Film Tentang Seorang Jenius Dibalik Sejarah Komputer

The_Imitation_Game_3051179cAkhirnya saya berkesempatan menonton film yang telah saya tunggu sejak bulan Desember 2014, walaupun nonton di siang hari terkadang dipenuhi manusia-manusia yang tidak mengerti etika menonton di bioskop. Film yang membuat saya semakin terkesan dengan ilmu matematika dan statistika dan pengejawantahannya pada ilmu komputer. Film bertajuk The Imitation Game ini menceritakan bagaimana Alan Turing, seorang ahli matematika dan professor di Cambridge, dapat memecahkan kode enkripsi pasukan Jerman pada Perang Dunia II.

Enigma, begitu nama mesin enkripsi milik Jerman pada saat itu. Mesin tersebut memiliki 3 rotor dan sirkuit listrik yang dapat menghasilkan 159 juta juta juta (159 dengan 18 angka di belakangnya–begitu kata Hugh Alexander) kombinasi kunci enkripsi. Mesin tersebut berbentuk seperti mesin ketik jaman dulu namun dengan deretan huruf di bagian atasnya, yang akan menyala menghasilkan huruf yang telah terenkripsi begitu pesan diketik. Mungkin pada saat itu mesin ini adalah mesin pengenkripsi paling canggih, yang konon untuk memecahkan kuncinya butuh waktu 20 juta tahun.

Alan Turing pada saat itu bekerja dalam sebuah tim rahasia di Bletchley Park, Manchester, yang tugasnya hanya untuk memecahkan kode Jerman itu. Menyadap pesan Jerman tidak susah karena pada saat itu pesannya disebar melalui frekuensi radio yang dapat diambil siapa saja, namun pesan itu tidak akan berarti tanpa kunci untuk mendekripsinya. Tantangannya ada pada jumlah kombinasi kemungkinan kunci dan pasukan Jerman selalu mengganti kodenya pada jam 12 malam. Di film disebutkan bahwa pesan pertama keluar pada jam 6 pagi, yang artinya tim tersebut hanya mempunya 18 jam saja untuk memecahkan kode yang digunakan oleh pasukan Jerman. Sampai akhirnya Turing membuat mesin untuk memecahkan kode tersebut lebih cepat, yang pada waktu itu diberi nama Colossus namun di filmnya bernama “Christopher”. Namun tidak serta-merta mesin tersebut dapat memecahkan kode dengan cepat, hingga disadari bahwa pada setiap pesan yang dikirim terdapat kata-kata dengan frekuensi kemunculan yang tinggi. Dengan berbekal asumsi itu, “Christopher” dapat menemukan kode enkripsi  yang dipakai Jerman.

Memang Turing benigma-full-804erjasa dalam menemukan kode enkripsi dan karena itu konon katanya perang dunia dapat dipotong hingga lebih dari 2 tahun namun dia tidak lantas dihargai, karena orientasi seksualnya yang menyimpang, yang pada saat itu disebut dengan “gross indecency”. Pada tahun 50an homoseksual dianggap sebagai kriminal dan sampah masyarakat, bahwa siapa saja yang diketahui atau terindikasi homoseksual akan diadili dan dijatuhi hukuman penjara atau diberi suntikan untuk menahan hormon. Demi tidak berpisah dengan mesinnya, Turing memilih untuk diberi suntikan dan setelah setahun mengikuti terapi, Turing akhirnya mengakhiri hidupnya dengan memakan apel yang dicelup cairan sianida.

Sosok jenius Alan Turing diperankan dengan luar biasa oleh Benedict Cumberbatch. Lagi-lagi Mas Benny dapat membuat saya terlupa dengan perannya di film lainnya, hanya sedikit teringat dengan Sherlock yang anti-sosial, lalu saya kembali percaya bahwa memang Alan Turing adalah seperti yang diperankan oleh Mas Benny. Seorang aktor yang kawakan menurut saya adalah yang mampu memerankan karakter lengkap dengan raut muka, tanpa harus mengingatkan pada karakter lainnya yang telah diperankannya. Dan di dalam Alan Turing-nya Mas Benny, saya hanya melihat sosok Sherlock sekali saja (karena mungkin Turing adalah seorang yang anti-sosial, mirip seperti Sherlock) tanpa ada ingatan sedikit pun pada Smaug atau pun Khan.

Jika Anda mencari adegan perang di film ini, maaf mungkin film ini tidak cocok untuk Anda. Tidak ada satu pun adegan perang dunia II dalam film ini kecuali footage-footage perang yang diselipkan. Bagi kebanyakan orang mungkin film ini terlalu berat untuk ditonton, namun bagi saya film ini sungguh brilian. Hingga tahun lalu saya tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang telah berpikir, “apakah mesin dapat berpikir?” jauh sebelum mesin itu sendiri ditemukan. Alan Turing memberikan sebuah premis bahwa mesin dapat pula berpikir, jikalau kita sudah tidak dapat lagi membedakan mana jawaban yang dihasilkan dari mesin dan mana yang dihasilkan oleh manusia. Seketika saya teringat dengan segala penemuan dan teknologi yang kebetulan bersinggungan langsung dengan saya seperti telepon genggam atau pun komputer di pusat penelitian di kantor pusat perusahaan dimana saya bekerja sekarang ini yang juga mampu berpikir.

Film ini brilian di segala sisi dengan apresiasi terbesar saya berikan pada Benedict Cumberbatch. Bagi saya nilainya tidak kurang dari 9/10 dan membuat saya bingung harus memilih The Grand Budapest Hotel atau The Imitation Game untuk Best Picture tahun ini. Pada akhirnya film ini menyampaikan bahwa setiap orang dapat berjasa besar dan menjadi pahlawan tanpa harus memikirkan jenis kelamin, orientasi seksual, ras maupun hal-hal sepele lainnya. Sebuah pesan yang sederhana dalam film yang begitu brilian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s