[Review] Merantau

Courtesy: twitchfilm.net

Courtesy: twitchfilm.net

Bisa dibilang saya cukup antusias menulis review film ini. Setelah semangat utk menulis Harry Potter terkuburkan oleh Bom Kuningan sedangkan Public Enemies dan Up merupakan film luar yang bisa dibilang kualitasnya cukup menjanjikan dan pasti ditonton banyak orang, maka lebih baik saya memperkenalkan satu film laga terbaru Indonesia berjudul MERANTAU. Lupakan produser India yang selalu beorientasi pada uang bukan kualitas film dan hobinya merilis film hantu setengah bokep. Lupakan rumah produksi kacangan dengan aktor dan aktris yang aktingnya pas-pasan sehingga lebih cocok merilis sinetron daripada film layar lebar. Pecinta film di Indonesia akhirnya mendapatkan apa yang sudah dinanti-nanti semenjak Barry Prima bertarung dengan gagahnya di era 70an.

Perkenalkan, Iko Uwais yang berperan sebagai Yuda sekaligus aktor utama dalam film ini. Yuda adalah pemuda minangkabau yang menjalani adat dengan pergi merantau ke kota besar dengan harapan untuk mendapatkan pelajaran sehingga dapat tumbuh menjadi lelaki yang seutuhnya. Sesampainya di kota (Jakarta), Yuda menemukan bahwa hidup di kota tidak semudah yang dia kira. Kerasnya hidup ditemukan dari berbagai peristiwa yang dialaminya seperti dicopet oleh anak berandalan bernama Adit (Yusuf Aulia), bertemu dengan Astri (Sisca Jessica) yang seorang penari klab dan mengalami masalah dengan Johni (Alex Abbad) si pemilik klab malam.

Nuansa Indonesia amat terasa di film ini walaupun yang menjadi penulis skenario dan sutradara adalah orang bule. Indahnya alam Sumatra terekam jelas ketika perjalanan Yuda menuju Jakarta. Percakapan Yuda dengan ibu dan kakaknya juga dalam logat minang asli sehingga saya yang bukan orang minang harus berusaha keras mendengar karena terkadang percakapan kurang jelas terdengar. Untungnya subtitle dalam bhs Inggris ikut menemani sehingga saya masih dapat mengikuti jalan cerita.

Bagi yang ingin menyaksikan adegan silat dengan tempo cepat mungkin harus bersabar karena adegan itu baru ada setelah hampir satu jam menonton. Awal film ini memang agak lambat karena drama yang mendominasi. Tapi jangan takut tertidur karena mulai tengah-tengah film tempo menjadi cepat sehingga saya hampir tidak mampu untuk berkedip. Namun ada beberapa adegan yang memaksa saya untuk menutup mata karena tulang saya ngilu kalau harus melihat darah berceceran ataupun adegan sadis.

Mengenai gaya silat, banyak yang merefleksikan Iko dengan Tony Jaa-nya Ong Bak. Saya belum pernah mengenal Tony Jaa tapi menurut saya gaya berkelahi Iko sungguh luar biasa. Mungkin ada beberapa adegan yang mengingatkan saya pada Jackie Chan, Jet Li, Chow Yun Fat, Steven Seagal ataupun sang legenda Bruce Lee, tapi ini adalah silat gaya harimau asli Minangkabau. Selain itu teknik kamera yang brilian membuat silat ini menjadi indah untuk ditonton.

Ketika film selesai, saya sempat terdiam beberapa saat, berusaha mencari moral story dari film tersebut. Cukup lama memang untuk menemukannya karena saya terlalu terbawa oleh adegan berkelahi yang sungguh menawan sampai akhirnya saya memutuskan bahwa “Shit happens anytime, anywhere” dan “Jakarta keras!!” sebagai moral story. Mungkin saya perlu nonton untuk kedua kalinya supaya bisa mendapatkan moral story dari film tersebut.

Secara keseluruhan saya beri film ini 8.7/10. Alasannya karena saya bosan dengan film Indonesia yang didominasi hantu dan pelecehan terhadap wanita, sedangkan Saras 008 bukan lagi masuk level saya dalam menonton film. Film ini adalah salah satu bukti kalau film Indonesia bisa laku walaupun tanpa hantu dan pelecehan wanita. Semoga produser-produser India itu tidak latah membuat film sejenis dengan jalan cerita dangkal yang hanya mengandalkan aktris dan aktor sinetron dengan tampang menawan namun akting pas-pasan.

6 thoughts on “[Review] Merantau

  1. Barusan nonton. Sempet bikin nangis juga, soalnya inget emak di kampung gw ihiks… Btw, Iko Uwais pantes jadi bintang baru Indonesia. Bukannya mau berlebihan muji nih cowok, tapi aksi berantemnya ga jauh beda kok sama Jet Li. I Love You, Iko!

  2. adegan berantem yg terakhir bagus ya, warna-warna yang keluar dan sinematografinya belum pernah ada di film2 Indonesia sebelumnya. Dramatis banget..

    Mbak next review CIN(T)A yaa.. itu film bikinan beberapa orang yang saya kenal pas kuliah s1 dulu..

  3. @agn
    saya lg nungguin Cin(T)a banget. Hehehehe. Lg ketahan di sensor yah?
    Hhhh.. *narik napas panjang*

    @pasha
    Selingan aja kalau lg suntuk. Nulis review jg krn saya cerewet klo abis ntn film, bawaannya mau komeeennn muluu.. Hehehe =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s