Mari Kita Menolong Sesama

Rasanya udah lama banget saya ga posting yah. Berderet-deret film telah saya tonton, dan belum ada satu review yang saya perbarui di blog karatan ini. Ah saya lebih tertarik menulis tentang film Indonesia dengan rating bintang (bukan kancut) daripada film luar.

Eniwei, mau membantu orang? Dapet pahala loh, gede lagi. Gini, coba bisa tolong klik di bawah ini

http://fit.sgu.ac.id/

Intinya si temen saya ini sedang menyelesaikan skripsinya yang sudah tertunda 2 semester. Kasian kan kalo doi harus ngulang semester lagi. Nah, di link itu, coba deh tulis-tulis komen di forumnya. Trus coba cari tau siapa sebenernya temen saya ini. Siapa tau juga si temen saya itu dapet jodoh dari yang kebetulan drop komen di link tsb. FYI, temen saya itu udah menjomblo cukup lama loh. Saya khawatir aja kalo kelamaan dia bakal berubah orientasi.

Oh iya, loginnya bisa pakai username di bawah ini:

username: guest
password: password

Buat yang penasaran, nih saya kasih fotonya

Nah, ganteng kan. Terpelajar lagi. Ah, saya kyk lg promosi temen yah. Bentar lg paling saya ditimpuk sendal ama orangnya.

Terima kasih bagi yang sudah membantu. Semoga diberikan pahala yang setimpal oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Amin. More

Reality Show Politik

Dalam satu bulan terakhir ini yang paling santer dibahas media adalah mengenai kasus Bank Century dan keterkaitannya dengan bapak presiden tercinta, bapak wakil presiden dan ibu menteri keuangan. Setelah adanya berita itu, mulai berkembang wacana dimana akan ada pemakzulan (jujur, gua ga ngerti ini artinya apaan) yang setelah saya googling memiliki nama lain impeachment — Nah, kalau ini gua tau artinya.

Anyway, sebelum mencuatnya wacana tersebut di tengah publik, akhirnya banyak rakyat Indonesia yang merasa salah pilih pemimpin waktu pemilu kemarin. Mereka-mereka yang merasa dibohongi dan dibodohi itu akhirnya berunjuk rasa besar-besaran tepat pada genap 100 hari masa pemerintahan. Ada 3 hal yang saya perhatikan dan bikin penasaran; pertama, mereka berunjuk rasa karena merasa dibodohi oleh si calom pemimpin. In my very humble opinion, apakah dulu sebelum pemilu mereka sudah mencari tahu dengan lengkap siapa sebenarnya yang akan mereka pilih? Sepertinya slogan LANJUTGAN dari si calon presiden cukup kena di masyarakat dengan catatan pada masa pemerintahan sebelumnya si calon presiden ini notabene bisa memikat hati rakyat dengan program-programnya yang cukup mendapat pujian. Am I saying kalau yang mau memilih itu bodoh? Oh tentu tidak, itu masalah mereka yang tidak puas. Kalau saya sih tidak memilih pada waktu itu, yang memilih justru keponakan saya yang masih berusia 5 tahun (saya membawa dia ke dalam bilik suara dan menyuruh dia mencoblos calon mana saja yang dia suka).

Kedua: Apakah pada masa pemerintahan yang pertamanya si presiden terpilih ini memang berniat untuk jadi presiden lagi, sehingga dia rela mengambil hati rakyat dengan program-programnya yang cukup menarik dan gambaran kalau dirinya adalah sosok yang ditindas, padahal dia mempunyai rencana besar karena masa pemerintahan cuma boleh 2 kali. Jadinya wajar aja kan kalau dia memaksimalkan usaha untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Talk about dana kampanye yang sampe bermilyar-milyar, kalau dipikir-pikir wajar juga dia mau balik modal. Yah, tapi ga sampe 6,7 milyar juga kali (eh bener milyar ya? Apa triliun?).

dan ketiga: Ada yang menjadi penggerak unjuk rasa kemarin ini. Mungkin barisan sakit hati? Ya mungkin saja, mengingat muncul organisasi masyarakat baru yang juga berwarna biru dengan niat tujuan merangkul orang-orang yang sudah disakiti hatinya oleh si bapak presiden.

