Kelanjutan Nasib Naga dan Pertempuran Lima Pasukan

HBFA_30SHT_DWARVES_1926868

Bagi saya yang hampir hafal sejarah Middle-Earth, The Battle of The Five Armies adalah film yang sangat ditunggu. Film ini merupakan bagian terakhir dari trilogi The Hobbit dan berisikan 6 chapter terakhir yang ditampilkan dalam film berdurasi 144 menit. Harapan saya, sutradara Peter Jackson dapat menyajikan apa yang tertulis mirip dengan apa yang diimajinasikan. Secara keseluruhan film ini memuaskan, namun saya sedikit kecewa dengan penggambaran kematian Fili dan Kili.

Fili dan Kili mati? Bagi yang sudah baca bukunya tentu saja tahu kalau Fili dan Kili mati, begitu pula Thorin. Tapi sebelum kita membahas tentang ini, saya mulai dari awal dulu. The Battle of THe Five Armies dibuka dari kelanjutan film sebelumnya dimana Smaug keluar dari sarangnya yang nyaman seperti Paman Gober, dan menghancurkan Dale dan Esgaroth.  Bard yang merupakan keturunan Girion, Lord of Dale, berusaha untuk menyelamatkan kotanya. Dengan modal panah hitam legendaris yang kabarnya pernah hampir menembus kulit Smaug, Bard naik ke menara untuk membidik Smaug. Smaug terkena panah hitam dan mati di tempat, dengan lengkingan suara yang terdengar ke seluruh penjuru negeri sampai ke Misty Mountain, dimana Thorin beserta pengikutnya melihat kematian Smaug.third-hobbit-film-retitled-the-hobbit-the-battle-of-the-five-armies-161515-a-1398348528-470-75

Memang Smaug matinya cepat dan tidak bertele-tele karena inti dari film ini adalah adanya lima pasukan yang ingin mengambil tumpukan emas yang kabarnya telah ditinggalkan oleh Smaug, dan disitu lah perang muncul. Sesudah kabar tentang kematian Smaug tersebar ke seluruh penjuru negeri dan sampai pada telinga Thranduil, maka pergilah Raja tersebut dengan rusanya yang mentereng menuju Esgaroth bersama dengan sepasukan Elves. Thranduil berniat mengambil kembali apa yang telah menjadi milik kaumnya, karena sebagai makhluk yang diturunkan pertama kali di muka Middle-Earth dan pernah menginjak daratan di Barat, Thranduil merasa kaumnya lebih superior dibanding makhluk lainnya. Di lain pihak, Azog beserta pasuka Orcs-nya mulai jalan menuju Misty Mountain, juga karena emas di dalam gunung itu. Thorin sendiri telah memanggil sepupunya, Dain, yang keras kepala itu, untuk kembali berkumpul bersama melawan sepasukan Elves, Orcs, Men dan lainnya demi mempertahankan harta yang katanya miliknya. Kalau saya terus menulis ceritanya, mungkin bisa menjadi satu buku sendiri, jadinya seperti ulasan kenshin yang lalu, saya akan menulis tentang yang saya temukan ketika menonton film, yang tidak saya temukan ketika berimajinasi, bukan termasuk mbak-mbak di samping saya yang selalu ribut ketika pasukan Elves–termasuk Legolas–melakukan manuver.

Yang pertama adalah Thranduil. Bapak raja yang anggun ini selalu memikat perhatian terutama ketika dia muncul di 216440b237f1734875099e5237206514Esgaroth bersama sepasukan pemanah dan penombak dan menaiki rusanya yang mentereng itu. Jikalau diumpamakan dengan mobil-mobil yang beredar saat ini, rusanya itu bagaikan mobil sport buatan italia macam bugatti, lamborghini atau pagani. Dengan gayanya yang angkuh, dia selalu berhasil memikat perhatian saya, terutama ketika dia harus bertarung melawan sepasukan orcs dan berhasil keluar tanpa ada sayatan sedikit pun di wajahnya. Yang membuat saya takjub adalah ketika dia bersama dengan Bard harus menembus sepasukan Elves yang telah berdiri rapih di depan pintu gerbang Moria lalu Elves itu bergerak dengan indahnya untuk memberi jalan kepada Paduka Thranduil Penguasa Hutan Yang Agung.

Lalu mengenai anak semata wayang Thranduil, Legolas Greenleaf. Di dalam bukunya tidak ada satu paragraf pun yang menuliskan nama Legolas, namun di film ini pangeran jago memanah itu hadir dan mengambil adegan yang cukup banyak. Ada kawan, yang sama seperti saya yang terlalu mengagumi Paduka Thranduil, sampai kecewa berat ketika Legolas diberikan adegan yang cukup banyak. Buat saya, hadirnya Legolas tidak mengapa, namun seperti membuat cerita tersendiri, tidak seperti yang pernah dituliskan oleh Tolkien.

Lalu Kili dan Tauriel. Apa-apaan itu pula? Kenapa bisa ada penambahan cerita cinta-cintaan antara Kili dan Tauriel. Saya tidak pernah mendengar cerita tentang Dwarves dan Elves, yang ada juga Elves dan Men, seperti Beren dan Luthien atau Aragorn dan Arwen. Dan yang paling membuat saya sakit hati adalah dengan melihat caranya Kili mati. Di film ini diceritakan Kili mati karena menolong Tauriel, tapi seharusnya di bukunya Kili dan Fili mati karena bertarung melawan Orcs berusaha melindungi Paman Thorin.

Of the twelve companions of Thorin, ten remained. Fili and kili had fallen defending him with shield and body, for he was their mother’s elder brother.

Dengan membaca kalimat itu saja saya sudah menangis tersedu-sedu membayangkan Fili dan Kili mati dengan heroik demi Paman Thorin. Namun tidak seperti itu di filmnya. Saya jujur kecewa dengan satu adegan yang terakhir itu. Dari sisi lainnya, saya tidak berkomentar banyak. Memang untuk urusan CGI rumah produksi Warner Bros tidak usah dipertanyakan lagi. Walaupun pada saat Smaug menghabisi Esgaroth, CGI sangat terasa sehingga tidak seperti sebenarnya.TheHobbit3_FinalTrailer

Bagi penggemar literatur Tolkien, saya kecewa dengan film yang terakhir ini. Saya tidak masalah dengan penambahan beberapa cerita selipan di film ini, namun tidak dengan mengubah bayangan saya untuk akhir dari Thorin, Fili dan Kili. Bagi yang belum membaca ceritanya, mungkin perangnya terlihat agak berlebihan, dengan hadirnya gagak dan saya pernah membaca ada yang heran dengan jatuhnya “beruang” dari langit. Ya, saya maklum, mungkin mereka tidak membaca bukunya karena yang datang itu adalah Beorn, seorang kawan yang rumahnya pernah disinggahi sebelum sekumpulan Dwarves tersebut sampai ke Mirkwood. Cukup 7/10 untuk bagian terakhir dari trilogi epic ini. Saya harap ada adaptasi film lainnya dari cerita-cerita di Middle Earth seperti cerita tentang Beren dan Luthien atau Turin Turambar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s