The Legend Ends yang Legendaris

Rurouni-Kenshin1-live-action-movie-sequel-top-movie-JapanDraft pertama The Legend Ends saya tulis di mobil ketika antrian keluar parkiran Grand Indonesia macet luar biasa. Butuh waktu hampir 1.5jam buat saya untuk dapat keluar dari GI, sepertinya Tuhan mau saya lebih lama lagi belanja di Uniqlo pada waktu itu. Namun seperti tulisan saya lainnya, draft pertama selalu buruk dan pada akhirnya harus saya hapus. The Legend Ends saya tonton pada weekend minggu pertama film-nya akhirnya ditayangkan di jaringan bioskop kesayangan di Jakarta setelah sabar menunggu selama sebulan lebih.

Filmnya bermula dari lanjutan dari Kyoto Inferno dimana Kenshin terdampar di pantai setelah loncat ke laut begitu melihat Kaoru dilempar ke laut oleh anak buah Shishio. Kenshin ditemukan oleh gurunya Seijuuro Hiko yang katanya sedang mencari kayu di pinggir pantai dan dibawa ke rumahnya yang di tengah gunung itu. Di lain pihak, Sano dan Yahiko yang mengira Kenshin dan Kaoru sudah meninggal mendapat kabar kalau Kaoru tengah di rawat di rumah sakit. Begitu sadar dari pingsannya, Kenshin kaget begitu mengetahui bahwa selama ini dia dirawat oleh gurunya itu. Langsung saja Kenshin meminta untuk diajari jurus pamungkas Hiten Mitsurugi Ryu yang berjudul Amakakeru Ryu no Hirameki. Tapi seperti di anime-nya, tidak semudah itu Kenshin mendapatkan jurus tersebut karena gurunya sakit hati setelah ditinggal dengan Kenshin yang sombong sekitar 15 tahun yang lalu.

Bagi fangirl diehard seperti saya yang hafal betul alur cerita terutama edisi melawan Shishio ini, sedikit perubahan akan terasa sekali dan berusaha untuk dapat menerima apa yang disajikan, apalagi saya orangnya cukup rewel. Tapi saya jujur puas dengan The Legend Ends. Memang perkiraan saya tentang sang sutradara yang menyimpan semua koreografi pedang di film ini terjawab. Begitu banyak adegan yang membuat saya bahagia termasuk ketika Kenshin melawan Seijuuro Hiko dan lebih bahagia lagi ketika Kenshin melawan Sojiro Seta. Kalau menurut ceritanya, Kenshin ditantang oleh Shishio untuk melawannya di Gunung Hiei ketika kapal besi itu sudah mau tenggelam karena kena ledakan dari bom yang dibawa Sano. t0922kenshinSeharusnya Kenshin pergi bersama Sano dan Saito ke gunung Hiei dan disana mereka bertemu dengan Anji, lalu Usui, lalu Aoshi dan yang terakhir Sojiro, sebelum akhirnya melawan Shishio. Adegan Sano bertarung melawan Anji ada, adegan Kenshin melawan Aoshi ada, namun yang saya tunggu adalah ketika Usui ditusuk lehernya dengan pedang Saito dengan jurus Gatotsu nomor 0. Namun sayang sekali adegan itu tidak sampai 10 detik ditampilkan dan Usui langsung mati begitu saja tanpa pedang Saito tertancap di lehernya. Mungkin terlalu sadis dan tidak akan lolos sensor Indonesia, tapi saya begitu mengharapkan adegan tersebut dapat digambarkan. Sayang sekali.

