The Grand Movie with Grand Script

The-Grand-Budapest-Hotel-Still

The Grand Budapest Hotel adalah film yang indah. Tone warna yang dipakai indah, teknik pengambilan gambarnya indah, cara berceritanya indah, bahkan kata-kata di script-nya bagaikan puisi. Itu adalah komentar saya ketika selesai menonton filmnya kemarin malam. Film ini sebenarnya dirilis pada bulan Maret kemarin, namun sepertinya tidak akan masuk jaringan bioskop Indonesia jadinya begitu versi blu-ray-rip-nya sudah tersedia saya langsung mengunduh. Pada waktu itu saya yang memang sedang keranjingan nonton drama Jepang belum langsung menontonnya, jadinya saya baru sekarang berhasil menonton.

The Grand Budapest Hotel bercerita tentang petualangan seorang concierge dari hotel tersebut, diceritakan dari sudut pandang seorang perempuan yang menceritakan tentang penulis kesayangannya yang menceritakan tentang pengalamannya ketika menginap di Grand Budapest Hotel dan bertemu dengan Zero Moustafa, pemilik hotel tersebut, yang menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hotel tersebut dari Monsieur Gustave H. yang merupakan concierge hotel tersebut dan teman berpetualangnya. Dengan model bercerita dalam bentuk cerita dalam cerita dalam cerita dalam cerita seperti ini pertama kali membuat saya bingung, seperti film Inception. Lupakan dengan gaya bercerita, apresiasi tertinggi saya berikan untuk skrip film ini yang disusun dengan kata-kata yang begitu indah, hingga terdengar seperti puisi di telinga saya. Cara bertutur kata yang sopan dan pemilihan kata-kata yang dipakai di film ini mencerminkan high-society di Eropa pada saat itu yang menjadi latar belakang film ini.

GRAND BUDAPEST HOTEL_c371.JPG

Film ini mengambil latar belakang di sebuah negara fiksi, Zubrowka, di Eropa tengah, di zaman kepemimpinan Nazi yang di film ini diganti namanya menjadi Zig-Zag. Bahasa yang dipakai di film ini bervariasi antara bahasa Inggris, Jerman dan Perancis, walaupun bahasa Perancis digunakan lebih untuk panggilan seseorang. Film ini masuk dalam genre komedi, menurut saya komedi yang ada di dalam film ini merupakan satire yang menyentil masalah ras dan fasisme pada zaman tersebut. Lalu ada lagi sedikit gore ketika kepala wanita yang terpenggal dan jari yang terpotong masuk ke dalam adegan, yang menurut saya tidak mengurangi keindahan dari film tersebut. Sekali lagi, apresiasi saya berikan pada pemilihan kata-kata yang bahkan untuk seseorang pembunuh bayaran pun kalimat yang dipakai terstruktur dengan baik dan mengesankan pembunuh tersebut merupakan orang yang sangat terpelajar.

IMG_1548
Seperti Moonrise Kingdom, film Wes Anderson lainnya, film ini menggunakan teknik pengambilan gambar dan fotografi yang sama. Visualisasi gambar yang didominasi warna pink dan amber bagaikan di musim semi di mata saya. Saya kurang mengerti tentang teknik pengambilan gambar, tapi gaya kamera yang seakan minimum pergerakan terasa melengkapi visualisasi gambar. Seusai menonton, saya dapat ikut merasakan manisnya kue dari Bakery Mendl’s yang sepanjang film ikut menghiasi di beberapa adegan.

Ralph Fiennes yang berperan sebagai Monsieur Gustave H. berhasil menghadirkan seorang tokoh concierge yang high-class, stylist dan terpelajar. Monsieur Gustave H. bukanlah seorang concierge biasa karena dia juga biasa menghibur dan menemani tamu-tamu The Grand Budapest dengan kategori kaya, tua, insecure, narsis, artificial, pirang dan berkebutuhan secara seksual. Kenapa pirang? Karena pada saat itu semuanya berambut pirang. Satire. Lagi. Walaupun image saya tentang Ralph Fiennes selalu Lord Voldemort, namun di film ini saya sangat puas dengan hilangnya image Lord Voldemort. Termasuk hebat karena ketika Ralph Fiennes memerankan M di Skyfall, saya masih melihat sosok Lord Voldemort di film tersebut.buda

M. Gustave diceritakan harus masuk penjara karena dituduh membunuh Madam Celine V. Desgoffe und Taxis ketika dia dikabarkan mendapatkan warisan dari Madame DuT sebuah lukisan yang tak ternilai harganya. Bahkan ketika di penjara pun M. Gustave tetap memperhatikan gayanya, terlebih ketika dia berhasil melarikan diri yang pertama diminta adalah L’air de Panache, parfum kesukaannya. Pada akhirnya M. Gustave memang tidak bersalah dan selanjutnya terbunuh ditembak tentara Zigzag ketika dia membela Zero yang dokumen imigrasinya tidak lengkap. Kembali satire dihadirkan pada adegan ini.

