Aku Merasa Telah Dibohongi oleh Disney

Playing on iTunes: Lana del Rey – Once Upon a Dream.

Sebelumnya, biarkan saya curhat terlebih dahulu.

Saya adalah penggemar berat Disney. Saya dibesarkan dengan diiringi lagu, film, dan cerita Disney sampai terkadang suka berkhayal kalau nanti ada prince in shining armor yang datang, atau pun Aladdin yang tiba-tiba datang di balkon kamar. Impian saya adalah berfoto bersama pantat Donal Bebek yang sampai sekarang belum dapat tercapai. Lagu-lagu dari film Disney saya hampir hafal di luar kepala. Dengan latar belakang yang seperti itu, saya merasa terbohongi ketika menonton film keluaran terbaru Disney, Maleficent.

Saya tidak masalah dengan cerita yang diambil dari sudut pandang yang lain, misalnya dari penjahatnya seperti Maleficent ini. Saya juga tidak masalah dengan cerita yang diubah sedikit seperti contohnya Tangled dengan Rapunzel, malahan saya suka sekali dengan Tangled. Ya, mungkin dengan faktor Flynn Rider dan Zachary Levi, tapi ceritanya bagus dan lucu. Paling tidak saya bisa terima dengan Rapunzel versi yang ini. Film Disney terakhir adalah Frozen juga tidak terlalu mengecewakan, walaupun pernah ada yang bilang seperti menonton Glee, tapi buat saya tidak masalah.

Tetapi masalah terbesar muncul ketika saya menonton Maleficent, baru saja hari ini tadi sore di Blitz Grand Indonesia. Tadinya mau menonton Kuroshitsuji, karena ajakan seorang teman yang ingin melihat Mizushima Hiro menjadi pelayan. Kalau saya sih lebih ingin nonton Mogura no Uta: Sennyu Sosakan Reiji karena ada adegan Ikuta Toma hampir telanjang. Eh, kok jadi ada Ikuta Toma? Salah fokus kan, mari kembali ke cerita. Jadi, karena jam tayang berubah ke jam 7 malam dan besok saya harus kembali bekerja, maka diurungkanlah niat sehingga diganti dengan menonton Maleficent. Kabarnya review film tersebut kurang bagus, tapi karena itu film Disney, saya merasa harus tetap menonton walaupun sejelek apa pun itu reviewnya. Saya kira, jelek karena jalan cerita yang kurang terbangun dengan baik karena biasanya review yang saya baca kebanyakan mengkritik jalan ceritanya. Baiklah, saya tetap penasaran dengan cerita tentang Maleficent ini karena saya hanya tahu cerita dari sisi Sleeping Beauty saja.

lead_large

Sampai sepertiga pertama film saya masih menyukai cerita tentang Maleficent yang dulunya peri yang baik, penjaga daerah ajaib seberang daerah kastilnya Princess Aurora, karena memang Aurora belum lahir. Lalu ketika Aurora lahir dan raja mengadakan pesta besar-besaran, Maleficent yang sakit hati karena tidak diundang pesta kelahiran anak dari mantan pacarnya ini, merasa ingin membalas dendam. Lalu datanglah dia ke pesta “akikah” –walaupun tidak ada kambing yang dipotong dalam cerita ini– Princess Aurora dan seperti yang telah diketahui dalam cerita, juga ikut memberikan hadiah kepada Aurora. Lalu disini cerita berubah, di cerita yang lama yang muncul pada tahun 1959, ketika sebelum Merryweather ingin memberikan hadiah pada Aurora, Maleficent muncul dengan sangarnya dan memberikan kutukan jarum pintal yang terkenal itu. Bahwa pada nanti di hari ulang tahunnya yang ke-16, sebelum matahari terbenam, Aurora akan mati karena tertusuk jarum pintal. Tolong digarisbawahi ya, MATI, bukan TERTIDUR. Aurora akan tertidur ketika Merryweather dapat melemahkan kutukan itu walaupun tidak sepenuhnya menghilangkan, dan obat penawarnya adalah True Love’s Kiss. Di cerita yang baru ini, Maleficent menghadiahi Aurora dengan kutukan akan tertidur pulas layaknya mati, lalu ditambahkan dengan True Love’s Kiss sebagai obat penawar kutukan setelah King Stefan, bapaknya Aurora dan mantan pacarnya Maleficent, memohon dengan amat sangat. Lalu disini saya mulai merasa terkhianati. Baiklah kalau begitu, yang penting tetap tertidur selama ratusan tahun itu.