Lalu ketika setelah melewati Usui, harusnya Kenshin dan Sano pergi untuk melawan Sojiro dan di tengah perjalanan harusnya Kenshin bertarung melawan Aoshi di perpustakaan dan pada akhirnya dia menggunakan Amakakeru Ryu no Hirameki. Sayangnya jurus yang dipakai Kenshin ketika melawan Aoshi hanya sekedar Kuzu Ryu Sen, kalau saya tidak salah nama jurus, yang kalau di ceritanya digambarkan dengan 9 sabetan pedang. Sejujurnya saya sempat menghitung berapa sabetan yang diberikan pada Aoshi sebagai final blow pada saat itu, kayaknya lebih dari 9 sabetan, tapi mungkin maksudnya mau menggunakan jurus yang itu.

rurouni kenshin the legend ends (2)

Lalu Sojiro Seta. Yes, ini yang saya tunggu-tunggu. Bukan ketika melawan Shishio, melainkan melawan Sojiro Seta yang terkenal dengan Shukuchi-nya. Itu loh lari yang kabarnya bahkan Kenshin saja tidak mampu untuk melihat kecepatannya. Memang tidak sampai berlebihan seperti di anime-nya yang terlihat hanya tapak di tatami, tapi saya bahagia melihat lomba lari antara Kenshin dan Sojiro dan Sojiro dapat memotong lari Kenshin. Lalu gaya Sojiro yang melompat-lompat kecil sebelum Shukuchi dan gaya berbicara yang saya sangat hafal: “Ara, okashi naa~” ketika dia heran Tenken-nya belum mampu untuk membunuh Kenshin, walaupun punggung Kenshin sudah terkena sabetan pedangnya.

Akhirnya melawan Shishio juga. Kenshin akhirnya melawan Shishio di dalam kapal besi itu, bukan di gunung Hiei. Seperti di dalam komik maupun anime, Shishio hanya bisa bertarung selama 15 menit, dan Ayumi bertugas sebagai timekeeper. Dalam 15 menit yang diceritakan dalam 5 episode (kalau tidak salah) anime tersebut, terjadi juga sangat cepat di film ini. Pertama Shishio bertarung melawan Kenshin, lalu Sano, lalu Saito yang menyusul ke kapal entah bagaimana caranya, dan terakhir Aoshi yang juga entah darimana tahu kalau sedang ada pertarungan di kapal tersebut. Kalau di komiknya kan semuanya hadir di lokasi yang sama jadi wajar kalau mereka semua dapat bertarung satu demi satu dengan Shishio. Namun di cerita ini Saito bertarung dengan Usui di pantai dan Kenshin bertarung dengan Aoshi di tengah hutan dekat dengan Aoiya. Mungkin anggota Oniwabanshu memberitahu kalau Shishio berada di kapal besi tersebut. Ya, mungkin saja, mari terima teori tersebut agar kita tidak bingung.

Pertarungan Shisho melawan kombinasi dari Kenshi, Sano, Saito dan Aoshi berlangsung sungguh seru, indah dan menawan. Walaupun jujur saya masih lebih menyukai koreografi pertarungan antara Musashi-Kojiro melawan bandit gunung, mungkin dengan efek Kimura Takuya yang memang belajar kendo dan Sawamura Ikki yang begitu tampan. Meskipun begitu, pertarungan ini dibuat sebagai klimaks dari film ini. Begitu hampir mendekati waktu 15 menit, yang terasa sangat real time, Ayumi memasuki arena pertandingan menghalangi Kenshin yang hendak menyabet Shishio, lalu Ayumi ditusuk oleh Shishio demi dapat melukai Kenshin (di adegan ini saya bahagia bukan main). Tidak lama kemudian, Shishio akhirnya terbakar dengan bahagia dan kali ini berambisi untuk menguasai negara neraka (karepmu ae lah, mas).

