Ulasan: Sekuel How To Train Your Dragon

Hiccup jadi ganteng. Sudah pada tahu kan? Atas alasan itu pula saya penasaran dengan sequelnya How to Train Your Dragon yang diberi judul yang sama. Akhirnya pada hari sabtu kemarin setelah latihan jujitsu saya memutuskan untuk nonton midnitenya di blitz teraskota. On 3D. Filmnya mulai jam 23.15 malam dan studionya lumayan terisi. Saya tidak akan membahas kelakuan dan komentar ajaib orang yang nonton yang bikin saya mau nimpuk popcorn ke mukanya karena tidak berhenti bicara selama film berlangsung. Tidak, itu nanti saja. Lupakan dulu sejenak.

Ya, saya tahu filmnya baru mulai diputar luas pada Jumat ini. Kalau tidak mau ter-spoiler, lebih baik skip beberapa paragraf selanjutnya.

Seperti biasa, cerita dimulai dengan keadaan Berk yang damai dan lomba balap naganya yang berlangsung seru. Yang paling meminat hati adalah eksperesi muka domba-domba tak bersalah yang dijadikan media skor lomba, dengan domba hitam bernilai 10. Lalu adegan pindah ke Hiccup dan Toothless yang berkelana mengelilingi daratan-daratan dengan tujuan agar mendapatkan penglihatan yang lebih luas lagi pada dunia ini. Hiccup sudah besar, horeee… sudah semakin ganteng dan Toothless juga semakin lucu. Hiccup masih bersama dengan Astrid, pacarnya yang dulu menjadi rival dalam latihan perburuan naga. Karena sudah semakin besar dan merupakan kebanggaan Berk, maka Stoick, bapaknya Hiccup sekaligus Pak Lurah dari Berk ingin sekali tahta itu diserahkan kepada Hiccup. Tapi Hiccup merasa tidak cocok dengan jabatan Pak Lurah¬†lalu pergi melanglang buana, sampai suatu ketika dia menemukan suatu tempat yang dihancurkan dengan es. Di tempat tersebut, bersembunyi sekelompok perompak yang suka menangkap naga. Stormfly, naganya Astrid, tertangkap oleh perompak itu. Lalu Hiccup dan Astrid berupaya untuk pergi dari situ dan mendapatkan pesan kalau naga-naga itu ditangkap atas suruhan Drago Bludvist. Sampai di Berk, Hiccup langsung menyampaikan hal tersebut pada bapaknya. Awalnya dia tidak dihiraukan, tapi begitu mendengar nama Drago, Stoick mendadak menjadi panik dan langsung memerintahkan untuk mengaktifkan pertahanan dan seluruh penduduk Berk bersama dengan naga-naganya tidak ada yang boleh meninggalkan Berk kecuali atas seijin Stoick. Memang dasar Hiccup yang tidak pernah mendengarkan apa kata orang, dia kabur dengan menunggangi Toothles dan diikuti pula oleh Astrid.

Hiccup pergi mencari perompak tersebut yang bernama Eret, Son of Eret. Dia sengaja menyerahkan dirinya dengan harapan akan dibawa ke Drago dan dapat bernegosiasi. Namun rencananya dirusak oleh rombongan topeng monyet teman-temannya yang mengira kalau Hiccup betul-betul ditawan. Ketika pergi dari para perompak itu, di tengah jalan Hiccup bertemu dengan penunggang naga bertopeng yang naganya sungguh besar, lebih besar daripada punya Stoick. Penunggang bertopeng lalu membawa Toothless dan Hiccup ke sebuah gua dan ketika Hiccup mengira penunggang naga tersebut adalah Drago, ternyata dia adalah ibunya Hiccup yang waktu dulu diculik naga. Akhirnya terjadi reuni antara ibu dan anak tersebut. Di lain pihak, Stoick yang khawatir dengan keselamatan anak semata wayangnya, terus mencari dengan bantuan topengnya Hiccup yang terjatuh. Ketika dia berhasil menemukan Hiccup di gua yang penuh dengan naga itu, Stoick tidak menyangka akan bertemu dengan istrinya yang dia kira sudah meninggal. Lalu reuni keluarga itu lalu terganggu dengan Drago yang sudah siap untuk menyerang Berk. Seluruh naga di Berk diambil alih oleh Drago karena dia punya naga alpha yang dapat membuat naga-naga lainnya tunduk padanya. Dan pertarungan pun tak terelakkan sampai memakan korban. Selanjutnya mungkin lebih baik nonton sendiri karena nanti saya akan membeberkan seluruh ceritanya disini, padahal filmnya baru nongol Jumat ini.

Selain domba berwajah lugu, saya suka sekali dengan lagu ketika Hiccup terbang di antara awan mengendarai Toothless. Judulnya Where No One Goes, yang dinyanyikan oleh lead vocalist dari Sigur Ros, Jonsi. Awalnya saya mengira kalau itu dinyanyikan Owl City dan sempat dibuat merinding, tapi kalau didengar-dengar lebih detail lagi, itu bukan suara dari Adam Young. Tapi tetap membuat merinding. Lagu yang sungguh indah dan ketika mendengarnya sempat hampir terceplos “natsukashii~~”. Tapi saya tidak akan curhat lagi di post yang ini. Gambar di film ini seperti yang lalu, tampil berwarna-warni dan sungguh indah dipandang mata. Jalan cerita pun, terbangun dengan baik dan saya makin mengenal karakter-karakter penduduk Berk, terutama teman-teman Hiccup kelompok topeng monyet itu yang ternyata sudah beranjak puber. Tidak ada yang membuat ceritanya seakan dibuat-buat seperti kebanyakan sequel yang suka hadir dengan cerita yang tidak penting. Kehadiran dari ibunda yang telah lama hilang membuat tambahan bumbu cerita dan akhir yang tidak selalu happy ending membuatnya menjadi imbang. Saya bukan termasuk orang yang tidak suka happy ending, tapi kalau terlalu sempurna rasanya filmnya malah jadi kurang bagus. Satu lagi yang suka di film ini adalah kepangan rambutnya Astrid. Berkali-kali dalam suatu scene saya hanya berkonsentrasi penuh pada kepangan rambut Astrid, bukan pada percakapannya. Ingin rasanya mencoba gaya kepangan rambut tersebut. Nilai 8.5/10 menurut saya cukup pantas untuk film ini. Jika penasaran ingin melihat bagaimana transformasi Hiccup yang layaknya Neville Longbottom, maka Anda harus menonton film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s