurna 10 untuk film ini karena konsep
robot yang berbeda dan action packed yang dikemas dengan baik. Kalau Interstellar terasa terlalu berat, mungkin Big Hero 6 cocok sebagai hiburan.