Mie Instant, Presidenku

Inilah lawakan paling anyar abad ini.  Pertama kali saya melihatnya di televisi, kontan mulut saya ternganga lebar. HAA? Itu yang pertama kali keluar dari mulut saya. Apa sih yang sebenarnya saya bicarakan dapat diketahui begitu Anda menonton video di bawah ini.

Indomie? Ya ampun, yang bener aja. Apakah sebegitu desperate-nya sehingga harus menggunakan jingle mi instan? Awalnya saya sih menganggap kalau itu adalah iklan baru dari produk yang sama. Oh, sekarang pakai Mike juga, mungkin Judika sudah habis masa kontraknya, begitu saya pikir. Namun ternyata ketika mendengar lanjutannya ada nama capresnya, saya hanya geleng-geleng kepala dan prihatin.

Mungkin bagi sebagian orang musiknya catchy, mudah diingat. Lagipula mi instan yang satu ini memang terkenal seantero Indonesia sebagai mi instan nomer wahid. Boleh lah dibilang orang akan mudah terdoktrin dengan adanya iklan seperti itu dan memilih capres yang bersangkutan. Namun hal seperti ini juga dapat menimbulkan masalah.

Masalahnya seperti apa, mari kita jabarkan satu persatu. Pertama, membuat kesan kalau si capres yang bersangkutan hanya sekelas mi instan dan makanan-makanan instan lainnya.

“Ya, mbak, apa sih yang mau diharepin dari makanan instan. Gitu-gitu aja kan rasanya. Paling buat ganjel-ganjel perut aja.” Begitu kata adik saya mengenai makanan instan.

Memang benar sih, sekarang yang namanya instan bukan hal baru. Segala-galanya dibikin instan dengan alasan kemudahan dan menghemat waktu. Tapi analogi mi instan bagi saya adalah hal yang sanggup dilakukan oleh semua orang. Begini, siapa pun teman saya, kalau mereka bilang tidak bisa masak, saya bisa jamin minimal mereka bisa masak mi instan. Jadi apa maksud saya? Maksud saya adalah mi instan adalah makanan yang dapat dibuat oleh siapa pun, bahkan orang yang tidak dapat membedakan kunyit dan jahe. Kalau misalnya presiden instan artinya setiap orang bisa jadi presiden dong, bahkan bagi orang yang sama sekali buta dengan politik. Mengerti maksud saya?

Menurut saya, seorang presiden adalah orang hebat yang mengerti tentang perpolitikan dan negaranya melebihi siapa pun di negara itu. Dengan pengertian seperti itu, presiden diharapkan dapat mengambil segala keputusan yang didahului dengan segala macam pertimbangan dan pemikiran. Kalau dalam hal kuliner ada yang namanya slow cook, tentu saja kebalikan dari fast food. Apakah slow cook lebih baik dari fast food? Ya iyalah, mana ada fast food yang bergizi tinggi. Nah, begitu juga masalahnya dengan presiden, fast presiden bagi saya sama saja dengan fast food, tidak ada gizinya untuk negara.

Kembali ke pernyataan adik saya mengenai mi instan tadi, kalau mi instan hanya sebagai pengganjal perut, berarti ada makanan utama yang seharusnya di makan. Nah, kalau presiden itu instan, berarti cuma sebagai pengganjal atau pengganti sementara saja, seharusnya ada presiden yang sebenarnya dong. Lalu siapa kah presiden yang sebenarnya itu?

Tadi saya bilang masih pertama yah, masalah yang kedua sebenarnya tidak terlalu krusial sih, tapi cukup mengganggu saya. Penggunaan jingle tersebut pastinya dengan seizin yang punya dalam hal ini si perusahaan mi instan tersebut, nah berarti perusahaan mi instan tersebut termasuk tim kampanye si capres dong. Jadi kalau misalnya saya ikut membeli dan memakan mi instan tersebut, artinya saya mendukung capres yang bersangkutan? Kan uang yang didapat dari hasil penjualan mi instan bisa saja digunakan untuk dana kampanye.