Masih ingat postingan saya sebelum ini yang tentang presiden bikin press conference tentang RENCANA BESAR PENEMBAKAN PRESIDEN dan disiarkan langsung di televisi yang notabene bikin saya ngakak? Nah, masih seputar kebiasaan ajaib si presiden ini selain senang cari perhatian dari rakyatnya dan kampanye produk mie instan, yaitu mengadu. Beda tipis sih mengadu dengan cari perhatian, tapi hal itu adalah sah dan wajar kalau dilakukan oleh anak kecil, mungkin 7 tahun. Tapi kalau untuk ukuran orang dewasa dan orang itu adalah presiden, I don’t think so. Pak’e, kenapa ga sekalian aja bikin account facebook dan twitter, trus ngeluh-ngeluh disitu. Dan mohon jangan membentuk pansus untuk membahas tentang peraturan baru yang ga penting. Kalau Luna Maya dan Prita bisa terkena efek dari undang-undang ITE, seharusnya bapak presiden juga bisa kena dong. Tapi ya sekali lagi dengan catatan, undang-undang itu berlaku untuk semua orang dan presiden adalah bukan seseorang yang kebal hukum. Eh presiden ga kebal hukum kan?

Anyway, si bapak presiden berkomentar tentang unjuk rasa yang berlangsung tanggal 28 Januari kemarin. Katanya caranya salah dengan berteriak-teriak menyebut kalau dirinya dan wakilnya adalah maling. Oke, Pak, kalau bawa kerbau di jalan mungkin agak kurang etis juga kali yah. Lagian yang saya concern dalam urusan pe-kerbau-an itu bukan analogi kerbau sebagai bapak, tapi lebih ke kasihan si kerbaunya diajak unjuk rasa seperti itu. Tapi kalau urusan teriak-teriak maling itu saya kira wajar-wajar saja kok. Gini ya Pak, bukannya saya mencela, tapi boleh dong seorang presiden di kritik. Katanya negara demokrasi, kok di kritik seperti itu langsung bikin rapat kerja untuk membahas tata cara unjuk rasa. Kalau begini terus sih bapak tidak ada bedanya dengan almarhum engkong jenderal yang memerintah negeri ini selama 3 dekade.

Konon katanya si bapak presiden ini takut dengan media massa ataupun segala macam yang berhubungan dengan orang banyak. Ya cukup kelihatan sih, sepertinya beliau ini trauma dengan kejadian pendahulunya yang digulingkan oleh mahasiswa. Tapi yang saya lebih heran lagi yah, kenapa tiap ada kejadian yang membahayakan dirinya, dia selalu mengadu ke publik? Jujur ya, kalau saya sih sama sekali tidak merasa simpati. Ingat postingan saya yang dulu? Saya malah ngakak abis-abisan waktu beliau ini menunjukkan foto dirinya yang dijadikan sasaran tembak. In my very very very humble opinion, beliau ini seorang jenderal TNI seharusnya tidak takut pada hal-hal seperti itu dan juga tidak menakuti rakyatnya dengan cerita seperti itu.

Curhat sih tidak masalah yah, tapi kalau curhatnya di media massa, lalu setelah itu dia bereaksi dengan membentuk pansus untuk masalahnya dia artinya mah lebay. Analoginya gini, misalnya itu sama aja kayak orang yang ikut acara reality show demi dicarikan mantan pacarnya yang katanya selingkuh dengan teman masa kecilnya. Kalau saran saya sih, lebih baik si bapak presiden ini juga ikutan acara reality show tersebut, soalnya mahal kalau harus bikin pansus lagi, udah gitu masalahnya belum tentu ada solusinya lagi. Anyway, selagi menunggu tim reality show mencari solusi dari masalahnya, bagaimana kalau si bapak Presiden mulai brainstorming untuk album ketiga? Btw, album keduanya baru keluar januari kemaren, ketika masalah kasus bank century lagi hangat-hangatnya dan belum selesai.

How’s that Mr. President?

