[Review] Merah Putih: Trilogi Merdeka

Ambisius. Itu komentar pertama saya ketika selesai menonton film yang katanya merupakan trilogi ini. Bagaimana tidak, dana yang dihabiskan saja sebesar 60 milyar rupiah dan dana itu sebagian besar hanya untuk membayar ongkos sewa para sineas profesional yang didatangkan langsung dari Hollywood. Tapi saya hanya bisa mengulum senyum mengingat siapa sebenarnya executive producer dari film ini.

Merah Putih adalah film yang mengangkat perang di Indonesia ketika Belanda melakukan agresi militer dua tahun setelah Pak Karno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Film berdurasi sekitar 2 jam ini menampilakn deretan aktor-aktor kawakan Indonesia seperti Lukman Sardi dan Darius Sinathrya. Ceritanya tentang sekumpulan pemuda dari berbagai latar belakang yang mengikuti sekolah militer untuk berperang melawan Belanda yang kembali ingin merasakan kejayaan ketika menjajah Indonesia. Para pemuda tersebut harus menghadapi konflik di antara mereka sendiri sebelum harus bersatu dan bertempur melawan musuh yang sesungguhnya: Belanda.

Kedengarannya keren, indah dan merupakan angin segar bagi perfilman Indonesia yang selama ini selalu diinvasi oleh hantu dan wanita setengah telanjang. Namun film ini tidak seindah kedengarannya. Skenario yang ditulis oleh Bapak-Anak bule menjadi salah satu kenapa saya menganggap film ini biasa-biasa saja. Pernah nonton Saving Private Ryan atau Patriot? Coba bayangkan kalau dialognya diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia. Nah, seperti itulah rasanya menonton Merah Putih. Pernah mendengar dialog “Did u miss me?” ketika salah seorang tentara menyelamatkan temannya di saat kritis? Klise ya. Nah sayangnya dialog ini juga muncul di film Merah Putih, diterjemahkan dengan baik dan benar ke dalam bahasa Indonesia namun diucapkan oleh seorang pemuda Bali berwajah garang: “Merindukan aku?”

OH TIDAK!! *Saya berteriak sambil memegang kepala*

Banyak adegan di film Merah Putih yang mengingatkan saya pada film perang ala Hollywood dan salah satunya adalah scene dansa-dansi para tentara dengan istri atau wanita mereka. Mungkin memang pas kalau yang tampil muka-muka kulit putih, namun kalau yang dansa berwajah petani ayam? Duh, lebih baik nonton pertunjukan wayang saja daripada dansa-dansi. Film ini menjadi membosankan di mata saya mulai ketika adegan ini muncul.

Mengenai jalan cerita, kembali saya merasa seperti dibodoh-bodohi. Seorang Letnan tanpa pengalaman berperang normalnya tidak akan lebih pintar dalam hal strategi dibandingkan seorang komandan yang sudah malang melintang di berbagai peperangan. Namun sayangnya hanya karena ego dan rasa nasionalisme yang berlebihan komandan tersebut mati ditembak Belanda. Sepertinya di kehidupan nyata hal itu susah terwujudkan. Lalu, film trilogi dimaksudkan untuk ada sekuelnya dan diharapkan sekuelnya dapat menjawab pertanyaan para penonton di akhir film pertama. Namun yang saya lihat begini: ketika film berakhir, kenapa saya dengan mudah dapat menebak apa yang akan terjadi di film selanjutnya yah? Dengan itu apakah Anda bersedia menonton lanjutan dari film tersebut? Kalau saya pribadi sih akan menonton kalau sempat saja, toh saya juga sudah bisa menebak kelanjutannya.

Mengenai efek ledakan, saya benar-benar salut dengan para profesional Hollywood. Ledakan dan tembakan yang terjadi benar-benar seperti yang sering saya lihat di film-film keluaran Hollywood. Mantap. Sungguh berbeda dengan ledakan ala Saras 008 di film Indonesia. Namun, apa pula itu ledakan di truk menjelang akhir cerita? Bikin berisik aja.

Oh iya, saya masih ingat bloopers di film ini. Mayat-mayat petani yang bergelimpangan ternyata masih hidup. Coba perhatikan, ada perutnya naik-turun loh, layaknya orang tidur. Saya ngakak pas melihatnya.

Secara keseluruhan, kalau Anda ingin melihat efek ledakan ala Saving Private Ryan berdampingan dengan muka ala Lukman Sardi, film ini boleh dijadikan pilihan. Nilainya 7/10 aja yah. Nilai segitu karena idenya cukup baru ditengah kesuraman film Indonesia, akting pemain yang lumayan dan efek ledakan yang menawan.

6 thoughts on “[Review] Merah Putih: Trilogi Merdeka

  1. Setuju! Setuju! Setuju! “Sepertinya sekarang giliran saya” (ini diucapkan Marius waktu ‘mengambil alih’ pasangan dansa Thomas), adalah satu dari sekian kalimat yang bikin saya ‘sebal’ sama Hollywood….

  2. BTW, udah nonton Cin(T)a, belum? Katanya mo direview juga. Saya sih belum nonton, ga tertarik. Tapi kalo kamu review, kali aja saya jadi pengen nonton….😀

  3. udah tp reviewnya br draft krn saya sempet sakit kmrn2 ini. mungkin malem ini atau besok kali yah, soalnya klo kelamaan rasanya basi jg =p

  4. Ul. Saya baru sadar bahwa Uul berbakat jadi reviewer film. Review-nya bagus, Ul. Cuma…ada yang nggak setuju satu nih. Posisi film hantu koq terasa jadi terpojok ya ? Itu kan kesukaanku… hahahaha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s