Upaya Pembunuhan Kepala Negara dalam Selubung Wawancara

_79790768_hi024951574Menurut saya film ini adalah alasan mengapa Korea Utara meretas Sony Pictures, atau mungkin sebaliknya? Karena Korea Utara meretas sistem Sony, jadi mereka membuat film ini. Siapa pun yang memulai, hal tersebut tidak menghilangkan fakta mengenai ditariknya film ini dari peredaran, bahkan sebelum beredar. Namun, banyaknya permintaan membuat Sony akhirnya merilis film ini di internet yang langsung memberikan profit banyak (saya lupa persisnya) pada Sony di minggu pertama. Maaf kepada jaringan bioskop yang tidak sempat mengais rejeki dari populernya film ini.

Secara singkat The Interview bercerita tentang sebuah acara bincang-bincang di televisi, yang mendapatkan kesempatan untuk dapat mewawancara Pemimpin Negara Korea Utara, Kim Jong-Un dan dalam usaha wawancaranya tersebut, Ronan Rapoport dan David Skylark, sang produser dantheinterview_112414_1280-1416902303221 pembawa acara, dititipi misi oleh CIA untuk membunuh Presiden Kim. Dengan alur cerita seperti itu, saya tidak heran kalau Sony Pictures diretas oleh Korea Utara. Demi untuk mewawancarai Presiden Kim, Ronan dan David harus pergi ke Korea Utara dan mengadakan wawancara langsung di kediaman sang presiden dengan format acara yang pula telah di tentukan sebelumnya. Ternyata Presiden Kim tidak seperti yang diberitakan oleh media. Presiden Kim adalah orang biasa yang menyukai Katy Perry dan mempunyai hobi bermain dengan tank yang tersimpan di garasinya bersama dengan deretan mobil merk Amerika lainnya.

Film ini bergenre komedi dan cukup rasis. Dari awal sudah dibuka dengan anak perempuan Korea Utara yang bernyanyi di sebuah perayaan, yang lirik dari lagu tersebut menghina-hina Amerika dan di akhir lagu ada sebuah misil yang diluncurkan, sudah pasti ditujukan untuk Amerika. Bagi seseorang yang sangat nasionalis, film ini dirasakan sangat menghina. Bentuk interpretasi yang bisa saja salah dari seorang pemimpin negara yang diagungkan bagai dewa oleh penduduknya dijadikan bahan tertawaan oleh masyarakat. Jikalau saya adalah seorang Korea Utara, saya akan marah besar dengan Sony Pictures karena pemimpin yang saya agungkan dibuat sedemikian rupa seperti badut. Tapi mungkin itulah inti dari The Interview ini, seorang presiden yang ternyata fans dari acara interview lucu-lucuan, ingin ikut diwawancara namun dengan skenario. Pada akhirnya presiden yang didewakan itu tetaplah manusia yang punya lubang (maaf) anus dan dapat pula menangis.

the_interview_still_4Film ini menyiratkan bahwa pencitraan mudah saja dilakukan dengan media. Ketika baru sampai di Pyongyang, David dan Ronan bertanya pada sekretaris Presiden Kim apakah betul penduduk Korea Utara kelaparan, merasa tersiksa, dan Presiden Kim tidak pernah buang air. Pertanyaan itu dijawab dengan adanya toko makanan dengan deretan buah ranum dengan anak kecil gendut berdiri didepannya. Namun hal itu hanyalah sebuah pencitraan belaka, bahwa buah-buahan di toko itu hanyalah replika dan ternyata Presiden Kim sendiri mengakui bahwa dirinya tetaplah perlu untuk buang air. Dampak dari pemberitaan media memang luar biasa. Dengan media, seorang pemimpin negara dapat terlihat sedemikian hebat, hingga didewakan oleh penduduknya.

screen_shot_2014-11-25_at_4.58.14_amFilm ini cukup menghibur bagi yang dapat menangkap unsur komedi di dalamnya tanpa merasa terofensif. Sedikit terasa seperti film kacangan macam parodi Scary Movie dengan beberapa adegan slapstik yang bagi sebagian orang terlihat murahan. Namun ide cerita yang brilian sekaligus kontroversial ini patut diberikan tepuk tangan. Awalnya saya mengira kalau film ini adalah semi-dokumenter, yang sampai digagalkan penayangannya secara massal, namun ternyata tidak lebih dari sebuah film komedi biasa. Sepertinya yang mengusulkan film ini ditarik dari peredaran terlalu paranoid atau tidak mampu mengambil unsur komedi di dalamnya yang lumayan kelewatan.

Rekomendasi untuk menonton? Terserah. Toh film ini sudah tersebar luas di dunia maya. Jika Anda merasa streaming tidak lebih membuang uang dibandingkan nonton di bioskop, tidak ada salahnya untuk menonton. Tadinya saya ingin memberikan nilai lumayan untuk film ini, namun jalan cerita yang seperti parodi membuat saya mengurungkan niat itu dan 5/10 saya rasa cukup. Kehebohan itu sempat membuat harapan tinggi, namun tidak jarang pula harapan tinggi berakhir dengan kekecewaan. Mungkin sebenarnya penarikan film merupakan bagian dari pemasaran belaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s