Yakuza, Vampir dan Kodok yang Jago Berkelahi

Katanya Takashi Miike mau kembali ke asal dengan mengeluarkan film-film slasher setelah beberapa tahun terakhir ini menghasilkan karya komedi seperti Undercover Agent Reiji atau Ace Attorney dan tahun lalu ada film horor berjudul Over Your Dead Body. Karena katanya tersebut, saya senang dan mempunyai harapan tinggi pada salah satu sutradara kesayangan dan genre slasher tercinta ini. Dimulai dengan film-nya yang berjudul Kamisama no Iu Tori (As the Gods Will) yang menghadirkan cerita mirip dengan battle royale tapi dengan monster berbentuk daruma-san dan kokeshi. Tidak akan pernah kulupakan ketika daruma-san mulai balik badan dan berkata “Darumaaaa-saaann…. gaaa…. korondaa~~!!” dan setiap anak yang bergerak kepalanya langsung pecah. Tapi memang kita tidak pernah boleh menaruh harapan tinggi pada sesuatu karena nantinya bisa saja kamu akan kecewa. Karena untuk filmnya yang terbaru ini saya menaruh harapan yang cukup tinggi, simply karena saya telah menunggu film ini dari tahun lalu, yang ternyata tidak seperti yang saya bayangkan untuk sebuah karya dari Miike-san.

Yakuza

Judul film-nya Yakuza Apocalypse, menghadirkan Hayato Ichihara dengan image yang garang, bukan pendek-pendek lucu bikin gemes, dan Kang Yayan Ruhian. Siapa juga yang tidak menaruh harapan tinggi, siapa pun pasti akan mengharapkan ada adegan pertarungan seru dengan banyak darah berceceran dimana-mana. Karena faktor ada Kang Yayan inilah filmnya jadi ditayangkan di bioskop Indonesia, walaupun saya sebenarnya takut dengan gunting sensor nantinya memotong satu adegan penting namun ternyata filmnya tidak sesadis Ichi The Killer.

Tadinya saya mau tulis sinopsis ceritanya disini tapi takut diprotes dianggap spoiler.

FIlm ini dimaksudkan sebagai film komedi dan slasher. Tapi sayangnya saya merasa film ini setengah matang dengan bumbu komedi yang tanggung dan gore yang tanggung. Pernyataan Miike-san tahun lalu mengenai kembalinya dia ke genre-genre lamanya dia terasa omong kosong belaka. Saya adalah penonton film Miike-san mulai dari jamannya Audition sampai sekarang, walaupun saya belum pernah menonton The Happiness of The Katakuris yang kabarnya menjadi salah satu mahakarya. Sebagai salah satu fans, saya tidak merasa terhibur dengan jalan cerita film ini. Beda ketika saya menonton Undercover Agent Reiji yang memang komedi atau pun Kamisama no Iu Tori yang penuh dengan gore. Sampai sekarang saya masih mengingat jalan ceritanya dan mencari-cari apa yang menarik hati saya dari film itu, kecuali Hayato Ichihara. Hingga akhir film, masih banyak pertanyaan yang ada di pikiran saya dan mengharapkan adanya sequel dari film ini sehingga pertanyaan itu dapat terjawab.

Dari sisi akting, satu-satunya yang bisa disorot adalah si bintang utama, Hayato Ichihara. Gara-gara menonton The Rainbow Song, saya membayangkan Ichi-san seperti yang saya sebutkan tadi, pendek-pendek lucu bikin gemes. Namun di film ini, Ichi-san adalah yakuza seutuhnya. Raut mukanya adalah raut muka seorang yakuza, kalimat-kalimat yang dilontarkan adalah kalimat seorang yakuza, dan gaya berpakaiannya adalah seorang yakuza. Ketika menonton, saya mencari-cari image Ichi-san yang lucu dan ceria, namun tidak sedetik pun image itu saya temukan. Mengenai Kang Yayan, cukup disayangkan–sepertinya oleh semua orang yang menonton film ini–image garangnya berubah menjadi seorang otaku walaupun otaku tersebut tetap jago berkelahi. Ketika karakter Kang Yayan muncul di layar kaca, saya mendengar beberapa orang tertawa dan tidak percaya dengan karakter ini. Mungkin itu ide dari si sutradara yang ingin mengubah image, namun saya yakin banyak yang mengharapkan adegan berkelahi Kang Yayan. Tapi di saat terakhir, Kang Yayan terlihat keren dengan yukata, paling tidak saya tidak perlu lagi melihat image otaku itu lah.

Memang sedih jika harus menulis ulasan yang tidak sesuai dengan hati dan bayangan kita tapi memang saya tidak terlalu terhibur dengan film ini. Bagi saya 6/10 cukup untuk film ini. Namun jangan lalu tidak menonton. Tontonlah film ini sebagai tribute bagi Kang Yayan yang sudah bermain dengan baik di film ini, dan salahkan si penulis cerita kenapa ceritanya harus nanggung. Sebagai pecinta film jepang, saya bersyukur film ini ditayangkan di bioskop Indonesia dan terus berharap film-film lainnya juga akan ditayangkan. Selanjutnya mungkin Attack on Titan bisa masuk jaringan bioskop film Indonesia mengingat versi anime-nya cukup menjadi hits di tahun lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s