Cerita Dibalik Hidangan dalam Tabula Rasa

Mengenai film, saya masih bukan apa-apa yang masih belajar untuk mengerti, bukan sebagai penonton yang puas dengan ledakan dan efek kamera. Mengenai makanan pula saya juga bukan apa-apa, yang masih belajar tentang jenis-jenis potongan dan cara membuat kaldu yang benar. Tapi saya suka jika ada film yang bercerita tentang makanan dan makna dibaliknya, seperti Tabula Rasa yang semalam baru saya tonton, penasaran karena konon berkisah tentang makanan minang. Oh, dan saya bukan pula orang minang, saya hanya seorang anak Jakarta asli lahir dan dibesarkan di Ibukota yang kebetulan menyukai makanan minang. I mean, who doesn’t, right?TR---Poster-body

Tabula Rasa dikenalkan oleh seorang kawan melalui twit-nya ketika dia sedang memproduksi film tersebut. Tak heran karena setahu saya memang dia menyukai dunia perfilman yang kurasa salah jurusan di perhotelan. Anyway, saya pada awalnya skeptis dengan semua film Indonesia karena menurut saya selalu mempunyai masalah pada jalan cerita dan dialog, kecuali The Raid yang memang sudah bercerita melalui seluruh desingan peluru dan darah itu. Namun rendang lah yang menarik saya pada Tabula Rasa.

PFilm dibuka dengan kamera yang mengarah pada satu bagian di rumah dan terdengar bunyi ramai dari wajan kuali yang terkena sodet mengindikasikan seseorang sedang memasak. Lalu terlihat sekumpulan anak bermuka datar menunggu dan akhirnya seorang pemuda muncul dari balik pintu dan mengajak anak-anak tersebut untuk makan bersama. Pemuda itu bernama Hans, berasal dari Papua dan bercita-cita menjadi pesepakbola professional namun karena kejamnya Ibukota akhirnya menjadi kuli serabutan. Hans bertemu dengan Mak pemilik rumah makan masakan padang Takana Juo ketika Hans mencoba bunuh diri dan sejak saat itu Hans seperti terikat dengan Mak, Uda Nasir si pelayan dan Uda Parmanto si juru masak. Dialog yang kental dengan bahasa minang dan dialek Indonesia-Papua mengindikasikan kalau Hans dan Mak adalah sama-sama pendatang di tanah Jawa ini. Lalu konflik muncul ketika Uda Parmanto tidak senang dengan kehadiran Hans di Takana Juo dan memutuskan untuk pergi. Dengan ketidakhadiran Uda Parmanto, maka Mak bertanggungjawab dengan masakan, dibantu oleh Hans yang senang dengan pekerjaan barunya ini. Kesulitan lalu semakin bertambah dengan hadirnya rumah makan tandingan yang sungguh gadang di seberang Takana Juo dan demi menyelamatkan Takana Juo, akhirnya Mak rela gulai kepala kakap kenangan anaknya dimasukkan ke dalam menu.

Filosofi yang sungguh terasa dalam film ini adalah makanan sebagai awal dari pertengkaran keluarga, makanan sebagai kenangan, dan makanan pula yang menyatukan keluarga, sahabat dan kawan. Ketika pertama kali Mak bertemu dengan Hans, gulai kepala kakap yang dihidangkan yang merupakan makanan kenangan Mak akan anaknya yang meninggal karena gempa Padang tahun 2009. Resep rendang andalan Mak pula yang menjadi akar pertengkaran Mak dan Uda Parmanto yang kabur ke rumah makan saingan. Dan ketika Mak kesal dan marah pada Hans, keduanya dapat bercengkerama seperti biasa lagi ketika sedang makan ketupat sayur di pasar. Tidak hanya Indonesia, di belahan bumi lainnya pun saya sering sekali melihat acara makan-makan yang melibatkan keluarga besar dan sanak saudara. Bahkan saya pribadi ingin sekali mempunyai dapur yang besar dimana saya dapat memasak sekaligus bercengkerama dengan keluarga.