Lain halnya kalau penggunaan jingle tanpa izin, itu namanya plagiarisme, tapi saya meragukan kalau si capres melakukan hal plagiarisme. Namun, kalau sekiranya benar hal itu adalah suatu plagiarisme, malu lah aku jadi orang indonesia. Silahkan bilang kalau Malaysia mencuri kebudayaan Indonesia, namun bangsa Indonesia sendiri mencuri hasil karya orang lain. Sebut saja musik dan sinetron yang beredar di masyarakat, kebanyakan dari mereka mencuri hasil karya orang lain. Kalau begitu saya bisa menerima pernyataan dari Malaysia yang bilang kalau kita ini “saudara serumpun”. Iya, serumpun dalam hal colong-mencolong.

mie-instanSaya tidak ada maksud untuk mencela capres instant dan capres fast food, lalu membela si capres mbok. Tidak ada sama sekali. Bagi saya si capres mbok sama saja dengan anak teka yang segala keinginannya harus dituruti. Yah, maklum lah, capres mbok kan anak bungsu yang selalu disayang bapaknya, jadinya wajar kalau agak sedikit manja dan maunya banyak.

Jujur, pada awalnya saya ingin memilih pasangan yang ada unsur non-partai di dalamnya. Karena dalam pikiran saya, si bapak yang non-partai itu akan bertindak sebagai negarawan, bukan sebagai pemimpin partai yang selalu memikirkan kelangsungan hidup partainya saja. Namun, begitu tahu capresnya mau saja disejajarkan dengan mie instan, saya kembali apatis dan pesimis dengan keadaan Indonesia lima tahun mendatang.

Bagaimana dengan anda? Kalau saya pilih makanan buatan mama di rumah saja, lebih sehat, bergizi tinggi dan baik untuk kesehatan jiwa.

capres
Advertisements

Warna Musik Indonesia

Sebenernya gue bingung gimana caranya membuat suatu narasi indah, tapi saya coba menuliskan apa yang gw pikirin aja yah.

Pertama, gw dapet ide ketika menonton acara di RCTI yang judulnya wujudkan mimpi Indonesia. Jujur, gue sih ga ngeliat korelasi antara acara hura-hura semacam ini dengan mimpi Indonesia, tapi boleh lah untuk hiburan masyarakat Indonesia. Mungkin kita semua udah butek dengan pemilu, capres dan cawapres yang tingkah lakunya mirip anak teka, atau pun bencana yang jadi langganan karena kelalaian pihak yang bertanggung jawab. Jadi sekali-dua kali ada acara seperti ini juga sebagai angin segar.

Kedua, penyanyi pertama yang gw liat secara lengkap sesi nyanyinya adalah derby romero. Oke, sampe sini gw akan mulai dengan sopan kalau tidak terlalu keras mencela abege ini. Emang ga salah sih orang punya gaya nyanyinya sendiri, tapi kenapa mesti ada yang joget2 itu yak. Jadi kesannya kyk boiben. Udah gitu, refrain lagunya itu yg gelora asmara, ternyata cukup mengingatkan saya pada Metropolisnya L’Arc-en-Ciel. Kalau saya tidak mau bilang mirip yah.

Aaahh.. plagiarisme lagu di Indonesia emg bukan hal yang bikin kaget sih. Sebelumnya d’nasip juga di cap plagiat kan. Trus nidji cukup mengingatkan saya pada keane dan coldplay. Bukan maksud saya untuk bilang kalo nidji itu plagiat, aliran britpop emang banyak yang anut kok. Tapi kalo untuk d’nasip beda ceritanya, gw dengerin MCR kok, nah lagu2nya d’nasip banyak yang mirip dg MCR, bahkan sampe ketukannya. Well, talk about having inspiration as they came up to defend the pride, tapi mas, inspirasi tu cuma warna musiknya yang mirip ga sampe melodi dan ketukan. Do we understand each other here?

Oh ada lagi yang gw nemu mirip2 lagunya, itu tuh yang judul lagunya SKSD, sapa sih yang nyanyi. Doh gw ampe harus buka youtube dulu, sapa siihh? Sepentin yak? Bukan? Aahh, five minutes. Nah itu, lagi2 refrainnya saya kenali sebagai salah satu lagunya L’Arc-en-Ciel yang judulnya Fate.

Ah, sudahlah tentang segala maca contek2an ini. Saya juga waktu smp-sma sering nyontek kok kalau ulangan. Anyway, kembali ke acara di tipi tadi, setelah si derby tampil, coba tebak sapa yang tampil.