rurouni-kenshin-legend-ends-fight

Pada akhirnya, kapal besi itu menuju kehancuran, sama seperti gunung lokasi Kenshin dan Shishio yang juga mau runtuh dan meledak-ledak. Seingat saya, Saito ditinggal dengan gagahnya di reruntuhan tersebut karena jembatannya sudah rusak dan tidak dapat di lewati lagi, di film ini mereka berempat mampu keluar dari kapal yang nyaris meledak dan disambut oleh Kaoru, Yahiko dan Misao beserta dengan seangkatan kepolisian dan menteri dalam negeri Ito. Satu hal yang saya perhatikan di film ini, ketika mereka sudah mencapai pantai, Kenshin langsung dibantu oleh Kaoru, Sano dibantu oleh Yahiko dan Aoshi ada Misao, tapi Saito tetap dengan gagah perkasa dapat berdiri tanpa bantuan siapa pun. Memang tidak salah saya sangat mengidolakan Saito, menurut saya Saito tetap lah yang terkuat, bahkan Kenshin pun tidak dapat mengalahkannya. Masih ingat kan kalau pertarungan terakhir antara Saito dan Kenshin berakhir seri, bahkan kelanjutannya pun belum diputuskan.

Begitu film selesai, saya merasa puas. Walaupun alur cerita dan beberapa setting lokasi berubah dari yang ceritakan, tapi saya mengerti kalau membuat setting seperti asli di komiknya itu sangat mahal. Fans berat seperti saya akan sangat subjektif dalam memberikan nilai, karena itu nilai 8.5/10 mohon jangan dianggap netral. Jika memang suka Kenshin, film ini wajib lah ditonton, bahkan Ayah saya juga ikut penasaran dengan film ini ketika pada suatu siang menelepon saya yang sedang bekerja dan bertanya “Mbak, battosai filmnya ada jam berapa aja ya di Blitz?”

Advertisements

The Book of Life: Film Animasi Bertema Kematian yang Penuh dengan Warna

Ini pertama kalinya saya nonton film animasi yang bukan berasal dari rumah animasi disney, pixar, dreamworks atau pun sony pictures. The Book of Life dikeluarkan oleh rumah animasi Reel FX dengan produser Guillermo del Toro dan sutradara Jorge R. Gutierrez. Bagi saya, apa pun yang diproduksi oleh Guillermo del Toro selalu memukau, tersebut lah itu Pacific Rim, Mama atau The Strain, tapi saya tidak menyangka dengan film animasi ini saya akan sangat terkesima. The Book of Life adalah film animasi dengan penampilan visual yang mempesona dengan soundtrack yang memikat telinga dan sangat kental dengan budaya Meksiko.book-of-life-facebook

The Book of Life bercerita tentang legenda di Meksiko tentang El Dia de los Muertos atau The Day of the Dead atau bahasa Indonesia-nya Hari Orang-orang Mati. Tidak mengherankan mengingat sang produser, sutradara dan penulis cerita yang memang orang Meksiko, dan juga kesenangan Guillermo del Toro pada hal-hal horror. Mungkin bagi kita orang Indonesia, hari seperti ini kurang dikenal, namun di negara asalnya sana, hari ini adalah hari dimana orang-orang berziarah ke makam leluhur atau orang terkasih yang telah meninggal karena pada saat itu diyakini orang yang telah meninggal itu hadir atau mengunjungi kerabatnya yang masih hidup. Mereka yang telah meninggal terbagi di alam lain yang disebut The Land of the Remembered dan The Land of the Forgotten. Masing-masing dari alam tersebut dikuasai oleh La Muerte dan Xibalba yang di film ini menjadi bagian dari cerita karena mereka berdua bertaruh apakah Maria, si kembang desa, akan menikahi Manolo, seorang pemusik dari keluarga dengan tradisi matador atau Joaquin anak dari Pahlawan desa yang telah lama meninggal. Jika Xibalba menang, Xibalba dapat menguasai The Land of the Remembered. Dan jika La Muerte menang, Xibalba tidak boleh lagi ikut campur dalam urusan manusia. Lalu hal menjadi pelik ketika Xibalba mulai menghalalkan segala cara demi menang taruhan.

THE BOOK OF LIFE

How can you not love this vibrant colours.

