Love Exposure. Film Pertama yang Tidak Bisa Saya Tonton dalam Satu Waktu

Love_Exposure_(2008-Japan)Ketika seorang teman memperkenalkan saya pada sebuah film yang membuat saya jatuh cinta pada sutradaranya, saya menemukan film ini di posisi teratas dari karya sutradara tersebut yang digadang-gadang sebagai mahakarya. Memang judul mahakarya terdengar agak berat ditambah dengan kemampuan minim saya dalam mencerna sebuah film, mahakarya ini membuat saya “ngeri” dan juga penasaran. Tidak percaya dengan kabar bahwa film ini berdurasi 4 jam, pada saat itu juga saya langsung mengunduh filmnya dan benar memang durasinya 4 jam. Love Exposure menjadi film pertama yang tidak bisa saya tonton dalam satu waktu saja.

Sebelum menonton film ini, saya membaca ulasannya dan menemukan banyak yang mengagungkan film ini. Dengan genre campur aduk, termasuk di dalamnya, drama, horror, dan ecchi film ini serasa ditarik menjadi sangat panjang. Sangat panjang karena saya menemukan judul film muncul di pas 60 menit film telah berlangsung. Ya, betul, 60 menit. Edan. Film ini tidaklah straightforward seperti Why Don’t You Play In Hell, film ini dimulai dengan latar belakang dan pembangunan karakter yang cukup detail sehingga saya hampir bisa merasakan dan mengerti perasaan Yu si pemeran utama.

Sejak awal film saya merasakan cinta bertebaran di film ini. Entah itu cinta kepada Tuhan, cinta pada keluarga, ataupun cinta pada lawan jenis. Dimulai dengan keluarga Yu yang taat agama, lalu Yu yang rela melakukan apa pun demi ayahnya, dan ketika Yu akhirnya menemukan gadis yang disukainya, yang dianggapnya mirip dengan Bunda Maria. Walaupun banyak cinta di dalam film ini, tapi tidak selamanya film ini menjadi drama. Beberapa adegan pantas disejajarkan dengan film horror Jepang dengan karakter antagonis yang sakit jiwa dan beberapa adegan yang menampilkan semprotan darah.

Saya bukanlah penggemar film drama, sejujurnya saya mengharapkan sesuatu yang lebih mengingat sebelumnya saya telah menonton Suicide Club dan Why Don’t You Play In Hell. Love Exposure terasa brilian dari sisi pembangunan karakter keluarga Yu, terutama dari sisi Bapaknya dan Yu sendiri yang berubah dari anak yang taat agama menjadi pemberontak, yang tetap taat agama. Pembangunan karakter tersebut membangun cerita cukup solid namun sayangnya tetap ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab, walaupun dengan waktu tayang 4 jam tersebut. Sepertinya sang sutradara sangat berfokus pada kehidupan Yu, sehingga ada beberapa lubang di cerita yang seharusnya dengan waktu 4 jam dapat diceritakan dengan baik.

Apakah saya menyarankan film ini? Kuatkan mentalmu, kawan. Film ini tak semudah kelihatannya. Bahkan saya saja terpaksa harus menonton film ini dalam beberapa bagian. Namun jika Anda mengetahui karya-karya Sion Sono dan belum pernah menonton film ini, tak ada salahnya untuk menonton. Pesan cinta yang dibawa film ini sangatlah universal, hingga seharusnya siapa pun bisa menonton film ini. Sedikit tambahan, jika ada yang cerita kalau film ini tentang Raja Hentai, percaya lah, memang film ini tentang Raja Hentai, namun sama sekali tidak ada adegan telanjang di film ini. Love Exposure memang sinting, namun masih kalah sinting dibandingkan Why Don’t You Play In Hell.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s