Bagi saya, film ini layak mendapatkan 9.5/10. Pembangunan karakter yang berfokus pada M. Gustave dan Zero Moustafa saya rasa sudah cukup karena memang itu intinya. Filmnya juga tidak bertele-tele dalam bercerita. Kembali saya apresiasi penulisan skrip dengan pemilihan kata-kata layaknya puisi. Sangat layak tonton jika Anda termasuk barisan yang sudah bosan dengan film yg dipenuhi dengan CGI dan bom kanan-kiri seperti Transformers.

Advertisements

Weekend Cooking: Smoky Chicken Enchiladas

photo 4

Ayah saya suka sekali makanan Meksiko, mungkin karena dulu sering bolak-balik Texas dan kemarin baru saja pergi lagi kesana. Karena itu, enchiladas ini saya buat pertama kalinya dengan nyontek resep dari SortedFood yang ternyata sangat super gampang untuk ditiru. Resepnya sedikit saya modifikasi karena sayangnya saya tidak sempat menemukan daun ketumbar. Lain kali saya bikin, sudah harus dengan daun ketumbar, karena menurut saya makanan Meksiko akan kurang jika tidak ada daun ketumbar. By the way, bahan-bahannya saya tulis tanpa takaran ya, karena kalau bukan bikin kue atau apa pun itu yang membutuhkan takaran layaknya pelajaran kimia, saya hanya mengandalkan kemampuan lidah saja.

Bahan-bahan:

  • Tortilla wraps
  • Paprika / bell peppers
  • Cabe merah besar / chilli pepper
  • Kacang merah kalengan (brine in salty soup), drained.
  • Jagung kalengan, drained.
  • Daging ayam tanpa tulang. Saya menggunakan chicken breast fillet. Kalau lebih suka dengan chicken thighs yang mungkin lebih empuk, silahkan diganti. 
  • Bawang putih
  • Bawang bombai. Saya ganti dengan daun bawang karena waktu itu saya baru ingat kalau stok bawang bombai di rumah sudah habis.
  • Daun ketumbar
  • Paprika bubuk
  • Bumbu cajun bubuk
  • Tomat kalengan
  • Pasta tomat
  • Garam dan lada
  • Keju cheddar

1. Preheat oven pada 175 derajat celcius.

2. Potong ayam menjadi bite size, masukkan ke dalam plastik. Mix dengan bumbu cajun, paprika bubuk, garam dan lada. Set aside.

photo

3. Cincang bawang putih, bawang bombai, daun bawang, cabe merah dan sedikit paprika. Sautee hingga harum lalu masukkan tomat kalengan dan pasta tomat. Shimmering secara perlahan-lahan. Tambahkan garam dan lada secukupnya.

photo 1 photo 2

4. Dengan frying pan, sautee ayam yang sudah dibumbui. Tambahkan paprika yang sudah dipotong-potong (julienne cut) ke dalam frying pan. Masak hingga matang. 

photo 3 photo 4

5. Di dalam mangkok besar, mix ayam yang telah matang, jagung kalengan dan kacang merah yang telah ditiriskan, daun ketumbar, dan keju cheddar.

photo 5 photo 1

6. Panaskan tortilla wraps di dalam oven atau di frying pan. Bungkus campuran ayam dengan tortilla wrap lalu assemble di dalam casserole dish / loyang pyrex.

7. Taburkan keju pada enchiladas. Tuang saus tomat yang telah mengental. Bisa diberi parutan keju lagi di atas saus tomat.

photo 2 photo 3  

8. Panggang dalam oven selama 20-30 menit atau sampai kejunya bubbly.

Mighty Long Fall – ONE OK ROCK

Sebenarnya ini adalah pelipur hati yang menunggu Kyoto Taika Hen tak kunjung datang.

Ketika bangun di hari pertama di bulan Agustus, yang ada di otak saya pertama kali adalah Kyoto Taika Hen dan kabarnya film tersebut akan ditayangkan juga di bioskop kesayangan saya. Bagi saya Kyoto Taika Hen film yang bagaikan mimpi menjadi kenyataan. Ketika saya merelakan pelajaran tambahan di sekolah demi menonton pertarungan terbesar Kenshin Himura dan menyadari bahwa ini adalah awal dari kecintaan saya terhadap samurai.

Kabarnya film-nya baru akan ditayangkan pada tanggal 10 September. Lama sekali. Bahwa bagian kedua-nya sudah rilis di negara asalnya pada 8 September. 

Pelarian saya akhirnya jatuh pada soundtracknya ini, Mighty Long Fall oleh ONE OK ROCK. Sama seperti film sebelumnya juga dengan ONE OK ROCK sebagai pengisi soundtracknya, dengan judul The Beginning, membuat saya jatuh cinta dengan suara Morita-san dan gebukan drum-nya Kanki-san.

10 September, cepatlah kau datang.