Apatis Ria

Semua sudah..
Terasa gundah..
Dan berholiday..
Tak pernah usai..

Itulah cuplikan dari lagunya Sore yang berjudul apatis ria. Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, apatis dapat diartikan sebagai sikap acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh. Lalu apa maksud saya menulis semua ini disini. Apakah saya ingin membahas tentang tata bahasa di sini? Oh tidak. Apakah saya ingin menyanyi di sini? Oh tidak juga. Maksud saya menulis tentang keapatisan ini karena ada hubungannya dengan pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan oleh bangsaku, bangsa Indonesia.

Hubungan keapatisan dengan pemilu amatlah erat. Pemilu yang akan datang, tanggal 9 April 2009, dimaksudkan untuk memilih anggota legislatif yang akan duduk di Dewan Perwakilan sana. Begitu banyak orang yang mencalonkan diri sampai-sampai para pemilih tidak mengenal siapa calon-calon itu. Dan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau ambil pusing mengenal para calegnya? Mudah, mereka bersikap apatis, tidak peduli. Kalau misalnya para pemilih yang apatis itu tidak mengetahui caleg mereka, mereka tidak akan ambil pusing untuk mengenal calegnya itu. Tinggal contreng semuanya ato sama sekali tidak ada yang di contreng.

Menurut pendapat saya sebagai seorang awam tentang tingkah laku politik Indonesia, sifat apatis ini terjadi karena kebanyakan masyarakat Indonesia sudah bosan dengan keadaan yang tidak banyak yang berubah. Setiap caleg yang meminta untuk dipilih kebanyakan pada akhirnya akan memperkaya diri mereka sendiri karena eh karena pada saat kampanye mereka sudah mengeluarkan uang segunung untuk menarik massa. Jadi wajar aja kalo pada saat terpilih yang menjadi prioritas utama adalah balik modal, dan setelah balik modal, mereka ngambil untung. Siapa yang ga mau dapet untung coba? Dan untuk selanjutnya bisa ditebak karena sekali mereka sudah terhipnotis dengan nikmatnya uang, maka lupalah mereka dengan janji-janji yang sudah ditebar ketika masa kampanye.

Karena alasan sesederhana itulah yang membuat orang-orang di Indonesiaku tercinta ini memilih untuk ber-apatis-ria dan berholiday. Tidak peduli dengan keadaan politik negeriku tercinta yang acak-acakan. Malu aku ketika melihat perang iklan antar partai di televisi atau di koran. Malu aku ketika mendengar petinggi-petinggi itu meng-klaim suatu keberhasilan yang dicapai oleh negeri ini sebagai keberhasilan kelompok mereka saja. Hilang sudah hakikat gotong royong yang sejak dulu digembar-gemborkan di buku PMP atau PPKn. Terpecahlah sudah negaraku ini menjadi empat-puluh-sekian kelompok yang egois memikirkan isi perut dan kantong masing-masing.

Semua sudah hilang..
dan berholiday tak pernah usai..
denganmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s