Budaya Menonton Bencana

Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah jebolnya tanggul situ gintung. Rasanya begitu dekat karena daerah itu merupakan daerah yang sangat familiar bagi saya. Apalagi jalan gunung yang abis tertutup lumpur sekarang ini adalah jalan tikus yang sering saya lalui kalau mau memotong jalan dari pondok cabe ke arah ciputat.

Lalu permasalahan utama yang ingin saya bahas disini adalah budaya menonton bangsa indonesia terutama ketika terjadi bencana. Bukan hal mengherankan apabila di suatu tempat terjadi bencana lalu warga lainnya yang tidak tertimpa bencana berbondong-bondong datang ke tempat yang terkena bencana tersebut hanya ingin sekedar menonton dan melihat apa yang terjadi.

Atau saya kasih contoh lebih gampangnya aja, pernah ga liat di jalanan ada orang ketabrak trus banyak orang2 berkerumun hanya untuk melihat orang yang sedang terkapar penuh darah di jalan itu tanpa sedikit pun terlintas di otak para penonton itu untuk setidaknya menolong memanggilkan ambulance. Nah, itu yang saya maksud dengan budaya menonton bangsa Indonesiaku ini.

Gini ya, Pak, Bu, Mba, Om, Tante, Nek, Kek, pertama ini adalah musibah. Bukan layar tancep, bukan kawinan, juga bukan konser amal. Ini adalah bencana. Titik. Nah apa yang seharusnya, sesuai dengan nurani kita sebagai manusia, dilakukan? Menolong, kan.

Para korban dari bencana tersebut bukannya aktor di televisi yang minta ditonton, mereka itu minta ditolong. Seperti katanya om Garin Nugroho di Kompas kalau fenomena menonton itu dikarenakan mental bangsa Indonesia yang ingin merasakan juga sensasi kejadian tersebut. Dengan menonton, mereka bisa merasakan dan memperkirakan bagaimana rasanya kejadian tersebut. Hal ini terbit sekonyong-konyong karena kebiasaan atau budaya masyarakat indonesia yang senang mengomentari akan sesuatu.

Nonton sepakbola, yg maen dimaki-maki kalo tendangannya melenceng sedikit. Nonton bulutangkis, kalo misalnya smesnya jelek dikomentarin. Nonton sinetron, pemain antagonisnya dimusuhin, bahkan ketika bukan di sinetron pun si pemeran antagonis pun ikut dimusuhi. Gini deh, kalau misalnya anda-anda menjadi orang tersebut, mampu ga melakukan hal seperti itu sama persis? Jangan main asal caci maki orang dong.

Mbok ya, Pak, Bu, Mba, Om, Tante, Nek, Kek, kalo mo nonton itu dirumah aja, lewat televisi. Apa gunanya media kalo bukan untuk mengabarkan suatu kejadian. Apa pula esensi dari pembuatan televisi itu jadinya? Ah saya tidak mengerti.

Lalu yang kedua, Pak, Bu, Mba, Om, Tante, Nek, Kek, kehadiran anda-anda semua di TKP hanya menyusahkan tim SAR dan para relawan yang kehadiran utamanya untuk membantu korban. Jangan jadikan tempat bencana sebagai ajang rekreasi. Haduh, saya malu dengan tingkah orang-orang itu yang tujuan utamanya ingin menonton.

Baru-baru ini di tv saya mendengar berita kalau salah satu pengunjung yang hanya ingin menonton tersebut terjatuh dan mengalami patah di lengan kiri. Reaksi saya? Tertawa lebar-lebar lah jelas. Bukannya saya tertawa di atas penderitaan orang, tapi kan pada awalnya anda-anda yang hanya ingin menonton kan sudah diberitahu tentang keadaan geografis dr TKP itu sendiri yang sangat berbahaya dan masi labil. Lha ini malah sampe bawa anak balita untuk menonton. Udah siap jadi korban juga?

Adik saya, yang fotografer, nyaris ketimbun tanah longsor dan kandang ayam pada waktu mengambil foto di daerah situ. Itu tandanya masi berbahaya kan. Saya mohon jangan menambah korban lagi deh. Masih mending kalau tim SAR dan relawan mau menolong kalau terjadi sesuatu pada anda-anda. Kalau mereka sudah jengah dengan kehadiran anda, bisa-bisa anda tidak dipedulikan kalau terjadi sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s