Ulasan: Disney’s The Jungle Book

Saya sudah pernah cerita kan kalau saya tumbuh dan besar dengan Disney. Sampai sekarang saya masih menganut prinsip kalau tidak ada orang yang pernah terlalu tua untuk sebuah film Disney. Saya menonton seluruh film Disney –terutama yang klasik, hafal hampir seluruh soundtrack-nya, dan masih girang ketika memijakkan kaki di gerbang Disneyland.

  Mulai minggu ini film Jungle Book keluar di bioskop. Masih diproduksi oleh Disney dengan inti cerita yang kurang lebih sama dengan yang keluar pada tahun 1967, jelas pada saat itu saya belum lahir. Namun film daur ulang yang sekarang tidak dalam bentuk animasi, melainkan dimainkan oleh seorang anak bernama Neel Sethi dengan aktingnya yang luar biasa dalam memerankan Mowgli. The Jungle Book disutradarai oleh Jon Favreau (Iron Man, The Avengers) dan dibuat dengan sangat detail dengan hampir seluruhnya CGI. Bagaimana tidak, satu-satunya orang di film tersebut hanya Mowgli dan saya sudah pasti tertipu dengan CGI yang ditampilkan, yang menurut saya the best from Disney, yet.

Mowgli adalah anak manusia yang terlantar di dalam hutan, ditemukan oleh macan kumbang bernama Bagheera (suara dari Ben Kingsley) dan diasuh oleh sekawanan serigala. Namun Mowgli harus pergi dari hutan karena seekor macan bernama Shere Khan (suara dari Idris Elba) memburunya karena menurutnya nanti Mowgli sama seperti manusia lain yang menghancurkan keseimbangan kehidupan hutan. Akhirnya Mowgli pergi ke desa manusia diantar oleh Bagheera, namun di tengah jalan harus terpisah dari si macan kumbang itu. Mowgli masuk ke sisi hutan yang dalam dan bertemu dengan Kaa (suara dari Scarlett Johansson) si ular yang hampir memakannya namun ditolong oleh Baloo (suara dari Bill Murray), seekor beruang madu. Karena merasa telah menolong nyawa Mowgli, Baloo meminta Mowgli untuk mengumpulkan madu dan disitulah mulai pertemanan antara Mowgli dan Baloo.

That river and the surrounding jungle, my friend, are all CGI.

Di film ini Jon Favreau tidak mengubah apa yang sudah ada pada aslinya, kecuali pada tampilan yang menjadi super nyata. Favreau sendiri adalah seorang fans dari film ini, yang–sama seperti saya–tumbuh dari film ini yang menganggap bahwa sudah tidak ada lagi yang dapat ditingkatkan dari filmnya yang terdahulu. Namun usahanya tidak sia-sia, dengan menggandeng rumah animasi komputer yang juga membuat Avatar dan dengan menggunakan teknologi super termutakhir (to the point of minutes, I say), hasilnya menjadi CGI yang paling menakjubkan yang pernah saya lihat. Did I ever tell you that I always be fascinated by a tiger? Di film ini saya puas melihat detil yang ada pada Shere Khan seperti saya girang melihat macan di kandang di kebun binatang, segirang ketika bertemu dan foto bersama anak macan.

The Jungle Book merupakan sebuah definisi yang saya tunggu-tunggu dari sebuah remake film klasik Disney. Film ini hadir tanpa ada perubahan di sisi cerita, tidak seperti apa dilakukan dengan Maleficent. Film ini juga berhasil memberikan lebih dari yang sudah saya perkirakan sebelumnya. Secara keseluruhan film ini sempurna, sesempurna bulu di tubuh Baloo ketika dia dan Mowgli berenang di sungai. Oh, that fur looked so damn perfect. Kalau kamu adalah pecinta, tumbuh dan besar dengan film Disney, yang satu ini tidak akan mengecewakan.

10/10. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s