The Book of Life: Film Animasi Bertema Kematian yang Penuh dengan Warna

Ini pertama kalinya saya nonton film animasi yang bukan berasal dari rumah animasi disney, pixar, dreamworks atau pun sony pictures. The Book of Life dikeluarkan oleh rumah animasi Reel FX dengan produser Guillermo del Toro dan sutradara Jorge R. Gutierrez. Bagi saya, apa pun yang diproduksi oleh Guillermo del Toro selalu memukau, tersebut lah itu Pacific Rim, Mama atau The Strain, tapi saya tidak menyangka dengan film animasi ini saya akan sangat terkesima. The Book of Life adalah film animasi dengan penampilan visual yang mempesona dengan soundtrack yang memikat telinga dan sangat kental dengan budaya Meksiko.book-of-life-facebook

The Book of Life bercerita tentang legenda di Meksiko tentang El Dia de los Muertos atau The Day of the Dead atau bahasa Indonesia-nya Hari Orang-orang Mati. Tidak mengherankan mengingat sang produser, sutradara dan penulis cerita yang memang orang Meksiko, dan juga kesenangan Guillermo del Toro pada hal-hal horror. Mungkin bagi kita orang Indonesia, hari seperti ini kurang dikenal, namun di negara asalnya sana, hari ini adalah hari dimana orang-orang berziarah ke makam leluhur atau orang terkasih yang telah meninggal karena pada saat itu diyakini orang yang telah meninggal itu hadir atau mengunjungi kerabatnya yang masih hidup. Mereka yang telah meninggal terbagi di alam lain yang disebut The Land of the Remembered dan The Land of the Forgotten. Masing-masing dari alam tersebut dikuasai oleh La Muerte dan Xibalba yang di film ini menjadi bagian dari cerita karena mereka berdua bertaruh apakah Maria, si kembang desa, akan menikahi Manolo, seorang pemusik dari keluarga dengan tradisi matador atau Joaquin anak dari Pahlawan desa yang telah lama meninggal. Jika Xibalba menang, Xibalba dapat menguasai The Land of the Remembered. Dan jika La Muerte menang, Xibalba tidak boleh lagi ikut campur dalam urusan manusia. Lalu hal menjadi pelik ketika Xibalba mulai menghalalkan segala cara demi menang taruhan.

THE BOOK OF LIFE

How can you not love this vibrant colours.

Di film ini yang membuat saya terpukau bukan jalan ceritanya yang selalu berakhir dengan happy ending layaknya film animasi rasa disney, melainkan dengan gambar dan visualisasi yang membuat saya merasa seperti masuk ke dalam wahana It’s a Small World atau Istana Boneka juga boleh. Tapi It’s a Small World bonekanya lebih bersih dan terawat, jadi saya lebih memilih It’s a Small World. Bagi yang belum pernah masuk ke wahana It’s a Small World, bisa dibayangkan versi Istana Boneka yang bersih dan terawat. Warna-warna cerah terpampang indah dengan model gambar yang sering dilihat di dalam buku cerita anak-anak. Detail para tokoh yang digambarkan dengan boneka kayu lengkap dengan garis-garisnya seperti buatan tangan terasa sangat hidup. Contohnya La Muerta dengan warna-warni bajunya dan aksen mata yang sangat detail sampai pada eyeliner-nya. Baru di tengah tahun ini saya menonton The Grand Budapest Hotel yang visualisasinya mengingatkan saya pada rok tutu ballerina, namun film ini berhasil menurunkan peringkat The Grand Budapest Hotel untuk urusan visualisasi. Menurut saya The Book of Life adalah film dengan visualisasi terindah tahun ini.

Lalu soundtracknya. Ya betul, saya juga tidak mengira kalau di film ini akan seperti film-film animasi tuan putri dengan rasa musikal yang para pemerannya senang bernyanyi walaupun saya tahu kalau Creep-nya Radiohead akan menjadi salah satu lagu. Namun yang tidak saya kira adalah aransemen Creep yang dinyanyikan dengan gitar dengan suara yang sangat menyayat hati yang membuat saya jatuh cinta pada saat itu juga oleh pengisi suara Manolo, Diego Luna. He turns out to be a real musician after all. Lagu lainnya adalah I Love You Too Much yang dinyanyikan ketika hendak merayu Maria yang berada di dalam kamarnya, lalu saya ingat dengan Aladdin. By the way, versi espanol dari I Love You Too Much sudah saya share di post sebelumnya, dengan lirik dari versi inggris. Lagunya sendiri sudah berkali-kali dalam mode repeat di iTunes.bol-trio

Banyak adegan di film ini yang mengingatkan saya pada film-film box office termasuk ketika Joaquin menonjok salah satu tentaranya dari samping hingga mirip dengan adegan Hulk memukul Thor. Atau posisi desa San Angel yang berada di tengah perairan yang mengingatkan saya pada Kingdom of Corona atau Arendelle. Atau mungkin gaya Maria ketika menunjukkan kemampuan kungfu-nya dengan gaya seperti Po Kungfu Panda. Semuanya diramu dengan moral cerita khas dongeng yang menitikberatkan pada kemurnian hati dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Film ini lebih aman untuk anak-anak dibandingkan dengan film animasi dongeng disney lainnya, mengacu pada adegan yang ditampilkan. Memang terasa agak hitam dengan tema kematian, namun visualisasi-nya tidak membuat hal tersebut menjadi sesuatu yang menakutkan. Nilai 9/10 saya hadirkan untuk film ini dengan dua alasan terbesar yang telah saya bahas sebelumnya, bahkan sampai sekarang I Love You Too Much masih terngiang-ngiang di telinga saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s