Film Brilian dengan biaya minimal dan pemain serta kru amatiran

21587Title: Koi no Uzu (The Vortex of Love) / Be My Baby

Director: Hitoshi One

Cast: Kenta Niikura, Naoko Wakai, Chihiro Shibata, Yuumi Goto, Kenta Enya, Hiroki Ueda, Daisuke Sawamura, Aya Kunitake, Sadaharu Matsushita.

Duration: 138 minutes

Film akhir pekan kali ini dimulai dengan Koi No Uzu (terjemahan harafiah: The Vortex of Love) atau Be My Baby. Film ini salah satu yang saya temukan ketika blogwalking pada minggu lalu dan setengah mati mencari unduhannya. Beruntung lah ada yang berbaik hati mengunggah film ini walaupun bukan torrent dan membuat saya insecure apakah donlodan saya kali ini berhasil atau tidak. Belum ada subtitle dalam bahasa inggris atau indonesia untuk film ini, jadi saya nekat untuk menonton dengan kemampuan bahasa jepang yang masih pas-pasan.

Bagi saya menonton film baru hasil dari blogwalking seperti kopi darat. Kita tidak tahu apa yang akan kita temukan dan apakah film tersebut layak tonton atau tidak. Khusus untuk film jepang, janganlah percaya pada trailer, karena apa yang ditampilkan dalam trailer belum tentu mewakili dari film tersebut. Untuk film ini saya sepenuhnya berdasar pada kepercayaan kalau film ini telah memasuki pemutaran ketiga setelah film ini hadir pada Terracotta Far East Film Festival. Pasti lah ada sesuatu dalam film ini yang membuat penonton internasional tertarik.

Dari sisi cerita, saya tidak dapat menceritakan secara jelas, karena saya menonton tanpa subtitle. Jalan cerita film ini saya ketahui dari hasil membaca beberapa resensi yang ada lalu, karena penasaran, langsung nekat menonton. Saya mah gitu orangnya.

Film ini dibuat oleh sekumpulan amatiran dari sebuah rumah workshop untuk pelatihan manusia-manusia baru di dunia perfilman jepang dengan supervisi dari sutradara veteran. Film ini dibuat dalam waktu 4 hari saja dengan biaya kurang dari US$ 10,000 dan dapat menghasilkan sesuatu yang saya sebut sebagai karya yang brilian.

Tema film ini mengambil ide dari sisi gelap kehidupan anak muda Jepang yang tidak jelas dengan kerja paruh waktu, berkiblat pada mode terbaru dan gaya hidup bebas. Percakapan dengan bahasa slang terdengar seperti petasan di setiap adegan. Walaupun dibintangi oleh sekelompok aktor dan aktris amatir, justru saya memuja akting dari para aktor dan aktris ini. Pada awalnya saya masih biasa saja hingga pada suatu adegan saya terpesona dengan akting-nya Naoko Wakai yang berperan sebagai Tomoko-chan. Peran tersebut didalami dengan baik sehingga terlihat karakter Tomoko-chan yang ceria di depan teman-temannya namun begitu submissive ketika berhadapan dengan pacarnya, Koji-kun, yang begitu mendominasi.

Film ini mengambil latar belakang di 4 apartemen kecil di pinggiran Tokyo dan adegan berpindah-pindah antar apartemen tersebut dan menggambarkan semua sifat dari para pemuda-pemudi tersebut, yang dalam cerita berumur 20an tahun. Dengan setting sesederhana itu, film ini mampu menyajikan sebuah jalan cerita (walaupun saya tidak mengerti amat) dengan lika-liku di dalamnya. Tentang siapa yang suka dengan siapa, siapa yang gosipin siapa hingga siapa selingkuh dengan siapa. Walaupun berdurasi 2 jam, film ini tidak membuat bosan. Ada beberapa adegan sex yang implicit, namun mungkin dapat membuat beberapa penonton merasa tidak nyaman. Tenang saja, tidak seperti Game of Thrones yang cukup explicit. Selebihnya, jika ingin melihat akting yang luar biasa, film ini saya rekomendasikan untuk ditonton.

8/10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s