[Review] X-Men Origins: Wolverine

Kok dashboard saya berubah jadi warna biru yah? Ah, mungkin saya lupa. Anyway, kembali ke topik awal dimana saya ingin sedikit membahas tentang film yang baru saya tonton kemarin; X-Men Origins: Wolverine.

Yang diharapkan ketika mendengar judul tersebut, tentunya awal mula cerita tentang bagaimana seorang wolverine bisa tercipta, bagaimana dia bisa mempunyai cakar besi, dan kemampuan untuk sembuh dari segala luka. Well, sebenernya itu bukan sekedar logam biasa, logam itu namanya adamantium, sejenis materi yang dikatakan jatuh dari langit. Oke, di dalam tubuh seorang wolverine terdapat partikel yang berasal dari luar angkasa dan saya mencampuradukkan segala informasi tentang karakter komik. But seriously, that material was really told coming from sky, or should I say outer space. Cukup dengan segala masalah partikel dan per-kimia-an ini, penilaian saya tentang film ini tidak jauh berbeda dengan saya menilai film-film yang dibuat dari komik lainnya; ceritanya ketebak, hanya mengandalkan penampilan fisik sang tokoh utama, dan pameran gambar-gambar menakjubkan.

Do I become sarcastic here? Oh come on, siapa pun yang menganggap film ini adalah a-must-see saya yakin lebih banyak terpaku pada hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya, kecuali mungkin alur cerita. Saya tidak menyangkal wolverinekalau gambar difilm ini dibuat dengan sangat baik, dengan teknik fotografi yang menawan pula tapi tolong hilangkan adegan berjalan santai menjauhi ledakan yang terjadi di belakang. Adegan itu hanya mengingatkan saya dengan Satria Baja Hitam yang berhasil membunuh monster Gorgom dengan pedang matahari yang keluar dari sabuknya.

Bagi saya storyline selalu menjadi masalah terbesar ketika harus menonton film yang didasarkan dari komik. Film tentang Batman, Spiderman, Superman, or whatever you can name, tidak pernah menarik perhatian saya secara spesifik. Cukup terbukti ketika kemarin teman saya mengajak nonton x-men, saya lebih tertarik menonton film indonesia terbaru yang nanti kalau sudah saya tonton saya akan menulis reviewnya.

Kembali ke masalah storyline, ketika prolognya berlangsung, saya tidak terlalu memperhatikan settingnya dan saya cukup stun dengan opening credit yang indah dimana Logan (Hugh Jackman) beserta saudaranya, Victor Creed or Sabretooth (Liev Schreiber), berjuang sebagai tentara di perang dunia I,victor creed perang dunia II, perang vietnam, pokoknya segala macem perang deh. Lalu mereka bergabung dengan Operasi Rahasia yang ternyata tidak sesuai dengan kata hati Logan dan membuat Logan untuk meninggalkan Operasi tersebut. Beberapa tahun kemudian Logan ternyata hidup di tengah pegunungan Kanada sebagai tukang potong pohon dan ketika diajak kembali untuk bergabung dengan tentara, dia menolaknya dengan berkata kalau dia adalah orang Kanada. Lha, saya kira dia orang Amerika. Ketidakkonsistenan penulisan naskah juga terjadi dimana cerita yang ditampilkan adalah Logan yang setuju untuk mengeluarkan sifat ke-binatang-annya dan rela untuk disuntikkan dengan logam adamantium yang merubah struktur tulangnya. Saya kira seorang Wolverine itu sangat membenci sifat ke-binatang-annya itu, coba tengok kembali X2.

Roger Ebert, seorang reveiwer kawakan (tonton semua film yang dia rate sebagai bintang 4 out of 4, dan u’ll be completely stunned), hanya berkata kalau dia tidak akan peduli dengan seorang yang mempunyai cakar besi yang mampu membelah baling-baling helikopter, tidak dapat terluka dan dapat dengan mudah lompat setelah helikopter itu oleng. Karena itu ia hanya memberi 2 bintang saja pada film ini.

