Reality Show Politik

Dalam satu bulan terakhir ini yang paling santer dibahas media adalah mengenai kasus Bank Century dan keterkaitannya dengan bapak presiden tercinta, bapak wakil presiden dan ibu menteri keuangan. Setelah adanya berita itu, mulai berkembang wacana dimana akan ada pemakzulan (jujur, gua ga ngerti ini artinya apaan) yang setelah saya googling memiliki nama lain impeachment — Nah, kalau ini gua tau artinya.

Anyway, sebelum mencuatnya wacana tersebut di tengah publik, akhirnya banyak rakyat Indonesia yang merasa salah pilih pemimpin waktu pemilu kemarin. Mereka-mereka yang merasa dibohongi dan dibodohi itu akhirnya berunjuk rasa besar-besaran tepat pada genap 100 hari masa pemerintahan. Ada 3 hal yang saya perhatikan dan bikin penasaran; pertama, mereka berunjuk rasa karena merasa dibodohi oleh si calom pemimpin. In my very humble opinion, apakah dulu sebelum pemilu mereka sudah mencari tahu dengan lengkap siapa sebenarnya yang akan mereka pilih? Sepertinya slogan LANJUTGAN dari si calon presiden cukup kena di masyarakat dengan catatan pada masa pemerintahan sebelumnya si calon presiden ini notabene bisa memikat hati rakyat dengan program-programnya yang cukup mendapat pujian. Am I saying kalau yang mau memilih itu bodoh? Oh tentu tidak, itu masalah mereka yang tidak puas. Kalau saya sih tidak memilih pada waktu itu, yang memilih justru keponakan saya yang masih berusia 5 tahun (saya membawa dia ke dalam bilik suara dan menyuruh dia mencoblos calon mana saja yang dia suka).

Kedua: Apakah pada masa pemerintahan yang pertamanya si presiden terpilih ini memang berniat untuk jadi presiden lagi, sehingga dia rela mengambil hati rakyat dengan program-programnya yang cukup menarik dan gambaran kalau dirinya adalah sosok yang ditindas, padahal dia mempunyai rencana besar karena masa pemerintahan cuma boleh 2 kali. Jadinya wajar aja kan kalau dia memaksimalkan usaha untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Talk about dana kampanye yang sampe bermilyar-milyar, kalau dipikir-pikir wajar juga dia mau balik modal. Yah, tapi ga sampe 6,7 milyar juga kali (eh bener milyar ya? Apa triliun?).

dan ketiga: Ada yang menjadi penggerak unjuk rasa kemarin ini. Mungkin barisan sakit hati? Ya mungkin saja, mengingat muncul organisasi masyarakat baru yang juga berwarna biru dengan niat tujuan merangkul orang-orang yang sudah disakiti hatinya oleh si bapak presiden.

Masih ingat postingan saya sebelum ini yang tentang presiden bikin press conference tentang RENCANA BESAR PENEMBAKAN PRESIDEN dan disiarkan langsung di televisi yang notabene bikin saya ngakak? Nah, masih seputar kebiasaan ajaib si presiden ini selain senang cari perhatian dari rakyatnya dan kampanye produk mie instan, yaitu mengadu. Beda tipis sih mengadu dengan cari perhatian, tapi hal itu adalah sah dan wajar kalau dilakukan oleh anak kecil, mungkin 7 tahun. Tapi kalau untuk ukuran orang dewasa dan orang itu adalah presiden, I don’t think so. Pak’e, kenapa ga sekalian aja bikin account facebook dan twitter, trus ngeluh-ngeluh disitu. Dan mohon jangan membentuk pansus untuk membahas tentang peraturan baru yang ga penting. Kalau Luna Maya dan Prita bisa terkena efek dari undang-undang ITE, seharusnya bapak presiden juga bisa kena dong. Tapi ya sekali lagi dengan catatan, undang-undang itu berlaku untuk semua orang dan presiden adalah bukan seseorang yang kebal hukum. Eh presiden ga kebal hukum kan?

Anyway, si bapak presiden berkomentar tentang unjuk rasa yang berlangsung tanggal 28 Januari kemarin. Katanya caranya salah dengan berteriak-teriak menyebut kalau dirinya dan wakilnya adalah maling. Oke, Pak, kalau bawa kerbau di jalan mungkin agak kurang etis juga kali yah. Lagian yang saya concern dalam urusan pe-kerbau-an itu bukan analogi kerbau sebagai bapak, tapi lebih ke kasihan si kerbaunya diajak unjuk rasa seperti itu. Tapi kalau urusan teriak-teriak maling itu saya kira wajar-wajar saja kok. Gini ya Pak, bukannya saya mencela, tapi boleh dong seorang presiden di kritik. Katanya negara demokrasi, kok di kritik seperti itu langsung bikin rapat kerja untuk membahas tata cara unjuk rasa. Kalau begini terus sih bapak tidak ada bedanya dengan almarhum engkong jenderal yang memerintah negeri ini selama 3 dekade.

Konon katanya si bapak presiden ini takut dengan media massa ataupun segala macam yang berhubungan dengan orang banyak. Ya cukup kelihatan sih, sepertinya beliau ini trauma dengan kejadian pendahulunya yang digulingkan oleh mahasiswa. Tapi yang saya lebih heran lagi yah, kenapa tiap ada kejadian yang membahayakan dirinya, dia selalu mengadu ke publik? Jujur ya, kalau saya sih sama sekali tidak merasa simpati. Ingat postingan saya yang dulu? Saya malah ngakak abis-abisan waktu beliau ini menunjukkan foto dirinya yang dijadikan sasaran tembak. In my very very very humble opinion, beliau ini seorang jenderal TNI seharusnya tidak takut pada hal-hal seperti itu dan juga tidak menakuti rakyatnya dengan cerita seperti itu.

Curhat sih tidak masalah yah, tapi kalau curhatnya di media massa, lalu setelah itu dia bereaksi dengan membentuk pansus untuk masalahnya dia artinya mah lebay. Analoginya gini, misalnya itu sama aja kayak orang yang ikut acara reality show demi dicarikan mantan pacarnya yang katanya selingkuh dengan teman masa kecilnya. Kalau saran saya sih, lebih baik si bapak presiden ini juga ikutan acara reality show tersebut, soalnya mahal kalau harus bikin pansus lagi, udah gitu masalahnya belum tentu ada solusinya lagi. Anyway, selagi menunggu tim reality show mencari solusi dari masalahnya, bagaimana kalau si bapak Presiden mulai brainstorming untuk album ketiga? Btw, album keduanya baru keluar januari kemaren, ketika masalah kasus bank century lagi hangat-hangatnya dan belum selesai.

How’s that Mr. President?

One thought on “Reality Show Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s