[Review] Rumah Dara

Bagi yg menantikan film indonesia dg genre violence nan gore layaknya texas chainsaw, mungkin film ini bisa dijadikan pilihan. Awalnya namanya MACABRE (gua gak tau gmn spellingnya, pokoknya tulisannya kyk gt) tapi entah bagaimana ceritanya bisa berubah jadi Rumah dara. Jangan tanya saya, mohon tanya sutradara atau penulis skenarionya. Saya nonton ini karena pas filmnya muncul di INAFFF 2009 kemaren saya tidak sempat nonton, jadilah saya nonton film ini di malam minggu sembari midnite (sebuah keputusan yang amat sangat salah).

Anyway, bagi yang pernah nonton Takut: Faces of Fear, mungkin ga asing dengan sosok Dara. Diceritakan di film kelima itu (judulnya Dara) kalau Dara adalah perempuan cantik, anggun nan jago masak. Dara mengelola restoran yang terkenal dengan masakannya yang super enak. Cukup sampe di sini, kalau dilanjut lg saya akan cerita tentang Takut, bukannya Rumah Dara.

Nah, Dara di film Takut itu sama dengan Dara di Rumah Dara (yaeyalah), namun di film ini ceritanya bukan masalah restoran, tapi tentang sekelompok anak yang awalnya berniat baik malah kejebak di rumah untuk dijadiin makan malem. Oh nasip nasip, yang namanya apes mah udah gak bisa ditolak kali yah.

Dari awal saya sudah tahu kalau film ini akan penuh dengan cipratan darah dimana-mana jadinya begitu adegan penuh dengan gergaji mesin dan pisau daging bertebaran, lemeslah ini badan sampai hampir muntah. Sedangkan pacar gua sukses melek ga jadi tidur gara-gara adegan bunuh-bunuhan udah dimulai. Oh, harap diingat, sekitar 20-30 menit pertama itu adegannya standar dan agak boring, super boring kalau menurut saya. Mungkin niatnya mau bangun cerita biar ga kepotong-potong kali yah. Jadi kalau yang mengharapkan adegan mutilasi harap bersabar terlebih dahulu.

Bagi saya, Shareefa Daanish terlalu muda sebagai ibu yang anaknya udah gede-gede, tapi mungkin disitu niatnya — bikin seseorang yg mysteriously terlihat ga ada bedanya dengan tampang dia di tahun 1889. Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan makan daging orang (seketika gua mikir tentang sumanto dan mau muntah — sia2 lah french fries sisa burger king gua). Awalnya saya mengira kalau mereka sekeluarga itu vampire (yeaaahh, nyumun rocks!!) tapi saya pikir lagi kalau vampire TIDAK MAKAN DAGING orang melainkan MINUM DARAH orang, dapat terlihat bedanya bukan, jadi saya mengambil kesimpulan kalau mereka itu bukan vampire. Lalu apakah mereka? Coba tonton filmnya dan mungkin saja Anda mendapatkan jawabannya.

Akting pemain-pemain lain tidak terlalu jelek, hanya saja perkiraan saya kalau orang yang paling lebay dan pecicilan pasti akan jadi yang paling apes dengan mati duluan itu salah. kalau nonton, mungkin Anda tahu orangnya siapa. Mengenai jalan cerita, ada 1 adegan yang menurut saya tidak perlu. Adegan tersebut ga penting dan malah jadi bikin jalan cerita aneh. Dimana salahnya? Salahnya adalah ketika terjadi penambahan karakter tidak penting. Mungkin penting bagi si pembuat film, tapi bagi saya tidak penting, jadi seketika saya turnoff dengan film tersebut. Maaf tapi bagi saya penambahan karakter seperti itu justru berbahaya karena ditakutkan akan menjadikan film tersebut tidak konsisten.

Bagi penggemar film slasher, mungkin mengira film ini rip-off dari Texas Chainsaw. Sutradaranya bilang kalau film ini memang sengaja mengambil ide (maybe turns out to be ripped off) dari film slasher paling terkenal itu tapi, ada tapinya nih, mengikut sertakan rasa Asia yang mencekam. Pada awalnya sih saya mengira akan ada setan-setan ala Thailand, tapi ternyata bukan rasa Asia seperti itu yang disajikan.

