[Review] The Raid 2: Berandal

Finally, sequelnya The Raid keluar. Sejujurnya saya hampir nekat nonton advanced screening-nya di salah satu bioskop di Ibukota yang juga menampilkan tanya jawab dengan sang sutradara, namun apa daya, acaranya baru dimulai jam 10 malam. Anyway, karena film ini cukup memiliki kesan yang cukup bagus untuk film pertama, tentu saja saya cukup berharap film keduanya juga akan sebaik film pertama. Tidak selamanya sebuah sequel itu jelek, bahkan menurut saya Catching Fire lebih bagus daripada Hunger Games. Tetapi kembali ke preferensi masing-masing orang, review tentang The Raid 2 ini juga dilihat dari subyektifitas saya.

images

—- WARNING, SPOILERS AHEAD. YOU HAVE BEEN WARNED —–

The Raid 2: Berandal konon dikisahkan beberapa jam setelah film sebelumnya berakhir. Dimana jagoan kita, Rama (Iko Uwais), menyerahkan si polisi korup itu ke atasannya dan berakhir dengan tawaran untuk bergabung untuk bekerja undercover untuk menangkap kriminal kelas kakap yang lebih besar lagi.

Singkat cerita, Rama bersedia untuk bekerja undercover yang mengharuskan dia ditangkap dan masuk penjara. Setting penjara sangat kental dengan rasa Prison Break atau any State Penitentiary yang biasa saya lihat di film serial asing. Di penjara dia mendapatkan perhatian karena dianggap cukup kuat dan berteman dengan anak si bos koruptor ini. Kejadian sehari-hari yang penuh dengan berantem dan tembak-tembakan membuat saya cukup bahagia. Walaupun memang alur agak lambat di 45 menit pertama, yang mungkin ingin menjelaskan tentang karakter-karakter yang terlibat di film ini.

Seperti layaknya film indonesia lainnya, saya bersikap cukup kritis walaupun tetap ada beberapa bagian yang dapat ditoleransi. Ya mengingat juga sang sutradara yang merangkap sebagai writer bukan bertanah air di Indonesia, tetapi karena production house-nya dan beberapa aktornya adalah yang biasa main di production house Indonesia tersebut. Anyway lanjut ke cerita, ternyata si bos itu punya saingan, dari jepang. Model the Godfather gitu lah atau keluarganya Romeo & Juliet yang saling menguasai satu bagian di kota. Lalu ada pula yang berusaha untuk mengambil alih seluruh kekuasaan dari mereka semua. Cerita klasik tapi tetep manjur.

Sekarang mulailah saya berkomentar tentang film tersebut. Ada beberapa scene yang menurut saya cukup terngiang-ngiang sampai sekarang. Termasuk salah satunya adalah kehadiran salju (yes, the real snow) ketika perkelahian antara Prakoso (Yayan Ruhian — He got himself a brand new role) dengan anak buah si jepang itu. Jujur saya cukup kaget dengan kehadiran cuaca yang aneh tersebut. Komentar saya pertama kali: “What the? Salju? Belah mananya Jakarta ini?” yang berlanjut dengan pemikiran “Ah, mungkin hanya kiasan atau khayalan semata. Atau bukan di Jakarta kali nih.” Lalu ketika kembali meyakinkan diri kalau itu bukan di Jakarta, seketika keyakinan itu hancur ketika melihat gerobak Lomie Ayam. Jujur, sampai sekarang gw masih misuh-misuh dengan keberadaan salju dan gerobak lomie ayam, tapi temen gw bilang itu adalah scene yang sangat epic.

Sutradaranya bilang, dia menyukai adegan darah yang mengalir di salju. Saya pun demikian, karena kesannya seperti samurai-samurai yang mati terhormat di peperangan, tapi tolong gerobak lomie ayam disingkirkan terlebih dahulu.

Lalu ada pula scene dimana ada sesosok orang yang berperawakan mirip dengan Bapak Presiden duduk menengahi kedua belah pihak yang berselisih tersebut. Lengkap dengan baju beskapnya yang khas itu, gaya bicara “Saya prihatin” dengan gestur tangan naik turun, atau pun rambutnya yang seperti bapaknya Nobita. Saya ngakak tak terkira dan bertepuk tangan ketika scene tersebut. Sungguhlah suatu metafora yang sangat indah, dimana seorang pemimpin di negara yang sudah terlanjur bobrok ini, mengetahui dan membiarkan korupsi merajalela di ibukotanya, atas seizinnya. Sungguh sangat mencerminkan atas apa yang mungkin sebenarnya terjadi.

The-Raid-2-Berandal-Hammer-Girl-Julie-Estelle-and-Baseball-Bat-Man-Very-Tri-Yulisman

Penambahan karakter Hammer Girl dan Baseball Bat Boy juga membuat adegan berantem lebih bervariasi. Asik loh bisa ngerobek leher orang pake martil, udah bukan jamannya lagi pake golok. Dan pertarungan terakhir di dalam dapur dengan seseorang pembunuh tak bernama (Cecep Arif Rahman) itu yang paling epic. Kalau menurut saya jauh lebih epic daripada pertarungan Rama dengan Mad Dog. Mungkin karena settingnya yang di dapur, yang notabene banyak sekali perangkat yang dapat digunakan sebagai alat bantu berkelahi, juga karena di sini pertarungan tampak seperti menari. Sungguh membuat menahan nafas dan ketika pertarungan sedang break, kita bisa sedikit mencuri mengambil nafas dan kembali menahan nafas ketika berbotol-botol wine pecah.

Komen terakhir, Sarabande merupakan lagu yang pas untuk masalah gorok menggorok leher orang, entah itu aransemen versi Haendel atau pun Bach. Untuk film ini, saya beri 7.5/10. Mungkin, jika salju itu hadir tanpa gerobak lomie ayam mungkin akan lebih baik lagi. Namun saya sejak saat ini selalu percaya jikalau ada salju turun di suatu daerah di Jakarta, mungkin saja karena di daerah itu ada yang berjualan lomie ayam.

2 thoughts on “[Review] The Raid 2: Berandal

  1. cuma ngasih tau itu pas setting salju syutingnya bukan di jakarta , tapi di bandung , tapi tetep aja di bandung tidak ada salju melainkan hanya hujan es saja . itu pun kadang2

  2. terlepas dari dimana mereka syuting, tetap saja di Indonesia yg ga mungkin ada salju kecuali di puncak jayawijaya. Menurut sutradaranya sih itu merupakan sebuah dunia imajinasi, mungkin juga kalau begitu lebih bisa diterima akal manusia indonesia.

    Tetap saya geli dg penampakan gerobak lomie ayam :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s