Di film ini yang membuat saya terpukau bukan jalan ceritanya yang selalu berakhir dengan happy ending layaknya film animasi rasa disney, melainkan dengan gambar dan visualisasi yang membuat saya merasa seperti masuk ke dalam wahana It’s a Small World atau Istana Boneka juga boleh. Tapi It’s a Small World bonekanya lebih bersih dan terawat, jadi saya lebih memilih It’s a Small World. Bagi yang belum pernah masuk ke wahana It’s a Small World, bisa dibayangkan versi Istana Boneka yang bersih dan terawat. Warna-warna cerah terpampang indah dengan model gambar yang sering dilihat di dalam buku cerita anak-anak. Detail para tokoh yang digambarkan dengan boneka kayu lengkap dengan garis-garisnya seperti buatan tangan terasa sangat hidup. Contohnya La Muerta dengan warna-warni bajunya dan aksen mata yang sangat detail sampai pada eyeliner-nya. Baru di tengah tahun ini saya menonton The Grand Budapest Hotel yang visualisasinya mengingatkan saya pada rok tutu ballerina, namun film ini berhasil menurunkan peringkat The Grand Budapest Hotel untuk urusan visualisasi. Menurut saya The Book of Life adalah film dengan visualisasi terindah tahun ini.

Lalu soundtracknya. Ya betul, saya juga tidak mengira kalau di film ini akan seperti film-film animasi tuan putri dengan rasa musikal yang para pemerannya senang bernyanyi walaupun saya tahu kalau Creep-nya Radiohead akan menjadi salah satu lagu. Namun yang tidak saya kira adalah aransemen Creep yang dinyanyikan dengan gitar dengan suara yang sangat menyayat hati yang membuat saya jatuh cinta pada saat itu juga oleh pengisi suara Manolo, Diego Luna. He turns out to be a real musician after all. Lagu lainnya adalah I Love You Too Much yang dinyanyikan ketika hendak merayu Maria yang berada di dalam kamarnya, lalu saya ingat dengan Aladdin. By the way, versi espanol dari I Love You Too Much sudah saya share di post sebelumnya, dengan lirik dari versi inggris. Lagunya sendiri sudah berkali-kali dalam mode repeat di iTunes.bol-trio

Banyak adegan di film ini yang mengingatkan saya pada film-film box office termasuk ketika Joaquin menonjok salah satu tentaranya dari samping hingga mirip dengan adegan Hulk memukul Thor. Atau posisi desa San Angel yang berada di tengah perairan yang mengingatkan saya pada Kingdom of Corona atau Arendelle. Atau mungkin gaya Maria ketika menunjukkan kemampuan kungfu-nya dengan gaya seperti Po Kungfu Panda. Semuanya diramu dengan moral cerita khas dongeng yang menitikberatkan pada kemurnian hati dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Film ini lebih aman untuk anak-anak dibandingkan dengan film animasi dongeng disney lainnya, mengacu pada adegan yang ditampilkan. Memang terasa agak hitam dengan tema kematian, namun visualisasi-nya tidak membuat hal tersebut menjadi sesuatu yang menakutkan. Nilai 9/10 saya hadirkan untuk film ini dengan dua alasan terbesar yang telah saya bahas sebelumnya, bahkan sampai sekarang I Love You Too Much masih terngiang-ngiang di telinga saya.

Diego Luna – Te Amo y Más (I Love You Too Much)

I love you too much to live without you loving me back
I love you too much heaven’s my witness and this is a fact
I know I belong, when I sing this song
There’s love above love and it’s ours cause I love you too much

I live for your touch I whisper your name night after night
I love you too much there’s only one feeling and I know it’s right
I know I belong, when I sing this song
There’s love above love and it’s ours cause I love you too much

Heaven knows your name I’ve been praying to have you come here by my side
Without you a part of me is missing just to make you my whole and I will fight

I know I belong, when I sing this song
There’s love above love and it’s our cause I love you too much

I love you too much!
I love you too much heaven’s my witness and this is a fact
You live in my soul
Your heart is my goal
There’s love above love and it’s mine cause I love you
There’s love above love and it’s yours cause I love you
There’s love above love and it’s ours if you love me as much