Mengenai hidangan minang, rendang adalah yang paling terkenal, yang konon disebut sebagai makanan terlezat di dunia. Namun, di film ini saya begitu tertarik dengan dendeng batokok bakar lado mudo yang membuat saya kelaparan di tengah malam (saya menonton filmnya jam 10 malam). Saya pernah makan rendang dan gulai kepala ikan, bahkan dendeng batokok pun saya pernah makan. Namun dendeng batokok bakar saya baru mendengar dan sepertinya rasa dari hasil menggoreng dan dibakar akan sangat berbeda, terlebih lagi bakarnya langsung di atas arang dan diolesi dengan minyak kelapa dengan sereh yang ditumbuk. Yes, minyak bukan dioles dengan kuas masak, melainkan dengan sereh. Pastinya wangi sereh akan terasa di daging tercampur dengan aroma arang. Lalu daging dicampur dengan olahan lado mudo (cabe hijau) dan disiram dengan jeruk limau. Saya penasaran setengah mati dengan dendeng bakar ini sampai mencari resepnya di dunia maya dan menemukan kalau resep ini memang dibuat oleh seorang Chef untuk film ini. Senang sekali begitu membaca kalau film ini mempunyai penasehat kuliner, menunjukkan bahwa memang kuliner dianggap sebagai bagian yang terpenting dari film ini.tabula-rasa-3

Perasaan skeptis saya mengenai film Indonesia sedikit terlupakan, semata-mata karena rendang dan gulai di depan mata. Namun ada beberapa adegan tanpa dialog yang menurut saya sedikit lebih lama dari seharusnya. Jika adegan-adegan tersebut durasinya dikurangi sedikit saja, maka akan terasa lebih pas. Cerita yang sederhana terbangun perlahan-lahan dengan konflik di dalamnya. Mudah ditebak tapi tidak terasa seperti sinetron, tidak berlebihan. Dialog-dialog dalam bahasa minang terdengar hampir di seluruh adegan film ini. Bagi yang tidak mengerti bahasa minang seperti saya ini, tidak perlu takut karena terjemahannya sudah tersedia. Alur cerita sedikit di bolak balik, sehingga baru di tengah-tengah film kita dapat mengetahui mengapa Hans terlantar di pinggiran Ibukota. Mungkin maksudnya untuk membuat penonton penasaran, works for me anyway. Dan untunglah kamera yang tidak stabil, yang sangat saya benci, hadir tidak terlalu banyak dan tidak sampai membuat saya pusing.

Secara keseluruhan saya suka film ini, buat saya nilainya 7.5/10 terlepas dari efek dendeng batokok bakar yang membuat saya kelaparan di tengah malam. Bagi saya film ini terasa baru dan menyegarkan di tengah produksi film Indonesia yang masih di dominasi dengan horor atau percintaan atau kombinasi keduanya yang terasa seperti sinetron. Buat saya yang film Indonesia terakhir kali ditonton adalah Berandal, tema sederhana seperti ini mampu menarik saya untuk menonton di minggu pertama film ini keluar, semata-mata karena tema masakan yang dijanjikan. Dan di film ini saya mendapatkan yang saya inginkan lengkap dengan efeknya ketika siang ini saya langsung pergi ke warung nasi padang di belakang kantor untuk sepiring ayam pop dan perkedel yang disiram kuah ikan asam padeh. Kenyang.

 

Advertisements

Sabar, Kyoto Inferno Baru Awalnya Saja

Playing on iPod: Heartache – ONE OK ROCK.

Di postingan sebelumnya sudah saya kasih tahu kan kalau untuk The Legend Ends, judul soundtracknya adalah Heartache. Lagunya sudah masuk di iPod saya walaupun hanya bentuk rip-an dari soundcloud dari konser mereka di Yokohama Stadium.kenshin201