Pada akhirnya kehadiran Gambit lah yang membuat saya menikmati film ini. Dalam hati saya bersorak bahagia dan gembira ketika melihat pemunculan Gambit setelah di tiga film sebelumnya Gambit sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Wolverine memang menjadi tokoh utama di film ini dan menjadi karakter nomer 1 dikalangan pembaca Marvel, tapi Gambit tetap menjadi karakter favorit saya dalam X-Men, (dan Cyclops juga). Taylor Kitsch gambitberperan sebagai Gambit dan mencuri perhatian saya sepanjang film, walaupun kemunculannya hanya sekitar 10-15 menit. Huh, seharusnya dibuat scene yang lebih lama tentang Gambit.

Apa yang menjadikan film ini cukup layak ditonton di bioskop adalah perlunya untuk melihat pemunculan Deadpool. Wade Wilson yang cerewet dengan segala filosofi yang keluar dari mulutnya diubah menjadi seorang tokoh antagonis brilian kedua, yang pertama bagi saya tetap Sylar dari Heroes. Dengan mengadopsi kekuatan dari berbagai mutan lainnya, termasuk Cyclops dengan mata merahnya dan Jack Wraith dengan teleportnya, Deadpool menjadi tokoh yang kelihatan susah untuk dibunuh. Saya suka tokoh antagonis yang tahan banting. Bedanya dengan Sylar, Deadpool itu botak dan tidak punya mulut karena General Stryker bosan mendengar segala ocehan Wade Wilson, belum lagi dengan tubuhnya yang dipenuhi coretan hasil bedah disana sini. Ah, kalau begitu Sylar tetap nomer 1.

Tadinya saya mau rate film ini 5.5/10 seperti yang sudah-sudah kalau rate yang saya berikan untuk film dari komik tidak pernah lebih dari 7. Tapi kehadiran Gambit dan Deadpool cukup menarik perhatian saya sehingga saya berani untuk memberikan 7/10.

Akhir kata, bagi yang hanya ingin melihat bagaimana seksinya Hugh Jackman dengan otot bisepnya yang menawan dan adegan naik motor gede yang legendaris itu, tontonlah film ini. Kalian, para wanita, pasti akan puas dengan setiap scene yang didominasi dengan pameran otot terawat.

13 thoughts on “[Review] X-Men Origins: Wolverine

  1. Waktu itu aq nonton hasil download dr internet, yg masih mentahan gitu. Hasilnya, bukan asik tapi malah bikin ngakak. Soalnya tali-tali yang buat bikin terbang masih nampak nyata dan jelas banget. jadi kaya nonton sineron laga Mak Lampir yang kalo terbang talinya kelihatan. hahaha

  2. ahahahahahha.
    tunggu yg versi dvd dong, tp ya agak lama si.
    saya emg agak cerewet klo ntn film, semuanya dikomentarin. hehehehe =p

  3. @nzl
    saya perempuan.
    lagipula jg ini bukan celaan, hanya komentar saja. tiap org kan punya pandangan beda2 terhadap satu film. kalau menurut anda bagus, ya silahkan. tp menurut saya ya seperti yang sudah saya tulis itu.

    @youdi
    saya kira film2 yg diadaptasi dr komik hasilnya akan sama aja. mudah ditebak =)

  4. @penulis
    namanya juga film yang mengadaptasi dari komik superhero .. bukannya dalam komik superhero juga berlaku demikian, seperti yang anda berikan komentarkan pada versi movienya ? dengan kata lain movie superhero juga mencerminkan apa yang digambarkan dalam komiknya (walopun tentu ada beberapa perbedaan). tentang filmnya seperti anak-anak, bukankah komik serta superhero sebenarnya adalah konsumsi anak-anak, dan milik dunia anak-anak ? .. jika orang dewasa mnyukai komik superhero atau tokoh superhero, itupun karena bawaan dari masa kecilnya yang mengidolakan suatu superhero. jadi klo movienya kekanak-kanakan, bukan hal yang aneh… mungkin lebih baik anda berkomentar pada film genre lainnya saja , bukan film yang dari komik atau bertema superhero .. karena paling komentar anda tidak akan jauh2 dari komentar sebelumnya. yang menurut saya kurang menarik dari film x-men adalah terpusatnya fokus pada tokoh itu2 saja .. padahal banyak sekali karakter x-men yang tidak dimunculkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s