Doraemon

Baru sadar bahwa ulasan film terakhir yang saya tulis adalah Interstellar, dan setelah itu saya telah menonton Mockingjay, Saint Seiya, dan Penguins of Madagascar–cuma karena Benedict Cumberbatch adalah pengisi suara Agent Classified–namun saya belum menulis satu ulasan pun dari ketiga film tersebut. Salahkan saja kegiatan akhir tahun di kantor yang sangat menyita waktu sehingga saya harus didiagnosa dengan penyakit maag yang mengharuskan saya menghindari makanan enak terutama cokelat, nanas, mangga, stroberi, kiwi, kopi, sambel ijo, dan lain-lain selama tiga kali lebaran. Jadi untuk ulasan yang sekarang saya langsung saja menuju film yang baru saya tonton, yang konon kabarnya bikin website suatu jaringan bioskop jebol traffic-nya, yaitu Stand By Me Doraemon.

StandByMeDoraemon-head

Sebagai bagian dari generasi yang besar dengan Doraemon di hari minggu pagi, saya sangat menunggu-nunggu film ini beredar di Indonesia. Pula kabarnya penayangannya di Jepang menjadi box office sehingga mampu menyingkirkan Rurouni Kenshin saga ke peringkat kedua. Begitu banyak saya berspekulasi tentang bagaimana film ini menceritakan tentang si robot kucing berwarna biru, yang tadinya berwarna kuning, yang takut dengan tikus ini. Eh, Doraemon berwarna kuning? Yang penasaran mungkin bisa coba menonton film The Birth of Doraemon, film tersebut menceritakan tentang bagaimana Doramon diproduksi dan bagaimana dia bisa sampai ke keluarga Nobi. Kembali ke cerita, saya tadinya berspekulasi kalau film ini bercerita tentang akhir dari Doraemon seperti yang dulu sempat beredar. Diceritakan oleh salah satu fans Doraemon, bahwa Doraemon adalah robot yang dibuat oleh Nobita sendiri untuk menolong dirinya ketika masih sekolah. Paradoks ceritanya. Namun di film ini seluruh ceritanya murni diambil dari komik Doraemon karangan Fujiko F. Fujio. AJ201409180060M

Bagi saya yang mempunyai komiknya lengkap dan berjejer berantakan di lemari buku, mudah sekali menebak alur cerita dari film Doraemon ini. Alur cerita mengambil dari cerita awal di buku nomor 1 ketika Sewashi datang dari abad 22 bersama dengan Doraemon dan ditutup dengan cerita di buku 7 ketika Doraemon harus pulang ke abad 22. Mungkin bagi yang belum pernah membaca bukunya atau mungkin tidak terlalu hafal, maka dapat tersentuh dengan film ini. Sutradara Takashi Yamazaki yang juga menulis screenplay mengadaptasi berbagai cerita pendek di komiknya sehingga mengalir lancar. Beberapa cerita di dalamnya termasuk ketika Shizuka di masukkan ke dalam telur ayam agar nanti ketika keluar dari telur tersebut dia mencintai orang yang pertama dilihatnya, dimana niatnya orang tersebut adalah Nobita, namun malah berbalik jadi Dekisugi. Tetap yang paling lucu ketika Takeshi Gooda yang masuk ke dalam telur dan orang yang pertama dilihatnya adalah yang mulia Suneo Honekawa. Bahkan saya dan adik sudah tertawa terbahak-bahak jauh sebelum adegannya terjadi, membayangkan Suneo dikejar-kejar Giant.

3d0c3a1d38e44e038d17e3a60de5f824Visual di film ini terlihat agak kurang dan suram, tidak seperti Big Hero 6 yang terlihat menawan. Detail komponen gambar di film doraemon cukup baik, namun jika diberi teknik pencahayaan yang lebih baik film ini akan jauh lebih indah. Jika saya boleh sok tahu, film Doraemon dirender dengan waktu yang jauh lebih pendek daripada Big Hero 6. Tapi dari segi 3D, Doraemon lebih eye-popping, seperti ketika Doraemon mengeluarkan Pintu Kemana Saja yang legendaris itu dari Kantong Ajaibnya yang lebih legendaris. Teknik 3D yang dipakai di film ini masih jauh lebih baik daripada Saint Seiya.

Musik untuk film ini ditukangi oleh Naoki Sato yang juga bertanggungjawab untuk musik di Rurouni Kenshin Meiji Kenkaku Romantan dan lagu penutup film adalah Sunflower’s Promise atau Himawari no Yakusoku yang dinyanyikan oleh Motohiro Hata. Lagu yang menurut saya cocok untuk dinyanyikan ketika kelulusan sekolah karena bertema pertemanan.

vcd-doraemon-stand-by-me-ver_0150fe850b0b41c38cbdd06a6a856f91.jpg.580x580_q85Namun pada akhirnya film ini tidak membuat saya menangis tersedu-sedu. Mungkin karena saya sudah hafal mati dengan cerita doraemon yang selalu saya baca berulang-ulang dari saya mulai bisa membaca. Cukup 7.5 saja nilainya, mungkin karena saya sudah mengetahui jalan ceritanya dan berharap ada sedikit yang berbeda dari apa yang sudah dituliskan Fujiko-san. Namun saya mengerti dilema yang ada, jika nanti jalan cerita dibuat berbeda dari yang telah ditulis, takutnya akan membuat fans doraemon akan kecewa dan merasa ceritanya tidak orisinil. Doraemon akan selalu ada di hati dan selalu memberikan pengaruh hebat pada generasi saya untuk selalu rajin bangun pagi di hari minggu dan menonton kelanjutan cerita persahabatan ini.

 

Bonus:

Hata Motohiro – Himawari No Yakusoku

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s