Overall, film ini bernilai 7/10. Silahkan ditonton kalau anda penasaran dengan slasher ala Asia dan jangan di tonton kalau anda seperti saya yang langsung pingsan kalau melihat darah berhamburan.

[Opini-Part 1]Kiamat vs Vampire. Which one?

Entah alasan apa lagi yang mau saya sampaikan mengenai vakumnya saya dalam menulis di blog ini. Mungkin karena saya sangat sibuk dengan pekerjaan dan ketika mau nulis pasti ada saja acara yang muncul. Oke, anyway, mumpung libur dan long weekend, pertama-tama saya mau mengucapkan Selamat hari Raya Idul Adha bagi semua pembaca yang merayakannya. Lalu saya ingin curhat tentang unek-unek saya melihat 2 film yang baru-baru ini menjadi fenomena di Indonesia Raya tercinta: 2012 dan New Moon.

Where should we begin? Mmm.. Oke, mari kita mulai dari fenomena yg pertama: 2012. Saya rasa tidak perlu lah saya menjelaskan ulang film seperti apa 2012 itu. Intinya film ini mengambil cerita dari cerita ramalan suku Maya pada zaman dahulu kala yang menceritakan bahwa kiamat atau akhir dari peradaban manusia akan terjadi pada tahun 2012, saya lupa tanggal pastinya kapan. Anyway, rasanya tidak ada masalah dengan itu, filmnya sendiri dibuat oleh Emmerich yang jagoan bikin film bencana alam dan penghancuran umat manusia.

Yang jadi masalah adalah ketika ada segelintir orang yang dengan seenak jidatnya mau menarik peredaran film ini dari pasaran bioskop Indonesia hanya karena ceritanya tentang kiamat. Sebenernya saya sendiri sih ragu kalau mereka sudah menonton filmnya, karena saya yakin niat untuk menarik film tersebut dari pasaran akan hilang seketika setelah menonton film tersebut.

Saya sendiri sih termasuk yang pro dan yang kontra juga terhadap masalah ini. Labil? Saya kontra karena tidak setuju dengan sikap orang-orang itu yang hanya menganggap kalau negara ini didiami oleh satu agama saja. Yah, mulai SARA deh. Tapi mau bagaimana lagi, lagipula film kan hanya sarana untuk menyalurkan kreatifitas seseorang. Tidak bisa seenaknya berbuat hal seperti itu. Mau percaya atau tidak, itu urusan si penonton. Ah susah deh hidup di negara yang pikiran orang-orangnya masih dangkal.

Oke, itu tadi kontranya. Mengapa saya pro dalam penarikan film ini? Bukan karena saya pengikut orang-orang yang tadi saya sebutkan di atas. Bukan karena masalah percaya atau tidaknya dengan kiamat. Tapi lebih karena filmnya yang, well let’s just say kurang menarik. Kronologisnya begini…

10 menit pemutaran film.
Kok scenenya kepotong-potong gini sih?

15 menit pemutaran film.
Ini film intinya apa sih?

30 menit pemutaran film.
OMG, filmnya 2 SETENGAH JAM!! Bisa gila gue.

1 jam pemutaran film.
(Ke pacar) Jangan sekali-kali ajak aku nonton film kyk gini lg.

Selesai nonton film.
Kok gue berasa makin bego yah?

Pada akhirnya saya mendukung penarikan film tersebut karena film tersebut bukan hanya melebih-lebihkan segala hal, tetapi juga menurunkan tingkat kecerdasan. Saya bahkan merasa kalau IQ saya turun 100 poin ketika selesai nonton film tersebut.

Saya jadi ingat teriakan tukang penjual DVD bajakan di stasiun sudirman yang membawa sekitar 30 keping DVD 2012 dan berjualan memutari peron 1 sampe peron 2 dari ujung ke ujung.