KUBURAN BAND.

Bagi yang belum tau sapa itu kuburan band, mungkin kalau yang ini tau. C-A minor-D minor-G-C-A minor-D minor- G-C-A minor-D minor-G-C. Familiar dengan kunci ini? Oke gw setuju kalau liriknya itu sampah. Lupa-lupa-ingat emang lirik yang gw bilang sama sekali ga ada intinya. Tapi menurut gw itu lah intinya kuburan Band. Mereka cukup berani tampil dengan melawan mainstream pop-melayu-mendayu-dayu dan hasilnya dalam kurun waktu kurang dari sebulan setiap warga Indonesia yang mendengarkan musik pasti mengenal band ini.

Apa yang membuat band ini begitu cepat terkenal? Nah, bahasan nomer tiga kalau begitu saya fokuskan kenapa band ini cepat sekali dikenal orang. Yang pertama dan paling utama adalah, musiknya catchy. Brilian emg gw bilang ni Band satu. Aransemennya gabung2in segala jenis musik sampe tradisional. Sering gw denger ada model2 lagu padang ato jawa di musiknya dia.

Dandanan? Ahahahahaha.. Judulnya sih kuburan band. Dandanan muka di cet item-putih. Orang bilang dandanannya mirip band lawas, KISS. Oke, fine, tapi lo bisa bayangin dengan dandanan serem begitu mereka malah bertingkah laku layaknya badut dan sering menari tarian tradisional Indonesia pada setiap penampilan mereka? Whoaa.. This is what I call creative.

Terakhir, orang Indonesia udah jenuh dengan pop-melayu-mendayu-dayu. Cukup lah dengan segala band pop dengan warna musik yang sama. Believe me, ampe sekarang gw ga bs bedain lagunya ST12, d’nasip, kangenben, wali, sepentin, dan segala macem band itu kalau gw ga ngeliat sapa yang nyanyi. Paling buruk dari semuanya adalah, lagu2 band tersebut dijadiakan soundtrack sinetron yang diputar setiap hari dan iklannya setiap menit sehingga hampir mencuci otak setiap orang yang mendengarnya. Thank God I’m still sane.

Saya sudahi dulu yah. Thesis saya masi harus dikerjain.

Maju terus permusikan Indonesia!!

[Review] X-Men Origins: Wolverine

Kok dashboard saya berubah jadi warna biru yah? Ah, mungkin saya lupa. Anyway, kembali ke topik awal dimana saya ingin sedikit membahas tentang film yang baru saya tonton kemarin; X-Men Origins: Wolverine.

Yang diharapkan ketika mendengar judul tersebut, tentunya awal mula cerita tentang bagaimana seorang wolverine bisa tercipta, bagaimana dia bisa mempunyai cakar besi, dan kemampuan untuk sembuh dari segala luka. Well, sebenernya itu bukan sekedar logam biasa, logam itu namanya adamantium, sejenis materi yang dikatakan jatuh dari langit. Oke, di dalam tubuh seorang wolverine terdapat partikel yang berasal dari luar angkasa dan saya mencampuradukkan segala informasi tentang karakter komik. But seriously, that material was really told coming from sky, or should I say outer space. Cukup dengan segala masalah partikel dan per-kimia-an ini, penilaian saya tentang film ini tidak jauh berbeda dengan saya menilai film-film yang dibuat dari komik lainnya; ceritanya ketebak, hanya mengandalkan penampilan fisik sang tokoh utama, dan pameran gambar-gambar menakjubkan.

Do I become sarcastic here? Oh come on, siapa pun yang menganggap film ini adalah a-must-see saya yakin lebih banyak terpaku pada hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya, kecuali mungkin alur cerita. Saya tidak menyangkal wolverinekalau gambar difilm ini dibuat dengan sangat baik, dengan teknik fotografi yang menawan pula tapi tolong hilangkan adegan berjalan santai menjauhi ledakan yang terjadi di belakang. Adegan itu hanya mengingatkan saya dengan Satria Baja Hitam yang berhasil membunuh monster Gorgom dengan pedang matahari yang keluar dari sabuknya.