Sabar. Itu yang saya bilang ke diri saya sekarang ini sampai nanti The Legend Ends ditayangkan di bioskop Indonesia. Juga ketika saya berteriak ketika film habis disaat Seijuuro Hiko menggotong Kenshin yang terdampar di pinggir pantai. Saya adalah penggemar berat Rurouni Kenshin. Dimulai dari film tersebut ditayangkan di salah satu stasiun televisi ketika saya masih SMP, sepertinya kelas 1, mungkin sekitar tahun 2000. Semenjak itu dan sampai sekarang saya tergila-gila dengan segala hal yang berhubungan dengan samurai. Juga karena film ini saya mengenal L’Arc~en~Ciel. Ternyata kalau saya pikir-pikir, banyak hal di hidup saya yang bermula dari film ini. Masih jelas di ingatan saya ketika saya melarikan diri untuk bolos bimbingan belajar UAN SMP demi menonton Kenshin ketika akan berhadapan dengan Shishio. Saya juga masih ingat menangis tatkala menonton adegan kunang-kunang yang menurut saya sangat legendaris itu. Akses internet yang waktu itu masih terbatas membuat saya harus puas dengan rekaman lagu It’s Gonna Rain yang tercampur dengan suara yang aneh-aneh. Dan ketika bersabar mengumpulkan komiknya satu demi satu demi melihat kelanjutan film-nya yang terputus penayangannya di tengah jalan.

Tak bisa saya percaya sewaktu dua tahun lalu trailer untuk filmnya yang pertama, Meiji Kenkaku Romantan, saya temukan di youtube. Berharap ada distributor film yang berbaik hati untuk membawa filmnya untuk ditayangkan di Indonesia, namun t  ernyata saya harus bersabar menunggu filmnya tersedia di dunia maya. Lalu ternyata untuk yang sekarang saya lebih beruntung, sekuelnya yang berjudul Kyoto Inferno akhirnya ditayangkan di salah satu jaringan bioskop Indonesia. Memang sebulan lebih lama dari tanggal aslinya yang di Jepang, tapi tidak mengapa, yang penting saya tidak harus menunggu selama hampir 6 bulan untuk menonton.

Akhirnya pada weekend kemarin dengan tekad bulat saya pergi menonton, sehabis dari jadwal rutin ke dokter gigi, bersama dengan teman seperguruan. Tak kusangka studionya penuh, ternyata penggemarnya sangat banyak. Saya sendiri sudah menonton ulang anime-nya demi untuk mengingatkan saya pada alur ceritanya walaupun saya sendiri tahu kalau nanti saya akan kecewa karena alur yang tidak sesuai dengan yang ada di cerita aslinya. Tidak mengapa, selama itu Rurouni Kenshin, apa pun itu pasti bagus. I’m blinded by love.『Rurouni+Kenshin-+Kyoto+Inferno+_+The+Legend+Ends』+Teaser+trailer+(English).mp4_snapshot_00.34_[2014.03.20_22.43.10]

Cerita dibuka dengan mengenalkan karakter Shishio yang bengis, haus kekuasaan dan dendam dengan pemerintahan yang berkuasa. Lalu berlanjut pada kehidupan Kenshin yang sudah damai, di dojo Kamiya, bersama dengan Kaoru, Yahiko, Sanosuke si sampah masyarakat dan dokter cantik Megumi. Di ceritakan Kenshin tiba-tiba bermimpi tentang masa lalu-nya yang kelam dan pertarungannya dengan Saito Hajime. Ya, seharusnya Kenshin baru bertemu Saito di episode ini, bukan dari awal. Sudahlah, lupakan, yang penting ada Saito. Karena keributan dengan Shishio ini akhirnya Kenshin pergi menghadap Perdana Menteri Okubo yang meminta dirinya untuk mencegah rencana Shishio untuk menggulingkan pemerintahan Meiji. Kenshin diberikan waktu seminggu untuk memikirkan hal tersebut.

Pada hari yang dijanjikan ternyata Perdana Menteri Okubo dibunuh oleh Sojiro Seta, salah satu dari anggota Juppongatana. Kenshin yang tadinya ingin menolak, akhirnya memutuskan untuk pergi ke Kyoto mencari Shishio. Kenshin hanya berpamitan pada Kaoru di malam hari dengan cahaya dari kunang-kunang, begitu menurut komik dan animenya. Namun di film ini kunang-kunang itu tidak ada, padahal itu yang saya tunggu-tunggu.

Saya tidak usah lagi menjelaskan jalan ceritanya karena mungkin udah tahu, yang saya ceritakan disini adalah apa yang membuat filmnya berbeda dengan anime dan juga komiknya. Pertama adegan Sanosuke yang bertemu dengan Anji untuk belajar ilmu Futae no Kiwami tidak ada. Sebenarnya saya tidak tahu memang beneran tidak ada atau dipindah ke film kedua, tapi yang jelas di film ini tidak ada. Lalu ketika Kenshin bertarung dengan Cho, Hakujin no Tachi yang saya tunggu-tunggu itu hanya berbentuk dua pedang yang digabung jadi satu. Bukan lentur yang dililit di pinggangnya Cho. Ah tidak penting ya?