“Duarebuduabelas. Duarebuduabelasnya limarebu lagi. Bok opis barat nomer 1 yang ngalahin bok opis endonesa. Yang di cekal em u i, yang mao ditarik peredarannya. Asli, kalo ga berkenan bisa tuker. Nonton sendiri dirumah. Lima rebunya duarebuduabelas.”

Dan saya ngakak tiap kali tukang DVD itu lewat di depan saya.

Cerita tentang New Moon di posting selanjutnya yah. Rasanya kebanyakan kalau ikutan dipost di sini.

[Review] G-Force

Film yang ternyata keluaran Disney ini di produseri oleh Jerry Bruckheimer. Wait, did I just say Jerry Bruckheimer? Saya sempat bengong sebentar ketika membaca credit title di akhir film yang menunjukkan bahwa produser dari film ini adalah Jerry Bruckheimer dan saat itu juga saya diliputi rasa kecewa yang mendalam. Oke, bagi yang belum tahu siapa itu Jerry Bruckheimer, lebih baik google namanya dan lihat film-film apa saja yang diproduseri oleh beliau lalu coba bandingkan.

Film ini seharusnya masuk kategori Summer Movie. Namun karena tayangnya telat di Indonesia, maka kita anggap saja film ini masuk kategori Lebaran Movie. Toh, ketika mau lebaran juga suka banyak film baru keluar kan. Anyway, ternyata film yang keluar di musim panas memang setipe semuanya: mahal, mengandalkan grafis komputer yang keren (kecuali GI Joe) dan jalan ceritanya datar.

G-Force menceritakan tentang sekumpulan guinea pig atau marmut (menurut subtitle di film) yang dilatih secara khusus sehingga menjadi agen yang mampu menyelesaikan suatu misi dalam semalam padahal FBI sendiri tidak mampu untuk menyelesaikannya dalam 2 tahun. Oke, guinea pig atau kita sebut saja marmut mulai sekarang, memang bukan hamster. Kita sering salah mengira bahwa mereka adalah hamster namun kenyataannya mereka bukan hamster dan ukuran tubuh mereka jauh lebih besar daripada hamster. Marmut-marmut ini dapat berbicara dan berteman baik dengan lalat yang juga termasuk dalam tim mereka. Mereka adalah Darwin, Blaster, Juarez (satu-satunya betina dalam kelompok tersebut), dan Mooch si lalat. Oh iya dan ada satu ekor tikus tanah dengan sesuatu yang tampak seperti tentakel pink cerah di hidungnya, jago IT, bernama Speckles yang disuarakan oleh Nicolas Cage. Oh ketinggalan, ada satu marmut lagi yang mendambakan keluarga bernama Hurley atau… eerrr… Farty? Oh nevermind.

Kedengarannya tidak ada yang salah dengan filmnya. Film ini punya disney, keluar pada musim panas, dan pemerannya adalah marmut yang dapat berbicara. Harusnya dapat menjadi film keluarga yang baik dan dapat ditonton semuanya kan. Namun tidak kalau produsernya adalah Jerry Bruckheimer, sodara-sodara. Banyak adegan kekerasan dan tembak-tembakan yang berisik di film ini yang tidak pantas ditonton oleh keponakan saya yang masih playgrup.

Karena pemeran utama film ini adalah hewan, maka wajar apabila saya bilang kalau manusia tampil begitu bodoh di film ini. Bahkan agen khusus FBI dengan segala bantuannya kalah oleh 3 marmut yang mengendarai bola plastik kecil berwarna-warni. Tidak ada peran manusia yang signifikan dalam film ini kecuali saya cukup tertarik pada seorang lelaki penjaga toko hewan.

Ada scene di film ini yang mengingatkan saya pada transformers dan langusng berfikir kalau ini adalah buatan Hasbro juga ketika sebuah pembuat capuccino berubah menjadi hidup dan mengejar Darwin dan Hurley. Dan saya menjadi tambah yakin kalau film ini buatan Hasbro ketika seluruh alat-alat rumah tangga; kompor, mesin cuci, microwave, blender, bahkan telepon berubah menjadi hidup dan bersatu membentuk robot dengan muka 9 layar televisi flat. Oh, bukan! Ini film Disney. Seketika saya merasa Disney yang saya agung-agungkan menjadi begitu cupu.

