Bahasaku, bahasa Indonesia

Ditengah kengantukan yang amat sangat, saya memutuskan untuk menulis dulu. Sehubungan dengan judulnya yang mengacu pada bahasa Indonesia, maka saya akan menulis dengan bahasa Indonesia yang saya harapkan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Ada apa tiba-tiba saya menulis tentang bahasa Indonesia ini? Sebenernya sih bukan karena mata kuliah wajib yang baru nongol di semester 8 ini, tapi karena sudah lebih dari sebulan ini saya bergelut dengan bahasa Indonesia.

Sewaktu SMA saya pernah mendengar ucapan dari guru les saya kalau bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling susah untuk dipelajari. Waktu itu guru saya bercerita kalau ada temannya yang belajar sekian banyak bahasa, lebih dari 7 bahasa kalau tidak salah. Bahasa terakhir yang dia pelajari itu, setelah sekian banyak bahasa, adalah bahasa Indonesia. Lalu apa katanya tentang bahasa Indonesia kita tercinta ini, katanya bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling susah yang pernah dipelajari oleh dia. Yah, mungkin suatu hal yang wajar kalau bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang paling sulit sewaktu kita sekolah dulu.

Merujuk dari komentar teman guru saya itu dan pengalaman bergelut dengan bahasa Indonesia selama sebulan ini, ada beberapa hal yang ingin saya bagi yang menurut saya sebagai masalah dalam bahasa Indonesia.

Pertama: Imbuhan
Mungkin ini adalah masalah yang paling besar di bahasa Indonesia. Imbuhan awal seperti, me-, ke-, di-, ter-, pe-, ataupun imbuhan akhir seperti -kan, -i, -nya, -an, itu yang membuat bahasa Indonesia menjadi tricky. Tiap imbuhan dapat di mix-and-match layaknya baju dan seketika mempunyai arti yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kata apa pun yang diberi imbuhan awal me-, sebagian besar pasti akan membentuk kata kerja aktif.

Membiru, misalnya, imbuhan me- di awal kata biru kalau menurut EYDKBBI mempunyai arti membuat jadi. Lain lagi dengan kata memikirkan, imbuhan me-kan pada kata tersebut mempunyai arti melakukan pekerjaan. Hal inilah yang diujikan pada murid-murid sekolahan, yang mungkin menjadi hal yang paling menakutkan bagi mereka dan ini juga merupakan pengalaman pribadi saya.

Kedua: Kata serapan yang tidak seragam
Sebetulnya saya ingin menggunakan kata standar, tapi itu kan merupakan kata serapan juga, jadinya saya menggantinya menjadi kata seragam. Anyway, bahasa Indonesia memang sudah berkembang menjadi suatu bahasa yang modern. Asalnya dari bahasa melayu, namun telah mengalami banyak hal dalam perkembangannya termasuk pengaruh dari Belanda. Kata serapan dalam kehidupan sehari-hari sering sekali digunakan dalam percakapan, maupun dalam penulisan di media massa.

Apa yang ingin saya bahas disini adalah pemakaian dan penulisan bahasa serapan yang terkadang tidak seragam. Sebagai contoh kata personil dan personel. Sebetulnya saya tidak tahu pasti mana yang benar penulisannya, tapi perbedaan dalam penulisan kata serapan ini cukup membuat saya repot. Tidak ada hukum yang pasti dalam penulisan kata serapan tersebut membuat siapa saja yang menulisnya bingung. Pada akhirnya penggunaan kata sesuai dengan hati dan kepercayaanlah yang disahkan.

Ketiga: Akronim atau singkatan
Yang saya maksud disini bukan akronim seperti IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), namun lebih kepada Capres (calon presiden) atau Dephankam (Departemen Pertahanan dan Keamanan). Sering saya temukan bentuk penyingkatan dari suatu kata yang panjang seperti ini. Coba kita cari-cari lagi, contoh, Pemilu berasal dari kata Pemilihan Umum. Lalu ada Panwaslu yang kalau dipanjangkan menjadi Panitia Pengawas Pemilu atau Panitia Pengawas Pemilihan Umum. Bahkan didalam kepanjangan suatu akronim masih terdapat akronim lainnya lagi. Talk about recursive. Betapa hebatnya bahasaku ini.