Ryunosuke Kamiki rurouni kenshin kyoto infernoYang paling penting, seharusnya Kenshin bertemu dengan Kaoru ketika Kenshin sudah mendapatkan pedangnya lalu pergi ke gunung mencari Seijuro Hiko untuk berguru Hitenmitsurugi Ryu yang terakhir. Di film ini Kenshin bertemu Kaoru di kuil ketika Kenshin bertarung dengan Cho. Adegan ketika Kaoru bertanya apakah Kenshin marah kepadanya masih tetap ada walaupun sejatinya dilakukan di depan rumah Seijuro Hiko ketika Kenshin hendak pergi mengambil air. Di film ini, adegan tersebut terjadi di Aoiya, ketika Kenshin sedang mengasah pedangnya untuk menghadapi anak buah Shishio yang kabarnya akan membumihanguskan Kyoto. Pentingnya karena sebelum Kyoto dibumihanguskan, seharusnya Kenshin sudah bertemu Seijuro Hiko dan berlatih jurus yang terakhir, Amakakeru Ryo no Hirameki. Itulah yang membuat saya kecewa dan sedih. Seharusnya di film ini ada Seijuro Hiko, seharusnya ada, tapi sepertinya semua ditumpuk di film terakhir.

Secara keseluruhan film ini seperti dibuat untuk mempersiapkan episode finale nanti yang akan nongol bulan Oktober di Indonesia. Adegan seru berantem yang saya tunggu-tunggu terasa kurang dan lagi-lagi sepertinya memang diincar untuk di film selanjutnya. Saya mau berharap banyak pada film selanjutnya, namun terasa takut. Sejujurnya ketika menonton waktu itu beberapa kali sempat merasa mengantuk, entah itu karena filmnya atau efek dari bangun pagi mau ke dokter gigi.

Bagi diehard fangirl seperti saya, film ini tetap bagus, juga masih dengan faktor hadirnya Saito Hajime. Memang di animenya juga cerita awal-awal ini memang cukup membosankan, seperti sedang membangun pace rasanya. Begitu pula di film ini, ketika sedang semangat-semangatnya berjalan tiba-tiba jalan tersebut habis. Memang kesal, tapi fangirl akan selalu setia menunggu. Akhir kata nilainya 7.8/10 untuk Kyoto Inferno dan soundtrack saya bulan ini ditambah dengan Heartache, sampai nanti bulan Oktober.

Rurouni Kenshin: Densetsu no Saigo Hen

Preview sebelum review tentang Kyoto Taika Hen.

Ini sedikit gambaran tentang apa yang akan terjadi nanti di Densetsu no Saigo Hen.

Termasuk lagu baru ONE OK ROCK yang menjadi soundtrack film ini yang bertajuk HEARTACHE.

Bukan You and I seperti sebelumnya saya bilang. Maaf salah informasi.

Silahkan dinikmati bagi penggemar Rurouni Kenshin dan ONE OK ROCK.

Saya masih menghitung hari menuju 10 Oktober 2014.

Cerita Penjaga Jagat Raya Galaksi

Telat memang ulasan ini saya keluarkan, tapi dengan senang hati akhirnya saya dapat bilang kalau saya telah nonton Guardians of the Galaxy, setelah 2 minggu tertunda karena perjalanan singkat di belahan bumi yang lain dan ramainya hal di kantor yang meminta perhatian sehingga saya tidak dapat kabur menonton sebentar seperti yang biasa saya lakukan ketika sedang pusing. Film ini sangat menyita perhatian saya karena 1) ini film Marvel; 2) ada Lee Pace dan Karen Gillan; 3) soundtracknya begitu keren.