Pada akhirnya saya pasrah menerima kalau film ini memang tipe Summer Movie. Bagi saya ini film Disney paling buruk yang pernah saya tonton walaupun tetap ada moral cerita yang dapat diambil. Hanya 5/10 karena saya kecewa pada Disney dan paling tidak film ini masi memberikan grafis komputer yang lebih baik daripada GI Joe. Namun, saya tidak pernah mengerti dengan ide seekor marmut betina basah yang mengeringkan badannya bisa tampak seksi. Well, hanya penulis skenario yang tahu akan hal itu.

Hancur pudingku

YahooMail berubah lagi yah bentuknya? Anyway, banyak banget yang saya ingin tulis disini, pertama saya kemarin baru nonton G-Force, lalu saya baru membeli CD nya Tika and the Dissidents dan terakhir saya membenci dengan sepenuh hati pemerintah Indonesia yang tidak memperhatikan infrastruktur negerinya. Oke, daripada mood saya keburu hilang, lebih baik saya curhat dulu tentang mengapa saya membenci pemerintah Indonesia.

Jadi ceritanya begini, hari ini salah seorang teman mengadakan buka puasa bersama di rumahnya. Saya dengan semangat membawa puding yang paling saya suka. Namanya puding tahu, dinamakan begitu karena teksturnya yang sehalus tahu jepang. Lalu apa hubungannya puding dengan infrastruktur? Nah, puding itu dibawa dengan sangat hati-hati dengan mobil saya. Saya sudah berusaha sesantai mungkin menyetir namun apa yang terjadi, hanya karena jalanan dari rumah saya ke rumah teman, puding saya itu retak-retak bagaikan habis diterpa gempa bumi berskala dahsyat.

Jalanannya begitu buruk!! For the love of God, apa yang dilakukan pemda sehingga jalanan pun tidak rata. Kalau pun anda-anda mengira kalau jalanan itu rata, gimana bisa puding saya nan indah bisa retak-retak. Sampai di jalan tol saya berharap kalau guncangan dapat di minimalisir, namun apa daya, jalan tol Indonesia hanya berlapis beton saja, tidak ada aspalnya. Maka jadilah guncangan itu tetap memperngaruhi puding saya. Dan saya paling benci dengan polisi tidur kecil yang muncul setiap kali sudah mendekati pintu tol. Oke, saya mengerti kalau itu gunanya untuk memperlambat laju kendaraan, tapi itu yang paling parah merusak puding saya.

Saya sakit hati kepada pemerintah karena puding saja. Ya kalau jalanan dijaga dan dipelihara dengan baik mah, nasib puding saya rasanya akan lebih baik walaupun mungkin masi tetap retak-retak. Oh jalanan Indonesia, nasibmu sungguh menyedihkan. Jalanan di desa masi berbatu layaknya sungai kering. Jalanan di kota besar sudah penuh dengan kendaraan pribadi. Jalan bebas hambatan sudah tidak lagi bebas hambatan tapi tetap saja yang memakainya dikenakan tarif yang katanya akan ada kenaikan lagi.

Ah sudahlah. Puding sudah hancur, mendingan langsung dimakan aja. Ga guna marah-marah seperti ini. Mari kita bahas film dan musik saja. Saya sedang tidak bernafsu untuk mencela-cela pemerintah. RUU Rahasia Negara sedang dibahas di DPR, jd drpd saya diculik mendingan diem dulu aja deh. Sstt.. jangan bilang siapa-siapa yaah.

Dialog absurd: Ternyata kolak ada bijinya.

Ada seorang teman yang pergi ke festival kue basah di kawasan senayan. Besoknya dia langsung cerita ke saya.

Teman: Eh, kemaren kue-kuenya lumayan banyak loh. Gue makan kue ranggi (maksudnya kue rangi)
Saya: kue rangi?
Teman: iyah, kue rangi. Terus kemaren pertama kalinya gue makan biji kolak.
Saya: Biji kolak? Biji salak kali.
Teman: Hah? Eh iya deng biji salak.
Saya: *ngakak*

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.