Ulasan Attack on Titan Live Action

Baru saja sekitar 2 minggu lalu saya menamatkan 25 episode AoT dalam 24 jam hanya demi film live actionnya, yang harusnya nongol minggu ini, tapi mundur ke minggu depan. Saya memang begitu, waktu dulu ketika Kenshin ada live actionnya, saya kembali marathon anime-nya demi mengingat kembali jalan cerita. Tapi sepertinya kebiasaan saya itu terkadang membuat perkiraan pada film live actionnya melambung tinggi. AoT live action memang belum ada di bioskop indonesia, namun salinannya sudah beresar di dunia maya dengan kualitas yang saya akui dapat ditonton,  jadinya saya sudah menonton duluan, hari minggu kemarin, di rumah.

  
Membuat film yang ceritanya berdasarkan dari 13 episode anime memang tidak mudah. Seringkali ada beberapa adegan yang harus dipotong atau disesuaikan agar ceritanya tetap dapat dinikmati dan durasi filmnya tidak terlalu panjang. Ada beberapa film yang berhasil melakukan hal tersebut, namun sayangnya juga tidak sedikit yang gagal sehingga fans berat merasa kecewa. Baru minggu lalu ketika saya selesai menonton Parasyte part 1 saya membaca reviewnya di Kotaku, si pengulas yang termasuk fans berat merasa terkhianati dengan hilangnya beberapa yang dibutuhkan sebagai inti cerita. Minggu ini saya merasakan hal yang sama dengan si pengulas tersebut ketika selesai menonton versi live action AoT.

Attack on Titan bercerita di masa post-apocalypse dimana hidup raksasa, yang disebut dengan titan, yang mengganggu kehidupan manusia–dengan memakan manusia. Seorang anak bernama Eren harus kehilangan ibunya yang dimakan oleh titan tersebut di depan matanya dan bertekad akan menghapus titan dari muka bumi ini. Untuk itu, Eren bergabung dengan pasukan militer yang bertugas melindungi masyarakat dan menumpas titan dan bertekad akan menghabisi semua titan yang berjalan di bumi ini. Itu yang diceritakan dalam anime atau pun komiknya. Namun hal yang berbeda terjadi di live actionnya. Jika motivasi Eren di anime atau komiknya adalah karena ibunya terbunuh di depan matanya, di live actionnya, motivasi Eren adalah karena Mikasa dikira juga mati dimakan titan. Hal tersebut membuat perbedaan besar dengan inti ceritanya. Sampai setengah film saya masih menunggu ketika ibunya Eren meninggal dimakan titan. Bahkan sampai setengah film pula saya masih menganggap kalau Mikasa adalah saudara angkat Eren, walaupun memang mungkin saja tumbuh perasaan cinta. Namun perubahan cerita yang sangat besar itu membuat saya langsung ingin melempar laptop pada saat itu juga.

Setelah ilfil dengan jalan cerita yang diubah, akhirnya saya mencari apa yang dapat saya nikmati dari film ini. Adegan gore titan memakan manusia sempat membuat saya ngilu-ngilu karena suara tulang yang dikunyah. Saya termasuk yang kuat kalau melihat darah bercipratan dimana-mana, namun jika sudah mendengar suara kunyahan atau tubuh dipotong saya mules juga. Di edisi anime-nya, saya berani nonton sambil makan indomie, namun saya sempat mules ketika nonton versi live actionnya sehingga sempat mengurungkan untuk makan sambil menontonnya. Jika harus ditayangkan di bioskop indonesia, mungkin saja adegan itu akan kena kekejaman gunting sensor. Dari sisi animasi, seorang teman menyayangkan adegan penggunaan 3D maneuver gear yang tidak terlalu banyak. Penggunaan 3D maneuver gear memang terlihat lincah dan ringan di animenya, namun jika harus dibuat dengan ala spiderman yang lompat-lompat di antara gedung, hal tersebut rasanya cukup sulit juga, apalagi dengan titan yang juga buatan komputer.

Sebelum ini saya sempat menonton miniseri-nya yang hanya terdiri dari 3 episode. Miniseri ini merupakan suplemen dari film live action layar lebarnya dengan peran utama Hanji, Sasha dan Lil, untuk karakter yang terakhir ini merupakan karakter baru yang menurut saya sedikit mirip dengan Annie di animenya, namun juga bukan Annie, jadi saya anggap sebagai karakter baru. Episode 1 menceritakan tentang bagaimana 3D maneuver gear ditemukan, episode 2 menceritakan tentang kehidupan Sasha dan episode 3 menceritakan kisah cinta Lil dengan pacarnya yang juga anggota di grup militer yang sama. Bagi saya hanya episode 1 yang penting, sisanya tidak lebih dari cerita pelengkap yang menurut saya tidak apa-apa kalau tidak diceritakan, justru yang penting ketika ibunya Eren mati malah tidak ada.

Apakah nanti saya akan menonton bagian keduanya, tentu saja. Saya sudah kepalang tanggung menonton bagian pertama, maka yang bagian kedua juga sama wajibnya untuk ditonton. Kabarnya bagian kedua akan mencakup 12 episode sisa dari animenya yang berarti menceritakan tentang bagaimana kehidupan Eren sebagai anggota Survey Corps. Tidak akan ada Captain Levi maka lupakan lah harapan melihat versi manusianya.  Selain itu mungkin ada yang lebih bisa saya harapkan di bagian kedua dari film ini.

6/10.

One thought on “Ulasan Attack on Titan Live Action

  1. Ya,saya juga sependapat dgn anda,ada bbrpa bagian yg hilang dr film tersebut ,mnurut saya bagian awal film dimana raksaksa menembus dinding lalu memangsa manusia bikin greget. Nilai nya sya ksh 90 ,tapi makin ktngah mmg nilai jd turun .trus saya rada bingung di ending crita 1 itu ,maksudnya ap ?tp ttp kren dah film nya scra ksluruhan saya suka .anggp aja kekurangan sbg bumbu penyedap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s