Katana dan Sumpit

Entah sudah berapa lama saya selalu terkesima dengan samurai. Mungkin sejak Samurai X ditayangkan di salah satu stasiun televisi, jaman dahulu kala, ketika saya masih SD atau SMP. Sampai sekarang saya selalu terkesima melihat kombinasi hakama dan katana walaupun itu hanya di dalam komik, anime atau pun film layar lebar. Bahkan ketika saya mencoba untuk ikut kelas Jujitsu di kantor, saya membayangkan layaknya samurai-samurai yang ada di dalam cerita-cerita tersebut. Salah satu komik yang selalu saya baca berulang-ulang pun adalah Rurouni Kenshin dan Onime no Kyo, dua-duanya menceritakan tentang samurai. Ketika Rurouni Kenshin menceritakan akhir dari samurai maka Kyo menceritakan tentang masa kejayaan samurai pada zaman setelah perang Sekigahara dimana shogun tokugawa mulai memerintah Jepang. Saya jika ditanya tentang sejarah Indonesia mungkin kurang begitu tahu, mungkin hanya sebatas perang Diponegoro yang berlangsung dari 1825-1830. Sedangkan saya juga cukup tahu sejarah bangsa lain. Malu aku jadi orang Indonesia, begitu katanya Taufiq Ismail.

Akhir-akhir ini saya kembali senang menonton J-Dorama. Kebanyakan genrenya tentang detektif atau pun komedi di sekolah. Agak malas rasanya jika harus menonton drama yang menguras air mata. Sudah cukup rasanya saya menguras air mata. Ah, saya malah jadi curhat. Kembali ke permbicaraan, saya lebih suka menonton J-Dorama karena episode-nya tidak terlalu banyak, tidak sebanyak drama korea atau pun sinetron Indonesia. Ketika ada channel baru di tivi berbayar berjudul WakuWaku Japan, saya menemukan ada satu dorama yang cukup unik. Namanya Solitary Gourmet atau dalam bahasa aslinya Kodoku no Gurume. 

Kodoku no Gurume menceritakan tentang seorang pengusaha bernama Inogashira Goro yang senang untuk mencoba makanan yang menurutnya dapat memuaskan keinginan perut ketika lapar. Dia menganggap jika dapat mendapatkan makanan yang sesuai dengan yang diinginkan, maka itu merupakan sebuah kebebasan tersendiri. Begitu menonton film tersebut, saya merasa film tersebut cukup mencerminkan apa yang sering saya lakukan dan saya setuju dengan apa yang dimaksudkan dari drama tersebut. Satu episode berdurasi sekitar 30 menit, tidak terlalu lama dan seringkali berkisar tentang kegiatan sehari-hari Inogashira-san sebagai pengusaha lalu diikuti dengan petualangannya dia mencoba makanan di berbagai tempat. 

Saran dari saya ketika menonton drama ini jangan di malam hari ketika perut kosong. Walaupun drama ini kebanyakan monolog dari suara hati Inogashira-san, tetapi efek dari ketika dia mencicipi makanan dengan raut wajah yang begitu damai sungguh membuat lidah merasakan kalau makanan yang dia makan begitu enak. Pertama kali saya menonton drama ini jam 10.30 malam dan akhirnya pada jam 11 malam saya membuat mie instan. Makanan yang ditampilkan kebanyakan adalah makanan rumahan atau pun yang biasa ditemukan di pinggir jalan di Jepang, temasuk makanan yang terlihat humble tapi sepertinya sungguh enak. Ya mirip kalau kita bisa menemukan warung tenda atau pun warung nasi yang enak, entah itu nasi padang ataupun warung tegal.

Sifat saya yang seringkali merasa selalu mendapatkan solitary ketika berjalan-jalan sendiri seperti tergambarkan di film tersebut. Cukup banyak yang menilai saya aneh dengan apa yang termasuk cukup sering saya lakukan ini. Saya sering nonton sendiri, mencoba makanan baru sendiri atau pun hanya berjalan-jalan saja. Bukan merupakan saya tidak suka bersama-sama dengan orang lain, melainkan ada kalanya justru dengan sendiri itu saya dapat menemukan solitary. Kurang mengerti juga dengan bahasa solitary, tapi kadang-kadang ada beberapa kegiatan yang saya lebih nyaman untuk dilakukan sendiri. Bukan berarti saya sociopath, atau memang iya? Ah tapi seorang sociopath tidak akan menyadari kalau dirinya sociopath. 

Anyway, tak ada rating untuk setiap film seri yang saya tonton, karena hanya sebagai pengisi waktu semata, tontonan ringan ketika di menunggu kereta atau pun di dalam kereta. Tapi jika Anda merupakan orang yang suka makan, mungkin tidak ada salahnya menonton film ini.

One thought on “Katana dan Sumpit

  1. saya suka sekali tokoh inogashira san dalam film ini,bukan dari hoby nya saja tapi dari kepribadiannya..
    waktu hati kacau dan tak tentu arah,lihat wajah goro inogashira bikin tentram di hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s