Mind Your Smoke, Please

Memang agak telat satu hari, hampir dua hari pula, tapi saya tetap menyampaikan hal berikut. Kemarin, tanggal 31 Mei adalah hari tanpa tembakau sedunia. Suatu hari yang kurang diperhatikan oleh semua orang namun sangat penting untuk diketahui oleh semua orang.

Rokok, tembakau, atau apa pun itu sebutannya, adalah sesuatu yang sangat dikenal masyarakat Indonesia baik aktif maupun pasif. Di jalan raya, di mall, di halte, di terminal, di bus kota, dan hampir di setiap sudut kota dapat kita lihat orang merokok. Konsumer rokok bervariasi mulai muda hingga tua, pria dan wanita, kaya atau miskin semua kecanduan dengan nikotin dari rokok tersebut. Dan bukan cerita baru lagi kalau anak-anak kecil juga sudah mengenal rokok.

Ide menulis tentang rokok timbul ketika tadi sewaktu pulang dari kampus, saya melihat anak kecil, berumur sekitar 12 tahun lebih, duduk di bak mobil bersama dua orang temannya dan di tangannya ada puntung rokok yang masih baru. Dia terlihat begitu fasih merokok, sama sekali tidak canggung dan terbatuk-batuk, tanda kalau dia sudah lama mengenal rokok. Saya begitu prihatin melihat keadaan tersebut, anak sebesar itu, yang bahkan belum menginjak umur 15 tahun sudah mengenal rokok.

Lalu siapa yang disalahkan dengan keadaan ini? Perusahaan produsen rokok? Karena memproduksi rokok lalu mereka disalahkan, saya rasa tidak. Kalau menurut saya, distribusi yang kebablasan itu lah yang salah. Rokok dapat dengan mudah ditemui mulai dari supermarket skala grosir sampai pedagang asongan yang beroperasi di jalan raya dalam bentuk ketengan per batang. Walaupun di rokok tersebut tertulis kalau yang mengongsumsi harus berusia 18 tahun ke atas, namun tetap saja mereka (terutama pedagang asongan) menjajakan rokok kepada konsumen di bawah umur. Alasannya ya karena para penjaja asongan tersebut butuh uang. Sederhana kan.

Pembatasan umur tidak mungkin dilakukan oleh Indonesia yang belum disiplin. Lalu bagaimana kalau cukai rokok dinaikkan? Menurut saya itu dapat berhasil. Dengan dinaikkannya cukai rokok (sedrastis mungkin), maka harga rokok di pasaran akan naik juga dengan drastis. Harga rokok yang tinggi saya harapkan tidak dapat lagi dijangkau oleh kantong anak di bawah umur dan dengan itu juga membuat pembeli akan berpikir dua kali sebelum membeli rokok.

Kalau dengan hal di atas belum berhasil juga, mohon para perokok menghormati yang tidak merokok. Apakah mereka tidak tahu kalau perokok pasif lebih terancam hidupnya dibandingkan yang aktif merokok? Kalau mau mati, tolong ya jangan ajak-ajak orang lain, cukup Anda saja yang mati.

Untuk sekedar informasi, saya pernah dengar di radio, kalau nikotin dalam tubuh itu baru hilang dalam waktu 8 hari. Jadi kalau ada dari Anda yang ingin berhenti merokok, coba tahan untuk tidak merokok dalam jangka waktu 8-10 hari. Ini baru teori dari saya, namun saya pikir patut di coba. Setidaknya rasa kecanduan yang mengalir dalam darah dapat hilang dan ikut sedikit menghilangkan permintaan asupan nikotin.

Tulisan ini cuma sekedar rasa prihatin saya atas fenomena yang terjadi di masyarakat khususnya anak-anak di bawah umur. Mereka tidak seharusnya menghancurkan tubuh mereka sendiri di kala muda di saat mereka seharusnya memikirkan masa depan.

One thought on “Mind Your Smoke, Please

  1. Kita sudah berkali-kali naikin cukai rokok tapi tetep aja orang masih ngerokok. Kalo cukai dinaikkan drastis terus industri rokok bankrut, tingkat pengangguran bakal naik karena industri rokok itu salah satu penerima tenaga kerja terbesar dibandingkan industri lain. Hmmm, dilema…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s