Ulasan: The Seaside Motel

Masih dari lanjutan obsesi saya pada Ikuta-san, film selanjutnya yang saya tonton adalah The Seaside Motel yang rilis pada tahun 2010. Pada 25 detik pertama saya sudah merasa tertarik pada cara pengambilan gambarnya, dan pada 2 menit pertama saya langsung mempunyai perkiraan yang bagus pada film ini. Kalau menurut trailernya, cerita berkisar pada 4 kamar di motel tersebut yang terjadi pada waktu yang bersamaan dan memiliki topik yang berbeda-beda namun pada akhirnya berhubungan. Cara penuturan film yang saya suka dan jarang ditemukan pada film jepang yang biasanya. Film ini disutradarai oleh Moriya Kentarou dan dibintangi oleh Ikuta Toma, Kumiko Aso dan Takayuki Yamada.

Mengambil setting di sekitar tahun 70an, 11 orang yang saling tidak mengenal yang tinggal di motel bernama The Seaside Motel, yang ternyata mempunyai nasib yang saling berhubungan. Walaupun motel tersebut bernama The Seaside Motel, motel tersebut terletak di tengah-tengah gunung dengan kondisi reyot, nyaris rubuh dan air yang hanya tersedia ketika tangki air terisi dengan air hujan. Dimulai dari seorang salesman kosmetik (Ikuta Toma) yang tinggal di kamar 103 yang sedang dalam perjalanan bisnis untuk menjual krim perawatan tubuh, tak sengaja bertemu dengan seorang gadis panggilan bernama Candy (Kumiko Aso) yang ternyata salah kamar. Lalu ada seorang penjudi yang melarikan diri bersama pacarnya di kamar 202. Asakura Yosuke (Takayuki Yamada), penjudi tersebut, dicari oleh yakuza karena berhutang 30 juta yen pada yakuza itu. Di kamar sebelahnya, kamar 203, ada pasangan paruh baya pemilik supermarket diskonan yang sedang berlibur demi untuk The Seaside Motelmengulang kembali masa-masa romantis mereka. Dan terakhir di kamar 102 ada seorang lelaki berumur 38 tahun yang berusaha untuk mengelabui gadis yang baru ditemuinya di club untuk bisa tidur bersamanya.

Terlepas dari Ikuta-san, saya suka film ini karena sinematografi-nya, setting lokasi yang sangat sederhana, dan gaya bercerita yang, walaupun menceritakan hal yang berbeda-beda, tetap memiliki hubungan antara satu sama lainnya. Saya tidak terlalu mengerti masalah teknik pengambilan gambar di perfilman, namun hal tersebut yang sejujurnya sangat menarik perhatian saya. Really a feast to the eye!! Untuk sebuah film komedi ringan, film ini bisa dibilang sangat menyenangkan dan berhasil mencapai tujuannya sebagai film yang menghibur.

Sepertinya tidak banyak yang mengetahui film ini karena saya baru menemukan 1 review untuk film ini, dari twitchfilm. Saya sendiri pada awalnya merasa hopeless bisa menemukan film ini karena di google pun, saya hanya sedikit menemukan review atau sinopsis tentang film ini. Girang hati ini ketika ada yang mengunggah film penuh di youtube selama menunggu donlotan yang pada waktu itu seedernya masih pelit untuk bagi-bagi. Bagi saya yang cukup manja ketika menonton film, perasaan puas yang didapat setelah menonton film ini menjadi bayaran yang setimpal. Apalagi ketika melihat beberapa adegan Ikuta-san yang, seperti biasa, membuat perut saya mules-mules.

Saya menyukai genre dan teknik kamera dan sinematografi di film ini. Saya sangat menyukai film ini dari seluruh aspek. Saya merekomendasikan film ini sebagai selingan di tengah-tengah minggu yang melelahkan. Untuk film ini nilainya 8/10.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s