Sifat yang suka singkat-menyingkat kata ini saya asumsikan berasal dari Bapak Besar Soekarno yang pada pidatonya terdahulu menyebut kata Berdikari. Kata tersebut sekarang menjadi sangat terkenal bahkan dengan sukses telah masuk dalam KBBI dan arti berdikari itu sendiri adalah berdiri di atas kaki sendiri. Tolong koreksinya apabila saya salah. Kebiasaan singkat-menyingkat itu kemudian berakar hingga sekarang dan ikut mengembangkan bahasa Indonesia menjadi lebih beragam.

Terakhir: Variasi kata
Inilah yang katanya cukup membuat teman guruku itu kesusahan dalam mempelajari bahasa Indonesia. Apa yang saya maksud dengan variasi kata? Sebagai contoh begini, dalam bahasa inggris, kata yang mengacu pada makanan pokok masyarakat kita adalah rice yang artinya nasi. Benar begitu? Nah, yang saya maksud dengan variasi kata adalah, kita ambil contoh nasi; nasi itu kalau masih ditanam namanya padi, setelah dipanen jadi gabah, lalu kulitnya dibuka menjadi beras, beras dimasak menjadi nasi, nasi dimasak terlalu lama menjadi bubur. Ada berapa kata yang mengacu pada nasi itu? Ada 5 kurang lebih. Dalam bahasa inggris, semuanya ya namanya rice, kecuali porridge yang mengacu pada bubur.

saya ambil contoh lain; dalam bahasa inggris, mereka punya bring atau carry yang mempunyai arti membawa suatu barang. Nah, ini yang lucu, di Indonesia kita mempunyai kata kerja tersendiri tergantung dimana dan bagaimana barang tersebut dibawa. Contoh, kalau dibawa di tangan namanya jinjing atau tenteng, di punggung namanya panggul atau gendong. Lalu ada lagi kata non-formal yang namanya selempang, hal itu terjadi kalau membawa tas dengan tipe postman-bag yang cara membawanya dengan disampirkan di bahu. Betapa banyaknya variasi dari penggunaan kata dalam bahasa Indonesia.

Begitu banyaknya aturan dalam bahasa Indonesia yang membuat banyak dari orang Indonesia sendiri tidak mengerti bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pada akhirnya mereka hanya menggunakan bahasa yang dikenal sehari-hari dalam percakapannya, termasuk bahasa asing. Hal ini bisa saja menjadikan bahasa indonesia menjadi tersingkirkan digantikan dengan bahasa yang lebih mudah untuk dimengerti.

Pada akhirnya tulisan ini hanya sebagai sok-tahu saya dan asli dari pemikiran saya yang sebenarnya ingin sekali mencintai bahasa Indonesia. Salah tulis mohon sedianya dimaafkan karena saya bukanlah seorang ahli bahasa. Semoga bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa yang utama di Indonesiaku tercinta ini.

6 thoughts on “Bahasaku, bahasa Indonesia

  1. Hm…jadi ingat sulitnya mengajar bahasa Indonesia ke orang Jepang. Singkatan itu memang hobby kita yang menyulitkan pemahaman bhs kita. Awalan, akhiran juga akhirnya sulit dibuat rule. Awalan ber misalnya. Ada cerita teman yang mengajar bhs Indonesia ke orang Jepang, kalau nggak salah gini. Waktu dia mengajarkan ke orang Jepang “Si A beranjing tiga”, maksudnya mau cerita bahwa “ber” di situ artinya memiliki. Tapi si orang Jepang mikirnya “beranjing” itu “naik anjing”, seperti halnya awalan “ber” pada “berkuda”. Temanku langsung pamit keluar kelas, dan di luar kelas dia terpingkal2 membayangkan anjing dinaiki😀

  2. iyah kyk dulu di sma wkt lg ulangan harian bahasa indonesia. pertanyaannya: awalan me- pada kalimat tersebut mempunyai arti… Huh, paling sebel kalo uda ktmu yg sperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s