[Review] G.I. Joe: The Rise of Cobra

Apa sih yang bs diharapin dari film yang dibuat berdasarkan karakter komik ataupun action figure? Bahkan sampe sekarang Transformers: Revenge of the Fallen masih saya anggap biasa-biasa saja, walaupun saya sudah dua kali menontonnya. Kali ini saya berbicara mengenai GI Joe: The Rise of Cobra yang tayang perdana hari ini dan baru saya tonton tadi sore. Saya awalnya menyinggung Transformers karena GI Joe juga dibuat berdasarkan karakter yang sama-sama dikeluarkan oleh Hasbro. Kalau Transformers bisa menarik sangat banyak penonton, bagaimana dengan GI Joe?

Hanya satu kata yang bisa saya ungkapkan ketika film ini berakhir: typical. Masih ingat pendapat saya tentang Wolverine beberapa waktu yang lalu? Nah, film ini setipe dengan Wolverine. Teman-teman saya bilang kalau film ini bagus, Channing Tatum ganteng, atau apa lah. Tapi bagi saya satu-satunya yang bagus di film ini adalah motor yang dinaiki Duke ketika adegan pemakaman. Titik.

Sebenarnya tidak banyak jg yang bs dibahas dari film ini, selain jalan cerita yang gitu-gitu aja, computer graphic dr film ini juga buruk. Silahkan bilang saya sombong atau apapun, tapi tipe computer graphic seperti film itu saya jamin juga bs dibuat oleh teman-teman saya. Kenapa saya bisa bilang buruk? Aduh, tolong itu perhatiin yah waktu nonton, pas bagian pesawat-pesawatnya, itu keliatan banget animasinya. Mbok ya kalo bikin tuh dibuat se-nyata mungkin. Maksud saya, production house segede paramount dan spyglass pasti punya budget cukup lah untuk nyewa animator profesional.

Dan lagi masalah susahnya menemukan review yang bagus tentang film ini di internet. Saya biasa muter-muter di Rotten Tomatoes kalau mau nonton film, dan untuk film ini review yang berkualitas sangat susah dicari. Ternyata masalahnya apa sodara-sodara, film ini tidak mengadakan advance screening untuk para kritikus. Well, mungkin udah nyadar kali ya kalau filmnya itu jelek?

Berapa saya kasih nilai untuk GI Joe: The Rise of Cobra? 4/10. Sadis? Well, rottentomatoes gives 39% up until now. Alasannya yang paling utama adalah computer graphic yang sungguh sangat buruk, rottentomatoes bilang sebagai inconsistent visual effect dan reviewer kawakan yang paling saya puja, Roger Ebert, menyebutnya sebagai incomprehensible wall-to-wall computer-generated special effects. Jalan cerita yang dangkal dan adegan yang berisik (penuh dengan tembakan dan ledakan) juga menjadi salah satu alasan. Ada beberapa adegan yang perlu dihilangkan, dan beberapa penjelasan pd adegan lainnya.

Pada akhirnya saya lebih memilih Transformers 2 daripada film ini. Biarpun Roger Ebert lebih menyukai film ini, tapi saya lebih memilih Transformers 2 karena grafik computernya lebih bagus. Kesamaan film ini? Sama-sama menghabiskan slot studio di bioskop tapi sayang, hanya anak kecil yang tergila-gila dengan mainannya saja yang mampu untuk menikmati.

2 thoughts on “[Review] G.I. Joe: The Rise of Cobra

  1. Tempo hari pengen nonton nih film. Tapi karena ada Merah Putih juga, saya milih MP. Hasilnya, saya agak kecewa dengan MP. Tapi setelah baca review di atas, saya jadi mikir sendiri : jangan2 keputusan saya emang udah tepat? Gimana nih?

  2. mending ntn district-9 aja, mas. saya blm ntn sih, tp penasaran soalnya byk yg bilang bagus. ceritanya itu yg beda dr film holiwud lain yg ngangkat tema alien2an.

    ah iya MP blm kelar reviewnya. Gara2 saya sakit jdnya blm smpt nyentuh2 blog lg. Dobel deh ntar postingnya, skalian Cin(T)a.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s