Bagi saya storyline selalu menjadi masalah terbesar ketika harus menonton film yang didasarkan dari komik. Film tentang Batman, Spiderman, Superman, or whatever you can name, tidak pernah menarik perhatian saya secara spesifik. Cukup terbukti ketika kemarin teman saya mengajak nonton x-men, saya lebih tertarik menonton film indonesia terbaru yang nanti kalau sudah saya tonton saya akan menulis reviewnya.

Kembali ke masalah storyline, ketika prolognya berlangsung, saya tidak terlalu memperhatikan settingnya dan saya cukup stun dengan opening credit yang indah dimana Logan (Hugh Jackman) beserta saudaranya, Victor Creed or Sabretooth (Liev Schreiber), berjuang sebagai tentara di perang dunia I,victor creed perang dunia II, perang vietnam, pokoknya segala macem perang deh. Lalu mereka bergabung dengan Operasi Rahasia yang ternyata tidak sesuai dengan kata hati Logan dan membuat Logan untuk meninggalkan Operasi tersebut. Beberapa tahun kemudian Logan ternyata hidup di tengah pegunungan Kanada sebagai tukang potong pohon dan ketika diajak kembali untuk bergabung dengan tentara, dia menolaknya dengan berkata kalau dia adalah orang Kanada. Lha, saya kira dia orang Amerika. Ketidakkonsistenan penulisan naskah juga terjadi dimana cerita yang ditampilkan adalah Logan yang setuju untuk mengeluarkan sifat ke-binatang-annya dan rela untuk disuntikkan dengan logam adamantium yang merubah struktur tulangnya. Saya kira seorang Wolverine itu sangat membenci sifat ke-binatang-annya itu, coba tengok kembali X2.

Roger Ebert, seorang reveiwer kawakan (tonton semua film yang dia rate sebagai bintang 4 out of 4, dan u’ll be completely stunned), hanya berkata kalau dia tidak akan peduli dengan seorang yang mempunyai cakar besi yang mampu membelah baling-baling helikopter, tidak dapat terluka dan dapat dengan mudah lompat setelah helikopter itu oleng. Karena itu ia hanya memberi 2 bintang saja pada film ini.

Pada akhirnya kehadiran Gambit lah yang membuat saya menikmati film ini. Dalam hati saya bersorak bahagia dan gembira ketika melihat pemunculan Gambit setelah di tiga film sebelumnya Gambit sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Wolverine memang menjadi tokoh utama di film ini dan menjadi karakter nomer 1 dikalangan pembaca Marvel, tapi Gambit tetap menjadi karakter favorit saya dalam X-Men, (dan Cyclops juga). Taylor Kitsch gambitberperan sebagai Gambit dan mencuri perhatian saya sepanjang film, walaupun kemunculannya hanya sekitar 10-15 menit. Huh, seharusnya dibuat scene yang lebih lama tentang Gambit.

Apa yang menjadikan film ini cukup layak ditonton di bioskop adalah perlunya untuk melihat pemunculan Deadpool. Wade Wilson yang cerewet dengan segala filosofi yang keluar dari mulutnya diubah menjadi seorang tokoh antagonis brilian kedua, yang pertama bagi saya tetap Sylar dari Heroes. Dengan mengadopsi kekuatan dari berbagai mutan lainnya, termasuk Cyclops dengan mata merahnya dan Jack Wraith dengan teleportnya, Deadpool menjadi tokoh yang kelihatan susah untuk dibunuh. Saya suka tokoh antagonis yang tahan banting. Bedanya dengan Sylar, Deadpool itu botak dan tidak punya mulut karena General Stryker bosan mendengar segala ocehan Wade Wilson, belum lagi dengan tubuhnya yang dipenuhi coretan hasil bedah disana sini. Ah, kalau begitu Sylar tetap nomer 1.

Tadinya saya mau rate film ini 5.5/10 seperti yang sudah-sudah kalau rate yang saya berikan untuk film dari komik tidak pernah lebih dari 7. Tapi kehadiran Gambit dan Deadpool cukup menarik perhatian saya sehingga saya berani untuk memberikan 7/10.

Akhir kata, bagi yang hanya ingin melihat bagaimana seksinya Hugh Jackman dengan otot bisepnya yang menawan dan adegan naik motor gede yang legendaris itu, tontonlah film ini. Kalian, para wanita, pasti akan puas dengan setiap scene yang didominasi dengan pameran otot terawat.