Fundamentals of Multimedia on One’s Movement

Rumah gw luas namun tidak seluas lapangan bola. Tapi gw tau esensi dibalik pembuatan rumah yang luasnya hampir selapangan bola itu, karena gw sering banget nabrak2 furniture kalo lagi jalan.

Hal itu terbukti sangat benar ketika tadi pas selesai solat maghrib gw beranjak keluar kamar untuk nonton tipi lagi, tapi secara tak dinyana henpon bersuara nyaring seperti ketika Phillip Lahm membobol gawang Portugal dan membawa Jerman ke semifinal Euro 2008 kemaren. Karena kaget, sontak gw lari2an ke kamar dan mencari keberadaan henpon gw supaya bisa secepatnya diraih. Ternyata henpon bermukim di sebelah laptop, di atas meja sebelah lemari buku. Gw dengan semangat dan sedikit grasak-grusuk langsung ambil jalur tengah meloncati tempat tidur. Di sinilah esensi pembuatan rumah besar seluas lapangan bola itu menjadi sia-sia. Ketika menyebrangi tempat tidur untuk menggapai henpon, kaki kiriku satu-satunya menendang ujung buku fundamentals of mutimedia yang baru rabu kemaren gw ambil dari tempat fotokopian dan ga tanggung-tanggung, buku itu loncat mental ke kursi gw yang jaraknya sekitar 30 centimeter dari pinggir kasur. Biar gw ulang lagi, kaki gw lebih tepatnya nabrak ujung buku setebel 7 centimeter yang tajam, berat dan tumpul. Gw harap kebayang gimana rasanya.

Henpon berhasil gw ambil, tapi akibatnya ujung kaki kiri satu-satunya itu sakit tak tertahankan di bagian kelingking. Sambil loncat-loncat kayak kelinci dikejar macan afrika, gw jawab telepon yang ternyata berasal dari odi. Susah payah gw nahan supaya ga berteriak kesakitan tapi akhirnya mulutku yang juga satu-satunya di dunia ini mengaduh-aduh sehingga membuat odi bingung, ada apa gerangan dengan kakakku yang aneh ini?

Langkah pertama setelah henpon kututup, langsung berjalan ke dapur sambil terpincang-pincang. Buka frezeer dan mengambil sebalok es untuk mendamaikan kelingkingnya yang nyut-nyutan. Rasanya lumayan, sakitnya bisa sedikit hilang walau ga semuanya bisa hilang.

Kasian bapakku. Sudah capek-capek membuat rumah seluas lapangan bola dengan harapan anaknya bisa selamat kalo sedang berjalan di rumah, tapi anaknya malah menabrak bukunya sendiri yang ditaronya sendiri di atas tempat tidurnya sendiri. Sama sekali tak ada hubungannya dengan luas rumah yang seperti lapangan bola.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s