Film Animasi Bagai Lukisan Cat Air

beautifully-animated-trailers-for-the-tale-of-princess-kaguyaPengumuman nominasi Oscar tahun ini cukup membuat saya bahagia ketika ada The Grand Budapest Hotel di cukup banyak nominasi. Saya akan sangat senang sekali jika film tersebut terpilih sebagai Best Picture. Tapi demi alasan yang lebih obyektif dan untuk catatan pribadi, saya mengunduh beberapa nominasi film lainnya termasuk Whiplash, Boyhood, Foxcatcher dan The Tale of the Princess Kaguya, film terbaru keluaran Studio Ghibli, yang masuk dalam kategori Animated Feature. Sudah tentu yang saya tonton pertama kali adalah Kaguya-hime no Monogatari dan post kali ini saya akan membahas tentang film tersebut.

Jika beberapa waktu yang lalu saya pernah membahas tentang The Book of Life yang animasinya dipenuhi dengan warna-warna cerah yang terlihat seperti wahana It’s a Small World di Disneyland, maka The Tale of the Princess Kaguya bagaikan lukisan cat air yang sederhana namun sangat indah. Dalam 15 menit pertama filmnya, saya terpaku pada gambar animasinya yang digambar dengan tangan, dengan garis-garis pensil arang yang sungguh jelas dan warna yang hadir dari cat air, dengan detail dan gerakan yang halus tidak terputus. Rasanya seperti melihat buku cerita anak-anak yang hidup. Jika harus memilih dari nominasi lainnya (Big Hero 6, How to Train Your Dragon 2, The Boxtrolls dan Song of The Sea), saya pasti memilih Kaguya-hime karena subyektifitas pada Studio Ghibli dan animasi yang luar biasa.

Tale of Princess Kaguya diambil dari cerita legenda Jepang yang sudah sangat terkenal, The Tale of Bamboo Cutter. Seorang kakek penebang bambu menemukan bayi di dalam batang bambu dan bayi tersebut dibesarkan layaknya anak sendiri dan suatu saat ketika sudah besar anak tersebut diambil kembali oleh Dewa di surga. Dalam film yang berdurasi 2 jam 17 menit ini, cerita ditambahkan dengan tema bahwa harta benda berlimpah tidaklah selalu membuat seorang bahagia, bahwa hidup sederhana dengan menyatu dengan alam dapat terasa lebih menyenangkan. Seperti filmnya sendiri, animasi yang canggih hampir terasa realistis tidak selalu membuat film menjadi indah.

Film ini disutradarai oleh Isao Takahata, salah satu pendiri Studio Ghibli. Selama ini Studio Ghibli dikenal dengan Hayao Miyazaki yang baru saja pensiun tahun lalu namun jika pernah menonton Grave of the Fireflies, pembuatnya adalah Ojisan jenius berusia 78 tahun ini. Film ini tadinya direncanakan dirilis pada musim panas tahun lalu, bersamaan dengan Kaze Tachinu, namun pada akhirnya harus ditahan sampai bulan November. Selain masuk nominasi Oscar, film ini juga ikut dalam Cannes dan Toronto festival.eab1f9239ed3d59f7b156ff2aea87325

Ketika tulisan ini saya buat, sejujurnya filmnya belum selesai saya tonton. Saya begitu semangat untuk menulis karena saya begitu senang dengan animasinya. Ghibli yang saya tahu kebanyakan adalah karya Miyazaki-san dengan detail penggambaran yang luar biasa, namun Takahata-san menyajikan sesuatu yang berbeda, dengan kualitas yang sama luar biasanya sehingga buat saya berhasil menyingkirkan setiap film animasi yang saya tonton tahun ini. Jika Big Hero 6 adalah karya dari kecanggihan teknologi, maka Kaguya-hime adalah karya dari seorang seniman. Nilainya sempurna dari seluruh sisi. Bagi anda yang penggemar film keluaran Ghibli seperti saya, maka wajiblah hukumnya untuk menonton film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s