Semakin film berjalan lebih jauh, semakin terasa amat terkhianati hati ini dengan mengetahui kalau di cerita ini Maleficent berperan sangat besar dalam tumbuh kembang Aurora sampai umur 16 tahun. Saya tahu kalau 3 peri yang membawa Aurora waktu kecil itu memang cukup bodoh tanpa sihir, tapi tidak akan sebodoh itu sampai Aurora dapat dijaga oleh Maleficent. Seharusnya Maleficent tidak mengetahui kalau Aurora tinggal di hutan dan berteman dengan hewan-hewan di hutan sampai pada H-1 ulang tahunnya yang ke-16 ketika peri yang menyamar menjadi tante-nya itu bertengkar tentang warna baju yang akan dihadiahi untuk Aurora. Maleficent tidak seharusnya sebaik itu. Saya tidak tahu apakah memang Maleficent sampai pada keinginan untuk ingin mencabut kutukannya itu, tapi tidak dengan Aurora yang menjadi dekat dengan Maleficent.Maleficent-Dream-Trailer-2014

Aurora memang bertemu dengan Phillip pada H-1 ulang tahunnya yang ke-16 itu dan terlihat saling jatuh cinta. Setelah itu Aurora kembali ke kastil dan seperti terhipnotis pergi ke tempat dimana jarum pintal itu berada, lalu jarinya tertusuk jarum sebagaimana telah dikutuk sebelumnya. Lalu diceritakan di cerita yang lalu bahwa peri-peri itu juga ikut menyihir seluruh kerajaan agar ikut tertidur, dan membangun pagar berduri yang melindungi kastil tersebut. Hingga akhirnya Phillip datang dan mengangkat kutukan tersebut. Fatal kesalahan Disney ketika hal seperti itu tidak terjadi dan yang berhasil membangunkan Aurora dari tidur panjang adalah bukan Phillip. Pada saat itu ingin kulempar layar bioskop dan berteriak “JANGAN RUSAK MASA KECILKU!!!” sekencang-kencangnya. Saya tidak masalah dengan sedikit modifikasi, tapi tidak dengan modifikasi inti dari cerita. Dalam peribahasa katanya “seperti menjilat ludah sendiri”. Kemanakah Disney yang dulu yang dapat membangun khayalan indah tentang keberadaan prince charming?

Sehabis menonton, saya yakin kalau film ini dari awal sudah gagal. Maleficent adalah jahat dan seterusnya akan jahat. Kenapa dia bisa jahat itulah yang kutunggu untuk dapat diceritakan. Menurut saya, yang bagus dari film ini adalah makeup Angelina Jolie, komputer grafis, dan suara Lana del Rey di credit title terakhir dengan lagu klasik Sleeping Beauty, Once Upon a Dream. Seperti film Disney lainnya, selalu ada moral yang dapat diambil dari ceritanya. Untuk film ini moralnya adalah: Jika pacarmu berkhianat dan menikahi orang lain, maka kutuklah anaknya. Bukan, saya bukan curhat colongan disini, tapi menurut saya itu adalah inti dari film Maleficent ini. Walaupun terkadang ada perasaan ingin mengutuk yang sudah membuat saya sakit hati. Nah kan, malah jadi curhat beneran. Anyway, saya tidak suka film ini dari lubuk hati yang paling dalam. Nilainya hanya 3.5/10 dengan 3 poin untuk 3 hal yang bagus dari film ini yang sudah saya jabarkan sebelumnya, dan 0.5 untuk pesan moral yang cukup unik. Saran terakhir dari saya, jika Anda adalah penggemar fanatik Disney, lebih baik tidak usah menghabiskan waktu dan uang untuk film ini.

3 thoughts on “Aku Merasa Telah Dibohongi oleh Disney

  1. …tapi undercover agent reiji kyknya belum beredar di jaringan bioskop indonesia :((
    Nyari torrentnya pun belum ada. Nonton aja dulu itu maleficent, sapa tau suka.

  2. Pingback: 黒執事: The Black Butler | Scratch Paper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s