[Review] Divergent

Image

Posternya aja udh kyk Twilight.

Actually, I should’ve posted this review since 3 days ago.

Saya sebenarnya paling tidak suka kalau ada film yang diadaptasi dari sebuah cerita dan ternyata aktris dan aktornya tidak dapat memerankan dengan seperti yang dibuku, atau lebih parah, aktor dan aktrisnya ternyata berbeda dari apa yang dibayangkan. Hal ini terjadi pada Divergent. Saya sudah baca novelnya, seluruh seriesnya, sampai tamat. Saya sudah merendahkan ekspektasi saya terhadap filmnya. Namun tetap saja saya kecewa.

Film Divergent diangkat dari sebuah novel berjudul serupa bertema distopia yang bercerita tentang adanya kelompok-kelompok (atau di cerita ini mereka menyebutnya Faction — Faksi) dalam kehidupan bermasyarakat di suatu negara / kota yang dipercaya dengan adanya kelompok-kelompok tersebut, kehidupan bermasyarakat akan sempurna. Adalah Abnegation, Erudite, Candor, Dauntless dan Amity nama kelompok-kelompok tersebut. Seseorang berhak untuk memilih faksi mereka ketika sudah berumur 18 tahun, setelah sebelumnya diadakan tes untuk melihat kecenderungan orang tersebut ada di faksi yang mana. Biasanya, seseorang akan memilih berada di faksi dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Tapi tidak bagi Tris (Beatrice) dan kakaknya, Caleb. Mereka terlahir sebagai Abnegation dan ketika Upacara Pemilihan, Caleb memilih Erudite dan Tris memilih Dauntless sebagai faksi mereka. Dan cerita berlanjut dengan kehidupan Tris di Dauntless.

Konflik hadir ketika ternyata terkuak bahwa selama ini Kelompok Erudite (mereka bekerja sebagai peneliti atau kelompok yang senang belajar), tidak menyukai dengan aturan bahwa Abnegation yang menjalankan pemerintahan. Oh, kembali ke penjelasan tentang Divergent, hal itu adalah ketika tes dilakukan, seseorang mendapatkan hasil yang lebih dari dua yang artinya orang tersebut memiliki sifat dan kecenderungan untuk di 3 dan lebih kelompok. Dan pemeran utama kita disini, Tris, adalah seorang divergent yang dibilang memiliki kelainan dan harus menyembunyikan kelainannya itu sehingga tidak diburu oleh yang tidak menginginkan kehadiran divergent di dunia ini. Tebak siapa… Erudite. Dalam cerita, divergent haruslah dibasmi karena dianggap akan merusak tatanan masyarakat yang telah dibentuk dan dipercaya untuk kesempurnaan hidup. Lalu Erudite merencanakan kudeta dan perang sehingga muncul lah perang.

Apa yang saya tidak suka dari film ini adalah casting untuk Tris (Shailene Woodley) yang ternyata cukup tinggi, pokoknya berbadan cukup terlatih. Sedangkan diceritakan di dalam buku kalau Tris adalah seorang yang kecil, pendek dan tidak cukup terlatih. Sebaliknya, yang seharusnya tinggi adalah teman baiknya, Christina. Four (Theo James), mentor di Dauntless, yang diceritakan berumur 22 tahun, terlihat seperti berumur 25 tahun lebih. Dari sisi film, dengan durasi 2.5jam memang sudah cukup panjang, namun, harusnya dapat memberikan cerita dengan lebih baik. Sangat disayangkan ada beberapa part yang dihilangkan, digantikan dengan cerita yang lain tapi dengan maksud yang sama, tapi menurut saya hal tersebut malah membuat film menjadi kurang menarik.

Bagi saya, jujur, film tersebut terasa membosankan. Mungkin karena saya sudah membaca bukunya terlebih dahulu. Ada sisi bagusnya, ketika adegan perang-perangan antar sesama anak baru di taman ria yang sudah terbengkalai, tapi tetap tidak seseru apa yang ada di dalam buku. Mungkin akting dari Shailene kurang mendalami karakter Tris, atau mungkin detail yang dilewatkan, atau mungkin saya sudah memiliki imajinasi sebelumnya sehingga apa yang saya lihat ketika tidak sesuai dengan imajinasi akan langsung dianggap tidak sesuai.

Apa pun itu, filmnya terasa monoton seperti kurang membangun rasa berada di dalam dunia distopia yang sebenarnya. Hal tersebut kurang tersampaikan kepada penonton. Tidak seperti Hunger Games atau pun seperti… film apa tuh yang ada Tilda Swinton dan Chris Evans? yang di dalam kereta? Ah saya lupa. Sepertinya terlalu banyak diceritakan sisi romantis-nya, padahal sebenarnya Four lebih sering mengejek Tris karena dia lebih suka berkata dan berlaku jujur.

Anyway, sudah banyak yang saya lupa ketika menonton film ini, karena saya menganggap film ini adalah film biasa untuk remaja. Membosankan. Akhir kata, 3/10 utk film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s