gotg

Menurut saya film Marvel selalu menghibur, terlebih dengan film Thor terakhir yang saya ulang berkali-kali demi melihat Loki pindah ke Dark World sambil berteriak “tadaaaaa…”, dan karena itu saya berharap kalau film ini sama menghiburnya seperti film-film sebelumnya. Guardians of the Galaxy abercerita tentang sekumpulan Topeng Monyet/Sampah Masyarakat Galaksi yang tidak sengaja berteman untuk mendapatkan tujuan masing-masing. Starlord/Peter Quill adalah seorang manusia yang diculik dari bumi oleh alien dan bekerja sebagai pencuri barang. Gamora adalah seorang putri angkat dari penjahat terkeji di seluruh galaksi bernama Thanos yang sebenarnya ingin membalas dendam kepada ayah angkatnya ini yang telah membunuh keluarganya yang sebenarnya. Sama dengan Drax, yang juga ingin membalas dendam pada Thanos dan Ronan yang telah membunuh keluarganya. Lalu ada Rocket si rakun jenius dan Groot manusia pohon, duo bounty hunter. Mereka tidak sengaja bertemu setelah saling berkelahi karena sebuah Orb yang dicuri Peter dari reruntuhan planet yang ternyata berisikan bola sakti tiada tanding, tiada banding. Ternyata seluruh orang di galaksi menginginkan bola tersebut dan jadilah petualangan mereka berlima yang berusaha agar bola tersebut tidak jatuh pada orang yang salah.

gotg (1)Lalu alasan kedua, dan memang adalah alasan kedua yang membuat saya menggebu-gebu adalah dengan hadirnya Lee Pace dan Karen Gillan. Tidak peduli juga walaupun keduanya berperan sebagai antagonis di film ini. Pertama kali saya tahu Lee Pace ketika dia berperan sebagai Thranduil, ayah dari Legolas, the King of Woodland realm. Di film Hobbit, aktingnya membuat saya begitu terpana. Sepertinya apa pun yang dia lakukan dan dia katakan begitu indah bagaikan Elf seutuhnya. Bagi saya Lord Elrond masih terlihat seperti manusia, namun King Thranduil mempunyai aura angkuh dari Elf sebagai makhluk yang diturunkan pertama kali di muka middle earth. Oke, kembali ke cerita Guardian of The Galaxy dimana di film ini Lee Pace berperan sebagai Ronan the accuser, anak buah dari Thanos, orang terkeji di seluruh galaxy. Ronan bertekad untuk mendapatkan bola tersebut untuk menyerang bangsa Xandar yang dia anggap telah merusak perjanjian dengan bangsanya, Kree. Tak pernah saya kecewa dengan Lee Pace, begitu juga dengan perannya sebagai Ronan yang kembali hadir seperti puisi. Mungkin saya berlebihan, tapi menurut saya seluruh dialog yang diucapkan Lee Pace selalu terdengar bagaikan puisi.

Lalu ada Karen Gillan, atau yang lebih dikenal oleh penonton Doctor Who sebagai Amy Pond. karen-gillan-guardians-galaxy-premiereJujur, saya lebih semangat untuk melihat Karen Gillan sebagai Nebula dibandingkan dengan Zoe Saldana sebagai Gamora. Memang saya tidak dapat menghilangkan kesan Amy Pond pada Karen tapi perannya sebagai Nebula yang merupakan tangan kanan Ronan dan anak dari Thanos juga tidak dapat dilihat sebelah mata. Nebula adalah anak yang patuh dan loyal pada bapaknya, namun ketika dia memerintahkan pasuka Ronan untuk menyerang, saya seperti melihat Amy berteriak kesal pada Rory.

Alasan ketiga adalah the Awesome Mix Vol. 1. Sejak melihat trailernya, saya sudah terpikat dengan lagu yang muncul di akhir soundtracknya itu, Hooked on a Feeling by Blue Swede, 1973, so said Peter Quill. Salinannya yang tersedia lebih dahulu di dunia maya sudah terunduh ke dalam macbook dan iphone tercinta, sebelum filmnya hadir di jaringan bioskop Indonesia. Judulnya memang tidak bohong, Awesome Mix memang benar-benar awesome. Berisikan lagu-lagu yang ngehits dari tahun 80an, termasuk yang sangat terngiang-ngiang di telinga saya, Cherry Bomb!!

Secara keseluruhan Guardians of the Galaxy adalah film yang sangat menghibur, baik itu anak-anak atau anak-anak yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa, seperti saya ini. Marvel tidak pernah membuat saya kecewa, 9.5/10 untuk film ini.